Pulang Dari ‘Pengasingan’ di Turki, Wakil Presiden Afghanistan Lolos Dari Bom Maut

  • lae
  • 23 Juli 2018 | 08:10:36
  • 46 Kali Dilihat
Pulang Dari ‘Pengasingan’ di Turki, Wakil Presiden Afghanistan Lolos Dari Bom Maut
Jenderal Dostum disambut para pendukungnya dan sejumlah pejabat tinggi di bandar udara Kabul.

Beritaenam.com - Wakil Presiden Afghanistan Jenderal Abdul Rashid Dostum lolos dari serangan maut bom bunuh diri sekembalinya di Kabul setelah mengasingkan diri selama lebih dari satu tahun di Turki.

Setidaknya 14 belas orang meninggal dunia dan sekitar belasan lainnya mengalami luka dalam ledakan di depan pintu gerbang bandar udara Kabul, Minggu (22/07).

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas bom bunuh diri di ibu kota Afghanistan itu.

Wapres Afghanistan dituding lakukan serangan seks pada bekas Gubernur Jowzjan.

Konvoi Jenderal Dostum baru saja meninggalkan bandara ketika bom meledak dan ia kemudian menyapa para pendukung di kantornya. Ia tidak mengalami luka dan dibawa dengan kendaraan lapis baja.

Mantan gembong perang yang berpengaruh itu sebelumnya tinggal di Turki setelah meninggalkan Afghanistan di tengah tuduhan ia memerintahkan penyiksaan dan serangan seksual kepada seorang saingannya, Ahmad Eshchi.

Eshchi, sebelumnya sekutu Dostum, menceritakan ia mengalami pemukulan dan serangan seksual selama beberapa hari atas perintah Jenderal Dostum.

Dikatakannya wapres dan 10 laki-laki lainnya menyerangnya ketika ia dipaksa disekap di rumah Jenderal Dostum pada November 2016.

Namun Jenderal Dostum menegaskan tidak melakukan kesalahan. Menurutnya, Eshchi sejatinya ditahan oleh badan intelijen Afghanistan.

Seorang juru bicara mantan gembong perang tersebut mengatakan alasan wakil presiden pergi ke Turki adalah untuk kepentingan pengobatan.

Dilansir dari BBC indonesia, Jenderal Dostum adalah seorang mantan pemimpin adat suku Uzbek dan gembong perang yang dituding bertanggung jawab atas sejumlah kekejaman dalam perang saudara yang panjang di Afghanistan.

Ia lantas bergabung dalam pemerintahan bersatu Afghanistan pada tahun 2014 di bawah Presiden Ashraf Ghani.

Tag :
Follow Us :





BERITA TERBARU

  • ©2018 beritaenam.com

Portal Berita beritaenam.com