Site icon Beritaenam.com

Antrean BBM Mengular di Sumut, Aceh, dan Babel: Warga Antre 6 Jam, Penjelasan Resmi Saling Berbeda

antrean BBM

Antrean BBM mengular di sejumlah wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Kepulauan Bangka Belitung dalam sepekan terakhir, memaksa warga menunggu hingga enam jam demi mendapatkan Pertalite dan solar. Kondisi paling parah terjadi di Kota Medan dan sekitarnya, dengan sejumlah SPBU kehabisan stok Pertalite sejak pagi.

Sebaran Wilayah Terdampak Antrean BBM

Yang menjadi sorotan, penjelasan resmi dari berbagai pihak justru saling berbeda. Gubernur Sumatera Utara menyebut penyebabnya adalah pemberhentian massal sopir mobil tangki, sementara Pertamina mengaitkannya dengan lonjakan konsumsi pascalibur sekolah. Konteks harga bahan bakar dilaporkan pada artikel harga BBM Pertamina hari ini.

Di Sumatera Utara, antrean panjang terpantau di SPBU Jalan Williem Iskandar, Lau Dendang, Simpang Selayang, Cemara Asri, Simpang Krakatau, hingga Jalan Aksara di Medan. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Binjai, dengan ratusan warga mengantre di SPBU Jalan Soekarno Hatta, Binjai Timur.

Di Aceh, antrean BBM berlangsung sepekan terakhir di Kota Lhokseumawe. Barisan kendaraan membentang hingga dua kilometer dan memakan setengah badan jalan di SPBU Kuta Blang, SPBU Cunda, dan SPBU Blang Payang. Kelangkaan Pertalite juga dilaporkan terjadi di Aceh Utara dan Aceh Tamiang.

Sementara di Kepulauan Bangka Belitung, antrean memadati hampir seluruh SPBU di Kota Pangkalpinang, termasuk SPBU Kampung Opas dan SPBU Semabung. Barisan kendaraan meluber hingga badan jalan. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Belitung Timur, Bangka Barat, dan Bangka Tengah.

Bobby Nasution: Bukan BBM yang Langka, tapi Sopirnya

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan antrean BBM di wilayahnya bukan disebabkan kelangkaan stok. Berdasarkan hasil koordinasinya dengan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, persoalan terletak pada distribusi dari terminal menuju SPBU.

Menurut Bobby, terjadi pemberhentian massal terhadap pengemudi mobil tangki sehingga truk pengangkut tidak dapat beroperasi. Ia memastikan stok di Terminal BBM Jalan Komodor Laut Yos Sudarso, Labuhan Deli, Medan, masih dalam kondisi aman dan mencukupi.

Bobby tidak menjelaskan penyebab pemberhentian massal tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan persoalan internal Pertamina. Namun ia menegaskan agar masalah internal perusahaan tidak sampai mengganggu kehidupan masyarakat, dan meminta persoalan diselesaikan dalam dua hari.

Pertamina Minta Maaf, Sebut Lonjakan Pascalibur Sekolah

Berbeda dengan penjelasan Gubernur, Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengaitkan antrean BBM dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat setelah masa libur sekolah berakhir.

Menurut Fahrougi, peningkatan konsumsi tersebut membutuhkan penyesuaian kapasitas angkutan dan ritase mobil tangki agar distribusi ke SPBU dapat kembali mengimbangi kebutuhan. Ia memastikan stok di Fuel Terminal Medan Group masih terjaga. Rincian penyaluran dilaporkan Pertamina.

Untuk wilayah Aceh, Pertamina menyebut telah meningkatkan penyaluran Biosolar sekitar 10 persen pada periode Juli. Sementara di Bangka Belitung, Pertamina menambah pasokan Pertalite sekitar 7 hingga 8 persen serta cadangan sekitar 11 persen dari rata-rata konsumsi harian.

Versi Babel: Penyalahgunaan Subsidi dan Peralihan ke Pertalite

Di Bangka Belitung, Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Kepulauan Bangka Belitung Satriyo Wibowo Wicaksono memberikan penjelasan berbeda lagi. Dalam rapat di DPRD Babel, ia menyebut antrean dipicu praktik pengisian berulang atau pengerit, penyalahgunaan QR Code subsidi, hingga penggunaan nomor polisi palsu.

