Waspada Kanker Paru, Penyakit yang Merenggut Nyawa Istri Indro Warkop

31
Indro Warkop dan istrinya.

Beritaenam.com, Jakarta – Kabar duka datang dari keluarga aktor senior Indro Warkop. Istri Indro, Nita Octobijanthy meninggal dunia pada Selasa malam 9 Oktober 2018.

Seperti diketahui, Nita Octobijanthy meninggal usai berjuang melawan penyakit kanker paru stadium empat. Dia divonis sejak Agustus tahun lalu.

“Iya betul (meninggal),” kata Indro di awal pembicaraan.

Kanker paru adalah penyakit dengan angka kematian tertinggi, yaitu 1.59 juta pada tahun 2012, menurut World Health Organization (WHO).

Dalam Riset Cancer Today – Globocan 14 persen kasus baru terjadi pada kanker paru di 2018 yakni sebanyak 22.440 kasus pada pria, kanker kolorektal menempati urutan berikutnya dengan 11,9 persen atau 19.113 kasus.

Sedangkan untuk perempuan, kanker payudara paling tinggi 30,9 persen atau 58.256 kasus. Kanker leher rahim (serviks) menyumbang 17,2 persen atau 32.469 kasus.

Disebutkan salah satu penyebab angka kematian yang tinggi adalah akibat sulitnya mendiagnosis kanker paru secara dini.

Sekitar 40% orang yang didiagnosis kanker paru, baru menerima diagnosis setelah penyakit telah berkembang. Dari 1/3 diagnosis, kanker telah mencapai stadium 3.

Kanker paru merupakan jenis kanker yang biasanya menyerang saat berusia 40-an ke atas. Tapi akhir-akhir ini, tren pengidap kanker paru telah bergeser ke dewasa muda.

Padahal, untuk menjadi kanker, sel normal perlu mengalami sederet tahapan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya.

Dokter spesialis paru (konsultan) dr. Elisna Syahruddin, SpP(K) dari RSUP Persahabatan, mengatakan, pengidap kanker paru disebabkan oleh multi faktor dan tak selalu harus perokok aktif.

Perokok pasif yang selama ini menjadi korban paparan asap rokok juga berisiko kanker paru.

“Penyebabnya bisa karena dia sebagai perokok pasif yang terpapar asap rokok langsung atau third hand smoke, dimana tidak terpapar asap langsung tapi melalui baju atau tembok yang sering terpapar asap rokok,” ujarnya kepada Suara.com beberapa waktu lalu.

Elisna menambahkan, seringkali banyak perokok aktif yang tak sadar bahwa bahan pencetus kanker yang terdapat dalam rokok yang diisapnya setiap hari bisa menempel di mana-mana, seperti pakaian, sofa, tembok atau bahkan tubuhnya sendiri.

“Meski ia sedang tidak merokok, bahan karsinogenik ini berpotensi dihirup orang di sekitarnya termasuk sang anak, meski anak tidak terpapar asap rokok secara langsung. Jadi, memang sebaiknya jangan merokok, karena bahaya buat anaknya juga dalam jangka panjang,” imbuhnya, seperti dikutip dari suara.com

Untuk itu ketika bertemu pasien kanker paru berusia muda, Elisna akan terlebih dulu memastikan faktor risiko yang dijalani pasien seperti kebiasaan merokok, ada tidaknya riwayat keluarga yang merokok, riwayat menderita tuberkulosis, atau ada tidaknya riwayat keluarga yang mengidap kanker paru.

“Karena kanker nggak ujug-ujug langsung datang. Ada tahap-tahapnya yang butuh waktu lama bagi sel normal untuk bermutasi menjadi sel kanker,” pungkasnya.