Para Seniman Lahirkan Deklarasi “Rumah Budaya Satu-Satu” Demi Menjawab Tantangan Global

  • 30 Oktober 2017 | 15:41:58
  • 170 Kali Dilihat
Para Seniman Lahirkan Deklarasi “Rumah Budaya Satu-Satu” Demi Menjawab Tantangan Global
Inilah perwakilan yang hadir dari 80 elemen masyarakat yang menandatangani Deklarasi "Rumah Budaya satu Satu". Foto: Imam Dzaki/FORWAN dan Agus Blues/FORWAN.

Beritaenam.com, Jakarta – Boleh jadi, Sabtu (28/10) malam lalu, menjadikan hari teristimewa bagi warga Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi, karena menjadi lokasi untuk menandatangani pernyataan sikap dengan mendeklaraskan “Rumah Budaya Satu Satu” (RBSS), dari ratusan seniman, budayawan, tokoh masyarakat, pejabat, birokrat dan wartawan.

 

Kemunculan RBSS, diharapkan dapat menjadi sarana penguatan; media penyangga, dan ekspresi budaya, yang dapat meningkatkan posisi tawar budaya Indonesia di tengah arus global.

Memperjuangkan hak hidup dan berkembangnya budaya Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur. Membangun budaya Indonesia menuju perubahan, pencerahan, berperikemanusiaan, penuh solidaritas, berkeadilan, yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal.

 

Demikian antara lain, isi butir-butir deklarasi RBSS, yang disampaikan bersamaan dengan acara peringatan Hari Sumpah Pemuda. Momentum tersebut, diharapkan dapat menjadi spirit menjaga Indonesia yang multikultural, memperkuat Nasionalisme, Persatuan, dan Kesatuan, serta menjadi bangsa kuat dan lebih beradab di dunia.

Malam itu, dihadiri sejumlah elemen masyarakat yang terdiri dari seniman, budayawan, tokoh masyarakat, pejabat, birokrat, wartawan dan para profesional, pendukung kebulatan tekad ini, antara lain, Anim Imamuddin, SE, MM (Anggota DPRD Kota Bekasi Komisi IV), Drs. Abi Hurairah M,Si (Camat Jatisampurna), Asep Muharam SE, (Lurah Jatisampurna), Drs. Suryandoro (Seniman Tradisi), Dedi Setiadi (Sutradara), Dorman Borisman (Aktor), Teddy Prangi (Aktor), Yati Surachman (Aktris), Erna Santoso (Aktris), Rendra Satria Agung (Produser), Bambang Oeban (Budayawan), Iwan Burnani (Seniman), Denny Kadarrusman (Pemerhati Anak), Jami Bin Samu Eket, Musodik Zuhri, Wahyu Winarso (tokoh masyarakat), Agus Blues Asianto, dan Amazon Dalimunthe (Wartawan).

 

“Kita adalah pelaku sejarah. Tugas kita membuat sejarah. Sejarah yang kita sematkan malam ini adalah kegelisahan kreatif. Kesadaran yang dapat menjadi spirit dalam memecahkan banyak hal. Menempatkan RBSS sebagai sarana berkumpul, mengeksplorasi dan mengimplementasikan gagasan. Benteng peradaban, paspor utama dalam tata pergaulan dan tegur-sapa global, dengan kesadaran; manusia yang satu, tinggal di bumi yang satu, dan Tuhan yang satu,” papar Eddie Karsito, inisiator berdirinya RBSS ini.

Selanjutnya Eddie Karsito menambahkan, kekuatan global bila tidak diantisipasi  dapat mengancam punahnya nilai-nilai lokal. “Kemajuan teknologi informasi menjadi babak baru bagi budaya masyarakat dunia. Dunia menjadi rumah global. Tak jarang menafikan batas-batas teritorial. Melahirkan penyeragaman budaya. Jika tidak dikawal bisa mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Eddie berssemangat.

 

Dalam Deklarasi RBSS diwarnai apresisasi pergelaran seni dan budaya. Menampilkan karya para seniman dari berbagai komunitas seni, antara lain; Sanggar Tari Rangga Binangkit dan Mekar Pasundan, pimpinan Jami Bin Samu Eket, pentas teater Kalamtara, Digital Teater Momong, dan OBH Akustik.

Tampil juga anggota Indo Pro Studio, Rumah Belajar Atap Puisi, seniman tradisi Ojosh dan Kang Entus, Teater Rumah Kantif SMK Nurul hikmah II, Citi' Group, SHC Studio, Dewi Nobita, Sekolah Bannan, musik dan tari, dari para pelajar dan mahasiswa, serta penampilan dua penyanyi Hip Hop, 2RT membawakan single hits mereka Jolaren (Jomblo Lama Tapi Keren).

 

Peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Deklarasi RBSS ini, juga diwarnai acara Lomba Mewarnai dan Lomba Kreasi Slime (Slime Competition), yang diikuti para pelajar TK dan SD. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada anak-anak sejak dini.

 

Selanjutnya digelar pameran sejumlah benda-benda sejarah dan budaya peninggalan masyarakat “Kampoeng Karanggaan.” Diantaranya; Gerabah (Keramik), Wajan memasak Dodol, dan Lumpang; alat menumbuk padi, usianya hampir 200 tahun. Menampilkan berbagai alat rumah tangga dari anyaman bambu yang sangat potensial pada masanya, termasuk menampilkan sepeda tua bernilai sejarah yang sudah berusia 47 tahun.

Tag :
Follow Us :

BERITA TERBARU

  • ©2017 beritaenam.com

Portal Berita beritaenam.com