Satriyo memastikan stok BBM di terminal Bangka Belitung aman hingga tujuh hari ke depan. Pertamina juga telah berkoordinasi dengan Polda Kepulauan Bangka Belitung untuk mengamankan area SPBU dan menindak spekulan BBM ilegal. Wali Kota Pangkalpinang Saparudin menilai antrean dipicu perubahan pola konsumsi masyarakat akibat selisih harga yang cukup jauh antara Pertamax dan Pertalite.

Konteks ini penting. Harga Pertamax melonjak drastis pada 10 Juni 2026 dan kini dibanderol Rp16.250 per liter di Jawa dan Bali, sementara Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Konsumsi Pertalite di Bangka Belitung hingga Juni 2026 tercatat telah mencapai 101 persen dari target year to date. Berita ekonomi lain di kanal Ekonomi BeritaEnam.

Warga Tak Percaya Klaim Stok Aman soal Antrean BBM

Klaim resmi bahwa stok aman tidak sejalan dengan pengalaman warga di lapangan. Ketua Umum komunitas ojek online Unit Reaksi Cepat Pangkalpinang Revi Setiawan menilai penjelasan Pertamina tidak sesuai kondisi nyata, dan menyebut pengendara beralih ke Pertalite karena Pertamax kini mahal.

Seorang sopir truk di Pangkalpinang mengeluhkan meski sudah memiliki barcode, ia tetap harus mengantre berjam-jam sejak pagi untuk mendapatkan biosolar. Di Lhokseumawe, pengendara ojek online Ramadhan mengaku beberapa kali tidak dapat mencari penumpang selama sepekan karena tidak kebagian Pertalite.

Di Medan, Rudi (45) yang bekerja di sebuah rumah sakit mengantre satu jam di SPBU Simpang Selayang. Banyak warga mengaku setelah menunggu satu hingga dua jam, mereka justru gagal mendapatkan BBM karena stok keburu habis.

Dampak Ekonomi: UMKM Merugi hingga Ancaman Inflasi

Antrean BBM tidak hanya menyulitkan pengendara. Giovani, pemilik Toko Bakery Gio di Jalan Aksara Medan, mengaku omzetnya turun hingga 20 persen karena antrean kendaraan menutup akses keluar masuk toko. Ia bahkan memasang papan imbauan agar antrean menyisakan ruang bagi pelanggan.

Ketua Umum Kadin Sumut Firsal Dida Mutyara memperingatkan gangguan pasokan BBM berpotensi menimbulkan dampak sistemik. Menurutnya, keterlambatan pengiriman dapat memengaruhi ketersediaan barang di pasar, dan kenaikan biaya distribusi berpotensi dibebankan kepada konsumen melalui harga jual yang lebih tinggi.

Di Belitung, kondisi ini telah berimbas pada lonjakan harga di tingkat pengecer. Harga Pertalite di kios-kios kecil dilaporkan menembus Rp13.000 per liter, jauh di atas harga resmi Rp10.000 per liter.

TNI-Polri Turun Jadi Sopir Tangki

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berkoordinasi dengan Pertamina, TNI, dan Polri untuk menyiapkan pengemudi sementara. Kodam I Bukit Barisan telah menurunkan 18 prajurit TNI untuk menjadi sopir truk tangki BBM di Sumatera Utara.

Personel TNI dan Polri tidak hanya mengemudikan mobil tangki, tetapi juga membantu pengamanan selama distribusi dari terminal menuju SPBU. Langkah ini bersifat sementara sampai proses perekrutan pengemudi baru oleh Pertamina selesai. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Sumatera Utara Dedi Jaminsyah menyebut Pemprov akan melakukan inspeksi mendadak apabila antrean tidak teratasi dalam satu hingga dua hari.

Ombudsman dan DPRD Turun Tangan Atasi Antrean BBM

Ombudsman Perwakilan Sumatera Utara menyatakan kebanjiran laporan masyarakat terkait antrean BBM. Kepala Perwakilan Ombudsman Sumut Herdensi menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya gangguan pada aspek pelayanan yang perlu segera ditangani.

Ombudsman mendesak Pertamina lebih terbuka dengan menyampaikan informasi yang jelas, akurat, dan rutin kepada publik mengenai penyebab gangguan, wilayah terdampak, dan perkiraan pemulihan. Di Bangka Belitung, Ketua DPRD Didit Srigusjaya mengaku telah meninjau langsung kondisi SPBU dan menemukan antrean hingga dua jam.

Hingga Kamis 16 Juli 2026, antrean BBM di sejumlah wilayah dilaporkan masih berlangsung. Publik menanti kejelasan penyebab sebenarnya di tengah penjelasan resmi yang hingga kini masih saling berbeda.

Exit mobile version