Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) siap masuk pasar saham domestik saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan, asalkan valuasinya menarik. Danantara masuk pasar saham bukan untuk menstabilkan pasar.
Syarat Danantara Masuk Pasar Saham
Pernyataan itu disampaikan Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management Rani Piputri kepada Reuters, menurut Warta Ekonomi pada Jumat, 9 Oktober 2026. CNN Indonesia memberitakannya pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Reuters menyusun laporan itu dari wawancara terpisah dengan sejumlah petinggi Danantara. Danantara diluncurkan pada awal 2025, bertanggung jawab langsung kepada Presiden Prabowo Subianto, dan mengelola sekitar 900 miliar dolar AS aset negara di sekitar 1.000 perusahaan. Lembaga ini sebelumnya melepas lebih dari 100 BUMN non-core ke swasta.
Rani menyebut keputusan Danantara masuk pasar saham masih memerlukan uji tuntas. Pembelian dilakukan jika valuasi saham dinilai memberikan nilai.
Menurut Reuters, Rani menyebut Danantara masuk pasar saham saat krisis jika aksi jual dinilai didorong sentimen eksternal yang bersifat sementara dan pembelian dinilai menguntungkan.
“Kami mungkin akan masuk. Kami mungkin melakukannya, tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan.” — Rani Piputri, Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management
“Kami membeli karena melihat adanya nilai. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar.” — Rani Piputri, Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management
Danantara juga berpeluang masuk jika MSCI menurunkan status pasar Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, menurut Warta Ekonomi. Hasil evaluasi klasifikasi pasar MSCI akan diumumkan bulan depan.
Sudah Tanam US$3 Miliar, Siapkan Tambahan US$1 Miliar
Unit investasi publik Danantara telah menempatkan sekitar 3 miliar dolar AS di instrumen saham dan obligasi, di dalam maupun luar negeri. Unit itu berencana menambah hingga 1 miliar dolar AS sampai akhir 2026, bergantung pada kondisi pasar.
Reuters menggunakan kurs Rp17.878 per dolar AS dalam laporannya. Dengan kurs itu, rencana tambahan investasi 1 miliar dolar AS setara sekitar Rp17,9 triliun.
Dana itu ditanamkan secara bertahap sejak akhir 2025 hingga periode aksi jual besar setelah peringatan MSCI, menurut Reuters.
Sekitar 65 persen dana ditempatkan di saham, 30 persen di pendapatan tetap, dan 5 persen di hedge fund. Seperempat portofolio dialokasikan ke pasar keuangan Indonesia, menurut Warta Ekonomi.
Danantara menargetkan imbal hasil 200 hingga 300 basis poin di atas biaya modal. Biaya modal itu tercatat 5,35 persen berdasarkan obligasi dolar AS bertenor lima tahun pada Juni, menurut CNN Indonesia.
Danantara juga mulai melirik sektor kecerdasan buatan (AI) secara hati-hati. Rani menyatakan Danantara tidak menganggap AI sebagai gelembung.
Rani menyebut Danantara bersikap hati-hati karena merasa cukup terlambat masuk ke sektor AI, menurut Reuters. Ia juga menilai perbincangan investor soal gelembung justru membantu menjaga pasar tetap terkendali.
Pengalaman Januari 2026 dan Kondisi IHSG Terkini
Danantara masuk pasar saham bukan hal baru. Pada Januari 2026, pasar sempat tertekan setelah MSCI memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia, dan Danantara tetap membeli saham saat itu, menurut Warta Ekonomi.
Dalam sepekan terakhir, IHSG bergerak fluktuatif. IHSG anjlok 1,88 persen ke level 6.031,28 pada Kamis, 8 Oktober 2026, lalu ditutup menguat 1,04 persen ke 6.093,76 pada Jumat, 9 Oktober 2026, menurut Infobanknews. Fluktuasi ini melanjutkan dinamika pasar yang sempat menempatkan saham GOTO sebagai yang teraktif di BEI.
Reuters mencatat pasar saham Indonesia menjadi yang berkinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini. Penurunan status oleh MSCI dikhawatirkan memicu aksi jual lanjutan.
Managing Director Global Relations and Communications Danantara Indonesia Pahala Mansury menegaskan Danantara tidak memiliki peran eksplisit untuk menstabilkan pasar, menurut Reuters. Ia menyatakan pembelian saham oleh Danantara diharapkan tidak dipandang investor asing sebagai intervensi pasar.
Pahala juga menyebut dividen BUMN sebesar Rp120 triliun, atau sekitar 6,7 miliar dolar AS, berpotensi tetap dikelola Danantara. Menteri Keuangan sebelumnya menyebut dividen itu akan dibayarkan kepada pemerintah tahun ini, dan keputusan finalnya masih dibahas dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
“Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan yang baru, Suahasil.” — Pahala Mansury, Managing Director Global Relations and Communications Danantara Indonesia
Hingga Sabtu, 10 Oktober 2026, Danantara belum menyebut nilai maupun daftar saham yang akan dibeli. Rencana Danantara masuk pasar saham tetap bergantung pada valuasi dan hasil uji tuntas. Simak liputan ekonomi lainnya.

