Benteng Pertahanan Si Spesial, Rekor Buruk di Stamford Bridge Hantui Manchester United

  • lae
  • 05 November 2017 | 09:01:05
  • 61 Kali Dilihat
Benteng Pertahanan Si Spesial, Rekor Buruk di Stamford Bridge Hantui Manchester United
Pelatih MU, Jose Mourinho

Beritaenam.com - Manajer Manchester United Jose Mourinho seolah tengah membangun benteng pertahanan akhir-akhir ini, terutama jelang “kepulangannya” ke Stamford Bridge. Duel kontra Chelsea, Minggu (5/11) ini, menjadi alat pertahanan terakhir Mourinho untuk menaikkan martabatnya.

Mourinho, manajer yang bergelimang prestasi, kini ibarat seorang pesakitan. Di tengah upaya pembelaan dirinya atas tuduhan mengemplang pajak di Spanyol, Mourinho terus diserang media Inggris akibat praktik sepak bola negatif (defensif) bersama Manchester United.

Meskipun memiliki sejumlah penyerang top dunia, seperti Romelu Lukaku dan Marcus Rashford, MU dan Mourinho tampil defensif saat melawan tim besar di Liga Inggris, seperti Liverpool dan Tottenham Hotspur.

Saat menghadapi Spurs di Old Trafford, akhir Oktober lalu, misalnya, Mourinho memainkan lima bek sekaligus.

MU tidak berani mengambil inisiatif serangan dan lebih menunggu lawannya melakukan kesalahan yang lantas berujung gol Anthony Martial pada menit-menit akhir laga itu.

“Praktik sepak bola pengecut ini bisa mempertegas reputasi buruk Mourinho tentang caranya meraih kemenangan,” tulis The Guardian tentang MU.

Namun, sekali lagi, Mourinho membela diri. Ia menilai, timnya tidak laik dikritik mengingat MU masih berada di peringkat kedua Liga Inggris dan belum sekali pun gagal meraih poin di Liga Champions musim ini.

“Tottenham mengalahkan Liverpool, 4-1, dan Real Madrid, 3-1. Lalu, Tottenham gagal membuat gol (MU menang 1-0) ke gawang kami. Jadi, setidaknya pemain saya patut mendapatkan pujian, bukan sebaliknya,” ujar Mourinho jelang menghadiri sidang kasus dugaan penggelapan pajak di Madrid, Jumat (3/11).

Mourinho bersikeras, masalah pajak yang membelitnya saat melatih Real Madrid itu tidak mengganggu persiapan timnya menghadapi Chelsea, klub yang juga pernah dilatihnya.

“Hanya sedikit perubahan waktu latihan karena saya tidak bisa mendampingi tim (Jumat) pagi. Laga ini (melawan Chelsea) sangat penting karena mereka juara bertahan dan kami adalah MU,” ujarnya kemudian.

Stamford Bridge telah menghadirkan banyak kisah manis untuk Mourinho ketika masih melatih tim itu. Namun, itu tidak berlaku sebaliknya. Dari dua kali kunjungannya ke stadion itu bersama MU, ia selalu pulang membawa malu.

Musim lalu, MU dibekap “The Blues” 1-0 di ajang Piala FA. Lalu, di ajang Liga Inggris, “Setan Merah” digilas tanpa ampun, 4-0, di Stamford Bridge.

Mourinho pun sampai membisikkan amarahnya dalam bahasa Portugis ke telinga Manajer Chelsea Antonio Conte saat itu. Ia menilai Conte sengaja mempermalukannya di hadapan ribuan fans mantan klubnya.

Mourinho berguru dari pengalaman buruk itu. Meladeni The Blues dengan permainan terbuka di kandangnya sama saja “bunuh diri”.

Untuk itu, Mourinho tidak akan malu untuk kembali menginstruksikan MU tampil defensif dan mencoba memanfaatkan kesalahan lawan, seperti saat melawan Spurs dan Liverpool.

Iain Macintosh, pandit Liga Inggris di ESPN, menilai, sah-sah saja jika Mourinho memilih pragmatis.

Ia bahkan menyamakan “Si Spesial”, julukan Mourinho, dengan Sun Tzu-jenderal ahli taktik perang China.

“Mourinho ada di Manchester untuk menang, bukan untuk bergaya. Itu (kemenangan) adalah hal terpenting bagi Sun Tzu, begitu juga Mourinho,” ungkap Macintosh.

Laga di Stamford Bridge ini menjadi kesempatan terbaik bagi Mourinho memukul Chelsea. Sang juara bertahan Liga Inggris tidak sebagus musim lalu.

Kurang mendalamnya skuad ditambah konsekuensi bermain di Liga Champions membuat kaki-kaki para pemain “The Blues” mudah lelah dan rentan cedera.

Mental dan energi mereka pun baru terkuras seusai dibekap AS Roma, 3-0, di Liga Champions, Rabu lalu.

 

.

Tag :
Follow Us :

BERITA TERBARU

  • ©2017 beritaenam.com

Portal Berita beritaenam.com