Tak Terima Anaknya Dapat Teguran, Residivis Pembunuhan Ini Aniaya Kepala Sekolah

  • lae
  • 15 Februari 2018 | 08:29:32
  • 77 Kali Dilihat
Tak Terima Anaknya Dapat Teguran, Residivis Pembunuhan Ini Aniaya Kepala Sekolah
Kepala Sekolah SMP 4 Lolak yang dianiaya orang tua murid.

Beritaenam.com, Manado - Penganiayaan terhadap guru kembali terjadi. Kali ini menimpa Kepala Sekolah (Kepsek) Menengah Pertama Negeri 4 di Labuan Uki Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara.

Kepsek yang menjadi korban penganiayaan wali murid itu bernama Astri Tampi berusia 57 tahun.

Ia mengalami luka di tangan, hidung patah, lebam di kepala terkena kaca, sakit di punggung, dan darahnya membasahi bagian depan seragam dinasnya.

Penganiayaan itu berawal dari isu alat tes kehamilan yang beredar di kalangan siswa. Astri coba menelusuri isu tersebut.

Selasa (13/2/2018), sejumlah siswa pun dipanggil, termasuk Putri, anak dari pelaku yang menganiaya Astri, berinisial DP (41) alias Meidy.

"Saya cari tahu siapa yang menyebarkan isu alat tes kehamilan beredar di sekolah. Semua datang kecuali Putri, kemudian dia saya tanyakan kenapa tidak datang, ia katakan sudah lapor ayahnya, saya lantas panggil ayahnya untuk cek kebenarannya," kata Kepsek Astri Tampi di RSUP Prof Dr RD Kandou, Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Rabu (14/2/2018).

"Tersangka datang di sekolah terlihat biasa dan ramah karena memberikan salam kepada guru-guru di sekolah," ucap Nursiah Saka, satu di antara guru SMP Negeri 4 Lolak didampingi beberapa guru, Rabu (14/2/2018).

Setelah itu, tersangka masuk ke ruangan kepsek untuk menandatangani surat pernyataan sebagai orangtua karena anaknya terduga mengunggah foto alat tes kehamilan yang seharusnya tidak menjadi perbincangan pada usia mereka.

Dalam ruangan kepsek, Selasa (13/2/2018) pukul 09.30 Wita itu, hanya ada mereka berdua, sementara anak tersangka dan beberapa guru sedang berada di ruang guru.

Mereka duduk saling berhadapan yang di tengahnya terdapat meja kaca.

"Saya katakan padanya, siswa lain yang sudah memenuhi panggilan telah membuat surat pernyataan, sedangkan Putri belum membuat surat karena tidak memenuhi panggilan," kata Astri Tampi di rumah sakit.

Meidy pun emosi karena berasumsi sang anak juga akan disuruh buat surat pernyataan. Meidy mengancam, lantas menendang meja kaca di depannya.

"Meja itu kemudian dipukulkan pada saya, saya jatuh, ia kemudian kembali memukuli saya dengan kaki meja. Saya kira saya akan mati karena ia membabi buta menghantam saya. Mungkin kalau tidak dilerai guru lainnya saya sudah mati," kata Astri Tampi .

Dari lanjutan cerita Nursiah Saka, selang beberapa saat, kurang lebih pukul 10.00 Wita jam istirahat, maka terdengarlah suara pertengkaran dan pecah kaca di ruangan kepsek.

Saat itu juga, anak tersangka, Putri, yang duduk di bangku kelas II SMP berjenis kelamin perempuan itu langsung berusaha melerai ayahnya dan memeluknya untuk tidak melakukan pemukulan terhadap kepsek.

"Saat kami masuk ruangan, kepsek sudah terluka dan berdarah sehingga saya tidak bisa menggambarkan kejadian saat itu," ungkap Nursiah Saka.

Setelah berhasil dilerai, Meidy lalu pergi, kepsek pun duduk. Meja berbahan kaca serta besi itu pun masih dalam ruangan itu tak lagi memiliki kaca. Taplak serta penghias meja berjatuhan di lantai.

Seorang lainnya dalam ruangan mengambil gambar mengabadikan peristiwa itu. Foto-foto itu kemudian diunggah ke grup Facebook MANGUNI TEAM123 / Tetengkoren Berguna melalui akun @Alfred Bustian Kaemba.

Menurut penuturan Alfred Baustian dalam unggahannya, kepsek dipukuli menggunakan meja kaca, dan kaki meja.

Peristiwa tersebut berawal dari teguran oleh kepsek ke siswanya, lalu menyuruh sang siswa membuat surat pernyataan.

Dalam keterangannya ia menuliskan:
"kembali lagi terjadi penganiayaan terhadap guru oleh wali murid,
kepala sekolah smp 4 lolak di aniaya oleh orang tua murid
kejadian tadi pagi jam 10 pagi,
kepala sekolah dipukul pke meja kaca, dan kaki meja,,,hanya krna kepala sekolah menegur siswa dan menyuruh buat surat pernyataan atas kenakalan yg dilakukan siswa tersebut.
sangat dj sayangkan."

Sontak postingan ini langsung menarik perhatian warganet Sulawesi Utara. Saat ini, postingan itu telah dibagikan sebanyak 119.592 kali, mendapat 36 ribu tanggapan, 4.400 komentar.

Joni Sengkey, suami Astri Tampi, masih tidak memahami kekerasan yang dilakukan terhadap istrinya.

"Ini masalah sepele, tapi dia sepertinya hendak membunuh istri saya," kata dia.

Menurut Joni, keluarganya tergolong dekat dengan Meidy. Bahkan Meidy beberapa kali meminjam uang pada istrinya.

"Jarak rumah kami sekira 300 meter. Dia juga sering minta tolong pada saya," kata dia yang berprofesi sebagai Sangadi Desa Labuan Uki.

Kata Joni, Meidy dikenal sebagai residivis kasus pembunuhan. Namun Meidy sudah memperlihatkan perubahan sikap.

"Ia rajin masuk gereja, istrinya pun majelis," kata dia.

Satu hal yang masuk akal bagi Joni dari semua tindakan Meidy, adalah sang istri beberapa kali menyita ponsel anak Meidy.

"Di dalamnya ada tontonan porno," beber dia.

Joni meminta aparat hukum menghukum Meidy seberat beratnya.

"Mudah-mudahan istri saya yang terakhir, jangan ada lagi guru yang jadi korban," kata dia.

Sumber:tribunnews.com

 

.

 

Tag :
Follow Us :





BERITA TERBARU

  • ©2018 beritaenam.com

Portal Berita beritaenam.com