Ini Pesan Menohok Ananda Sukarlan Buat Pendukung Anies Yang Menuduhnya Kristen

  • lae
  • 15 November 2017 | 12:07:46
  • 180 Kali Dilihat
Ini Pesan Menohok Ananda Sukarlan Buat Pendukung Anies Yang Menuduhnya Kristen
Ananda Sukarlan

Beritaenam.com, Jakarta - Senin 13 November 2017 dunia maya heboh dengan kabar pianis Ananda Sukarlan walk out saat Gubernur Anies Baswedan berpidato dalam acara peringatan 90 tahun Kolese Kanisius yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu 11 November 2017.

Kolese Kanisius merupakan Sekolah Menengah Atas yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam acara 90 tahun hari jadinya, Kolese Kanisius memberikan penghargaan kepada alumni yang dianggap membawa perubahan dan memiliki prestasi serta andil dalam karier yang mereka jalani.

Ananda, sebagaimana kita tahu, memiliki kiprah yang gemilang di dunia musik dalam skala internasional. Dia menjadi salah satu penerima penghargaan dalam acara itu.

Sikap Ananda yang memilih keluar saat Anies berpidato menuai polemik yang panjang. Dalam pidato penerimaan penghargaan, Ananda mengkritik penyelenggara.

“Justru kita di Kanisius itu menghargai perbedaan. Jadi bukan menggunakan perbedaan itu sebagai bahan memecah belah.”

“(Penyelenggara) Kita telah mengundang seseorang yang mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang berbeda integritas dan nilai-nilainya dengan cara-cara yang diajarkan oleh kita semua di Kanisius,” ungkap Ananda di atas podium.

Apa yang dilakukan Ananda itu atas keputusan pribadi. Dia tidak mewakili pihak manapun selain dirinya sendiri. Namun, hoax dan fitnah membumbui peristiwa ini.

Pada Selasa 14 November 2017, Ananda dihubungi via WhatsApp untuk meminta konfirmasi langsung soal apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada yang bilang saya teriak-teriak naik kursi, itu enggak benar. Kejadiannya, saya duduk di kursi VIP yang berada di bagian depan, (bangku) nomor dua dari depan, sedangkan pintu keluar ada di belakang. Jadi, kalau saya berdiri memang kelihatan. Saya berdiri dan walk out dengan sopan karena saya enggak mau mengganggu orang yang ingin mendengarkan pidato Pak Anies. Situasinya saya berdiri dan ke belakang seperti orang ingin ke toilet.”

“Setelah itu ada beberapa yang ikut keluar, tetapi bukan karena provokasi saya. Itu bukan (tindakan) komplotan, kami tidak keluar semua. Duduk saya terpisah dari teman-teman, karena saya duduk VIP untuk terima penghargaan. Saya enggak berkomplot dengan teman-teman. Itu peristiwa spontan. Itu benar-benar inisiatif saya, bukan dari siapa-siapa," jelas Ananda.

Melihat berbagai rumor yang beredar di jagat internet, Ananda menyayangkan warganet yang tidak mencerna informasi secara benar. Bahkan isu merembet ke persoalan lain, seputar agama dan politik.

“Ada sebuah website yang menulis saya itu Kristen. Tolong kalau mau fitnah riset dulu, Kanisius itu Katolik. Bukan Kristen. Saya sendiri Islam. Kalau mau memfitnah saya, lebih baik fitnah saya Katolik. Tolong jelaskan juga bahwa ini tidak ada kaitannya dengan (Kolese) Kanisius. Pidato saya justru mengkritik (Kolese) Kanisius. Pidato saya tidak mengkritik Anies Baswedan. Pidato saya mengkritik panitia acara. Pidato saya juga tidak teriak-teriak seperti Hitler. Buat saya (pidato) itu cukup santun."

Dalam obrolan singkat, Ananda juga menceritakan latar belakangnya yang tumbuh di lingkungan penuh keberagaman. Ananda belajar mengaji sewaktu kecil. Dia juga banyak membaca buku tentang agama lain. Termasuk memelajari ajaran Katolik, Hindu, dan Buddha.

“Bagi saya, apa yang baik saya terapkan,” kata Ananda.

“Jadi, saya eggak kepikiran antiagama apapun, termasuk agama saya sendiri. Ini bukan soal SARA dan politik. Untuk website yang fitnah saya Kristen, tolong fitnahannya diganti jadi Katolik, karena Anda ingin menyerang Kanisius. Tolong jangan disamakan antara Katolik dan Kristen,” lanjut Ananda.

Di akhir percakapan, Ananda menegaskan para penebar kebencian dan berita bohong hendaknya lebih “cerdas” dalam menebar isu.

“Mohon untuk memfitnah lebih baik lagi, Anda harus tahu bahwa Kolese Kanisius itu hanya untuk laki-laki. Jadi sebutan siswa-siswi sipit itu salah. Fitnah.”

Kolese Kanisius berdiri pada 1927. Dalam misi pendidikannya, sekolah ini melahirkan sejumlah tokoh berpengaruh, di antaranya Soe Hok Gie, Rhenald Khasali, Akbar Tanjung, Fauzi Bowo, Sofyan Wanandi, Peter Gontha, Ade Rai, dan Wimar Witoelar.

Sumber: metrotvnews.com

 

.

Tag :
Follow Us :

BERITA TERBARU

  • ©2017 beritaenam.com

Portal Berita beritaenam.com