Site icon Beritaenam.com

Gelombang Panas Eropa Memburuk, Rumah Sakit Prancis Kesulitan Pasokan Es Batu

gelombang panas Eropa

Gelombang panas Eropa yang melanda sejak akhir Juni 2026 memburuk dan menekan sistem kesehatan. Sejumlah rumah sakit di wilayah Paris, Prancis, dilaporkan kekurangan es batu untuk menurunkan suhu tubuh pasien yang terkena serangan panas.

Rumah Sakit Prancis di Tengah Gelombang Panas Eropa

Di Rumah Sakit Paris-Saclay, tenaga medis kesulitan memperoleh pasokan es dalam jumlah besar. Karena tidak memiliki mesin pembuat es, pihak rumah sakit sempat memperoleh pasokan dari supermarket dan restoran cepat saji sebelum akhirnya memesan mesin es.

“Kami mengira bahwa kami siap, tetapi kami tidak terlalu siap.”

Cédric Lussiez, Direktur Rumah Sakit Paris-Saclay

Menurut Lussiez, lonjakan pasien sepanjang pekan lalu memaksa staf bekerja hampir sepanjang waktu untuk mencari solusi cepat. Ia menyebut pengalaman itu sebagai pelajaran penting untuk menghadapi musim panas berikutnya.

Respons Pemerintah: Dana 100 Juta Euro

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengumumkan alokasi dana sebesar 100 juta euro atau sekitar 114 juta dolar Amerika Serikat. Anggaran itu digunakan untuk meningkatkan sistem pendingin di rumah sakit dan memperkuat fasilitas kesehatan menghadapi suhu ekstrem.

Pemerintah juga berencana mendistribusikan puluhan ribu unit pendingin udara ke berbagai fasilitas kesehatan. Rumah sakit menyiapkan ruang pendingin di tiap lantai serta memindahkan unit perawatan lansia ke gedung dengan sistem pendingin yang lebih baik.

Korban Jiwa dan Peringatan WHO

Prancis menjadi negara paling terdampak. Otoritas kesehatan setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih dalam beberapa hari pada puncak gelombang panas, dengan mayoritas korban berusia di atas 65 tahun.

Pada puncaknya, jumlah kematian harian di Prancis dilaporkan melampaui 1.200 kasus dan naik menjadi lebih dari 1.400 pada hari-hari berikutnya. Suhu di banyak wilayah menembus 40 derajat Celsius, sementara Jerman mencatat rekor nasional sekitar 41,7 derajat Celsius.

Fenomena ini turut memaksa penutupan sekolah, gangguan transportasi, hingga pengurangan kapasitas reaktor nuklir di Prancis. Panas ekstrem yang dimulai sekitar 20 Juni itu juga menerpa wilayah lain seperti Inggris Raya, Spanyol, dan sejumlah negara Eropa Tengah.

“Setiap musim panas yang gagal kita persiapkan akan dibayar dengan nyawa manusia.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Para ilmuwan mengaitkan gelombang panas Eropa dengan fenomena kubah panas atau heat dome, yakni sistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas di satu wilayah dalam waktu lama. Kondisi itu membuat suhu bertahan tinggi hingga malam hari dan menyulitkan tubuh untuk mendingin.

Sejumlah studi atribusi iklim menyebut perubahan iklim membuat gelombang panas Eropa cenderung lebih sering, lebih panjang, dan lebih intens dibanding beberapa dekade lalu. Suhu ekstrem yang dahulu tergolong langka kini muncul lebih rutin setiap musim panas.

Dampak gelombang panas Eropa tidak berhenti pada sektor kesehatan. Ekonom ING, Carsten Brzeski, menilai suhu ekstrem berpotensi menekan produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi, terutama pada sektor luar ruang seperti konstruksi dan pertanian.

Krisis pasokan es batu di rumah sakit Prancis menjadi salah satu gambaran paling nyata tekanan gelombang panas Eropa terhadap layanan darurat. Es batu dibutuhkan untuk menurunkan suhu tubuh pasien yang mengalami serangan panas sebelum penanganan medis lanjutan diberikan.

Selain Prancis, sejumlah negara seperti Spanyol, Inggris Raya, dan kawasan Eropa Tengah turut merasakan dampak suhu ekstrem. Otoritas di berbagai wilayah mengeluarkan peringatan kesehatan dan mengimbau warga membatasi aktivitas di luar ruang pada siang hari, sekaligus menyiapkan ruang pendingin publik bagi kelompok rentan.

Rekor suhu nasional yang dilaporkan di beberapa negara memperlihatkan intensitas gelombang panas Eropa kali ini. Kombinasi suhu tinggi pada siang hari dan malam yang tetap hangat memperbesar risiko kesehatan, khususnya bagi kelompok lanjut usia dan penderita penyakit kronis.

WHO menegaskan Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, dengan sekitar 150 juta orang hidup di bawah ancaman panas ekstrem. Krisis pasokan es di rumah sakit menjadi gambaran nyata bagaimana gelombang panas Eropa menekan kesiapan layanan kesehatan, sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat mitigasi menghadapi musim panas mendatang.

Sumber: kompas.tv | liputan6.com

Exit mobile version