Lahan Semakin Menipis, Hongkong Berencana Bangun Kota Bawah Tanah

  • lae
  • 17 Januari 2018 | 08:43:10
  • 43 Kali Dilihat
Lahan Semakin Menipis, Hongkong Berencana Bangun Kota Bawah Tanah
Kota Hongkong.

Beritaenam.com, Hongkong - Saat ini tercatat lebih dari 7 juta orang tinggal di wilayah otonomi Republik Rakyat China yakni Hongkong seluas 110.592 hektar.

Hongkong memiliki tipologi perbukitan yang curam, sehingga sulit dibangun gedung-gedung. Banyak gedung-gedung yang berdiri telah melampaui batasan ketinggian.

Sementara itu, harga perumahan mencapai rekor tertinggi musim ini yang hampir mencapai Rp 21 juta per meter persegi. Sedangkan rata-rata harganya per unit 1,8 juta dollar AS (Rp 24 miliar).

Berdasarkan hal tersebut, pemerintah setempat tengah mempertimbangkan rezonasi dan pembangunan di daerah pedesaan.

Selain itu, pemerintah juga mencari strategi jangka panjang untuk menciptakan lebih banyak lagi perumahan.

Menurut para insinyur geoteknik di Departemen Teknik Sipil dan Pengembangan Administratif Khusus Hongkong, jawabannya adalah ke bawah tanah seperti gua-gua yang baru dibangun.

"Semua lahan perkotaan di Hongkong sudah dibangun," kata kepala departemen teknisi geoteknikal Tony Ho.

Sejak awal tahun 1980-an, pemerintah Hongkong telah menggali gagasan untuk membangun gua, juga langsung ke daerah perbukitan. Pada 2017, pemerintah menyelesaikan sebuah studi kelayakan yang komprehensif.

Studi ini menunjukkan dengan jelas sebanyak 48 gua prospektif untuk pembangunan jangka panjang, dengan luas 1 sampai 13 kilometer persegi.

Sekarang, pemerintah tengah menyelesaikan enam studi lagi untuk mendorong proyek ini segera dimulai.

Pada International Tunneling Association's Award terdapat penghargaan dengan kategori Konsep Ruang Bawah Tanah Tahun 2017.

Bukan untuk membuat orang hidup seperti kelelawar di ruang gelap, tetapi untuk pengembangan tempat pengolahan limbah dan pengolahan air, pusat data, waduk, dan fasilitas penyimpanan.

Pemerintah juga mempertimbangkan pilihan lain seperti penyimpanan arsip, minyak atau gas, tempat parkir sepeda dan mobil, laboratorium, dan fasilitas olahraga.

Gua-gua itu juga bisa menampung makam, mortir, insinerator, krematorium, dan rumah pemotongan hewan.

"Apa yang kita pikirkan adalah, jika kita bisa menggunakan sumber daya ruang bawah tanah dengan baik, kita bisa mengubah hambatan menjadi sebuah peluang," kata Ho.

Menggunakan terowongan untuk menciptakan ruang ekstra sebenarnya bukanlah ide baru.

Hongkong sendiri telah memiliki beberapa fasilitas gua batu, termasuk sebuah waduk air asin untuk Universitas Hongkong seluas 4 hektar, pengolahan limbah yang selesai dibangun pada 1995, dan sebuah depot bahan peledak.

Sebuah fasilitas perpindahan sampah yang diperbarui pada tahun 2013 menandai proyek batu karang terbesar di kota sampai saat ini.

Namun, pekerjaan yang sedang berlangsung sekarang lebih megah, yaitu skema untuk mengatur ulang keseluruhan ruang publik di wilayah ini.

"Ketika kami mencoba merelokasi fasilitas di bawah tanah, ini memberi kesempatan untuk merancang ulang seluruh wilayah," kata Edward Lo, perencana kota utama yang bekerja sama dengan Departemen Perencanaan Hongkong.

Fungsi yang bergerak seperti parkir dan penyimpanan data di bawah bumi berarti membuat lahan dapat digunakan untuk perumahan atau bisnis.

Meski demikian, rencana besar ini tidak murah. Pemerintah Hongkong memperkirakan penggalian batu karang saja dapat berkisar antara Rp 89 juta sampai Rp 117,8 juta per meter kubik.

Total biaya konstruksi mungkin Rp 150 juta sampai Rp 214 juta per meter kubik. Satu garasi parkir 12 mobil yang sangat kecil bisa menghabiskan biaya 7,3 juta dollar (Rp 97 miliar).

"Terowongan akan memberi keuntungan terbesar. Biaya total siklus hidup dari struktur ini sangat menguntungkan bagi orang-orang yang berpikir jangka panjang," kata Thom Neff, seorang insinyur sipil yang telah membangun terowongan sepanjang karirnya dan sekarang menjalankan perusahaan konsultan OckhamKonsult.

Meskipun demikian, target waktu penyelesaiannya masih sangat kabur. Padahal, satu fasilitas limbah dan pengolahan telah berhasil melewati tahap perancangan, dengan konstruksi dimulai pada tahun ini atau awal tahun depan.

Sementara, proyek gua prospektif lainnya masih dipelajari. Jika disetujui, proyek-proyek ini akan didesain secara rinci dan kemudian dibangun.

"Prosesnya mungkin memakan waktu satu dekade," kata Mark Wallace dari firma teknik Arup, yang bekerja dengan Hongkong dalam proyek jangka panjang.

Sumber:kompas.com

 

.

Tag :
Follow Us :

BERITA TERBARU

  • ©2017 beritaenam.com

Portal Berita beritaenam.com