Hidup Terpuruk Enggak Membuat Semangat Jadi Redup, Nasib Manusia Kita Enggak Tahu

205

Beritaenam.com – Ketika saya memandang wajah-wajah polos anak-anak yatim ini, saya membayangkan diri saya 50 tahun lalu. Dulu saya persis seperti mereka. Wajah-wajah haus kasih sayang. Setiap kali saya bersentuhan dengan mereka, saya elus kepalanya, hati ini bergetar, karena ingat waktu kecil.

Dalam hati saya berdoa, terus memohon kepadaNya, ya Allah angkat derajad mereka. Lindungi mereka, beri ketabahan untuk menjalani hidupnya. Mereka anak-anak seperti saya juga. Kalau saya bisa seperti sekarang ini, kenapa mereka tidak!

Ya Allah maha pengasih tak pilih kasih. Mereka tidak pernah minta dilahirkan sebagai anak yatim piatu. Mereka tidak protes ketika orang tuanya Engkau ambil, ketika usianya masih kecil. Dan mereka tidak pernah iri, dengan kehidupan keluarga kebanyakan dengan balutan kasih sayang orang tua.

Tak terasa air mata saya mengalir. Saya membayangkan masa kecil saya, saya membayangkan kelak mereka ini seperti apa.

Saya itu cengeng. Maaf kadang untuk menutupi kecengengan, sering saya mondar mandir sambil motret, seperti pada kegiatan berbuka puasa bersama anak-anak yatim piatu, kemarin di rumah. Wajahnya cerah, ketika mereka menerima uluran tangan kita.

Tapi begitu beranjak pulang dan kembali bergelut dengan kehidupannya, kita hanya bisa mendoakan mereka.

Kamu anak-anak yang kuat nak. Saya dulu juga seperti kalian. Bahkan lebih susah hidupnya. Tapi percayalah, Allah punya rencana. Jadilah pribadi tangguh, tidak cengeng. Jangan jadi orang cemen, yang gampang menyerah. Karena masa depan kalian, ada di diri kalian, ketekunan kalian, kerja keras kalian, kejujuran kalian.

Sebelum pulang, anak-anak yatim dapat bingkisan dari Bapak H. Agi Sugiyanto 

 

Lima puluh tahun yang lalu saya ini bukan siapa-siapa. Saya hanya sebutir debu, yang kebawa “angin kehidupan”.

Saya ini lahir dari keluarga miskin. Dari kecil sudah ditinggal bapak dan mak, dalam kondisi kami masih kecil, adik saya bahkan masih di kandungan mak, ketika bapak meninggal. lalu mak saya menyusul selang beberapa tahun kemudian.

Makin terpuruk hidup kami. Saya bisa melanjutkan pendidikan SD dengan tertatih tatih, karena sambil mengembala kerbau milik nenek. Lulus sd ikut tetangga ke Jakarta, merantau menjadi kuli bangunan.

Singgah dari proyek bangunan ke proyek perumahan lainnya, tinggal di bedeng sempit, banyak nyamuk!

Dua tahun kemudian baru ada kesempatan melanjutkan sekolah, itu pun dijabani sambil ngenger jadi pembantu rumah tangga.

Lulus SMA kembali saya mengembara. Dengan modal ijazah SMA saya melamar kerja ke sana kemari. Sempat jadi sales, pindah pekerjaan jadi tenaga lepas. Susahnya cari pekerjaan tetap.

Saya ingat waktu SMA pernah nulis artikel tentang kegiatan sekolah, lalu saya kirim ke penerbitan dan dimuat, saya dapat honor.

Saya akhirnya menekuni dunia tulis menulis. Saya berkutat di perpustakaan, sesekali numpang baca di toko buku Gramedia atau Gunung Agung.

Sehari hari saya nulis intisari buku yang saya baca, dengan tulisan tangan, karena saya ngga punya mesin ketik. Hidup saya mengembara, numpang tinggal di rumah teman. Saya ngga punya saudara di jakarta.

Dari 4 tulisan yang saya kirimkan ke media, satu di muat. Lumayan dapat honor. Begitu cara saya menyambung hidup.

Sampai suatu saat saya ditawari kerja di sebuah penerbitan ternama. Alhamdulillah mulai tertata, punya pekerjaan, dapat gaji tetap, dan dikasih mess.

KH. Abubakar Madris sedang berikan Tausiyah kepada anak yatim

 

Dari sini kehidupan terus berproses. Sampai akhirnya saya keluar dari perusahaan yg sudah mapan, meninggalkan zona nyaman. Dan merintis usaha, menjadi seperti sekarang.

Hidup terpuruk, nggak membuat semangat menjadi redup. Nasib manusia kita ngga tahu. Semua sudah diatur, dan garis nasib itu ada di setiap tetesan keringat, kerja keras, kejujuran, keikhlasan dan selalu bersyukur atas apa yg Allah berikan.

Kita hanya bisa berikhtiar, biar Allah swt yang menentukan, yang mengatur mau dibawa kemana hidup ini. Kisah hidup dan perjuangan saya, mudah-mudahan menginspirasi anak-anak yatim dan kaum papa. Tiak ada yang takn mungkin, kalau Allah berkehendak.

#semangat
#Gembala_Kerbau_Taklukkan_Harimau.