Ketahanan Pangan Indonesia Semakin Mantap

  • lae
  • 14 Juli 2018 | 10:52:12
  • 140 Kali Dilihat
Ketahanan Pangan Indonesia Semakin Mantap
Jokowi dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

Beritaenam.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) RI meluruskan informasi yang menyebut ketahanan pangan Indonesia terancam.

Dalam pemberitaan Selasa (10/7), wartawan pada sejumlah media massa mengutip keterangan Ratno Soetjiptadie, seseorang yang disebut berafiliasi dengan Badan Pangan dan Pertanian Dunia - Food and Agriculture Organization (FAO).

Dalam narasi juga dituliskan kerusahan parah tahan di Indonesia akibat penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan, sehingga produktivitas beras terus menurun.

Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, Peneliti Utama, Kesuburan Tanah dan Biologi Tanah, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Kementerian Pertanian RI menyodorkan sejumlah data.

Produksi gabah Indonesia terus meningkat dalam 3 tahun terakhir (2014 - 2017). Dan pada tahun 2015 Indonesia surplus beras sekitar 10 juta ton.

“Kenaikan produksi gabah tidak terlepas dari adanya program upaya khusus (UPSUS) Padi, Jagung, Kedelai (Pajale) sejak tahun 2014 hingga kini,” ujar Nursyamsi.

Sementara penurunan produktivitas padi bukan disebabkan kerusakan tanah dan penggunaan pestisida berlebih. Melainkan adanya peningkatan luas tambah tanam padi di areal tanam baru yang produktivitasnya masih rendah.

“Meskipun produktivitas padi turun, tapi karena luas tanam dan panen meningkat tajam maka produksi gabah nasional tetap naik sejak tahun 2014 hingga kini,”jelasnya.

Kerusakan tanah juga hanya terjadi di lahan yang sebarannya tidak luas, yaitu yang digunakan secara intensif untuk komoditas sayuran.

Seperti di Puncak (Bogor), Lembang (Bandung), bukan di lahan sawah. Dan untuk memelihara kesuburan tanah, sejak 2014 Kementan RI mengembangkan berbagai program peningkatan kesuburan.

Di antaranya system of rice intensification (SRI), APPO, pemupukan berimbang (urea, NPK, pupuk organik, pupuk hayati), dan alsintan (traktor dan combine harvester).

Dalam beberapa tahun terakhir bantuan pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah juga meningkat tajam.

“Semua upaya-upaya di atas bertujuan meningkatkan produksi pangan. Hasilnya, tercapainya swasembada beras tahun 2015, bawang merah dan cabai tahun 2016, dan jagung tahun 2017, serta peningkatan produksi berbagai jenis komoditas pertanian lainnya. Peningkatan produksi pangan ini menjadikan ketahanan pangan Indonesia semakin mantap,” tegasnya.

Nama Dicatut FAO Siapkan Langkah Hukum

Sementara FAO perwakilan Indonesia menepis kabar yang menyebut ada pegawainya bernama Ratno Soetjiptadie.

Organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu bahkan berencana mengambil langkah hukum terkait pengakuan Ratno sebagai Senior Expatriate Tech-cooperation Aspac FAO.

National Communication Advisor FAO Indonesia Siska Widyawati menyatakan, tak ada kaitan sedikit pun antara lembaganya dengan Ratni.

"Saudara Ratno Soetjiptadie tidak memiliki afiliasi apa pun dengan FAO,” kata Siska dalam siaran persnya, Kamis (12/7).

Oleh karena itu, kata Siska, FAO menepis pemberitaan media yang menyebut Ratno Soetjiptadie sebagai bagian FAO Indonesia.

Nama Ratno muncul sebagai Senior Expatriate Tech-cooperation Aspac FAO yang menghadiri diskusi bertema “Produktivitas Padi Versus Impor Beras, Ada apa?” di kantor Kementerian Pertanian, Senin (9/7).

Namun, Siska memastikan Ratno bukan staf FAO perwakilan Indonesia.

"Pernyataan-pernyataan beliau tidak berhubungan dan tidak mewakili pandangan dari FAO," kata dia.

Selanjutnya, FAO akan menempuh jalur hukum atas pernyataan Retno tersebut. "FAO saat ini sedang merumuskan langkah hukum berkaitan dengan kasus ini," pungkas Siska. (*)

 

.

Tag :
Follow Us :





BERITA TERBARU

  • ©2018 beritaenam.com

Portal Berita beritaenam.com