Harga minyak turun hampir tiga persen pada perdagangan Jumat (12/6/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesepakatan damai dengan Iran hampir final. Pernyataan Trump sekaligus membangkitkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling strategis di dunia yang telah terblokade selama berbulan-bulan. Sentimen positif ini mendorong reli bursa saham Asia pagi ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 93,32 poin atau 1,59 persen ke level 5.979 pada perdagangan Jumat pagi.
Harga Minyak Turun, Wall Street Melesat Semalam
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun signifikan setelah pernyataan Trump. Sehari sebelumnya, harga WTI ditutup naik 2,07 persen ke level 90,03 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent menguat 1,8 persen ke 93,10 dolar AS per barel akibat ancaman Trump untuk menyerang Iran.
Namun pada perdagangan Jumat, sinyal damai Trump membalikkan tren tersebut. Indeks S&P 500 di Wall Street melesat 1,8 persen semalam, sementara Nasdaq 100 melonjak 3,3 persen. Indeks Semikonduktor Philadelphia bahkan meroket hampir 8 persen, memimpin penguatan di sektor teknologi.
“Bursa saham di Asia bersiap bergerak menguat pada perdagangan hari Jumat, mengekor reli yang terjadi di Wall Street setelah Trump menyatakan AS kian dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.” – Bloomberg Technoz, 12 Juni 2026
Selat Hormuz: Kunci Pasokan Minyak Dunia
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran tersempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Dalam kondisi normal, jalur ini dilalui sekitar 130 kapal tanker per hari dan menjadi jalur distribusi seperlima dari total pasokan minyak mentah serta gas alam cair dunia.
Sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, Iran memasang ranjau dan memblokade jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar 30 persen sejak awal konflik. Kontrak berjangka Brent sempat menyentuh di atas 108 dolar AS per barel pada pertengahan Mei 2026.
JPMorgan memperkirakan jika Selat Hormuz dibuka, harga minyak Brent akan rata-rata berada di kisaran 97 dolar AS per barel sepanjang sisa tahun 2026.
Negosiasi Panjang AS-Iran
Sejak konflik dimulai, Trump telah berulang kali memberikan sinyal optimistis soal kesepakatan damai dengan Iran, namun negosiasi kerap mengalami kebuntuan. Pada 25 Mei 2026, Trump menulis di media sosial Truth Social bahwa kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan dan masih menunggu finalisasi antara AS, Iran, dan berbagai negara lain.
Pada 11 Juni 2026, Trump kembali mengancam akan menyerang Iran dengan sangat keras jika kesepakatan damai tidak tercapai. Ancaman tersebut sempat mendorong kenaikan harga minyak sesaat, namun situasi berbalik setelah Trump mengklaim kemajuan dalam negosiasi.
“Harapan akan tercapainya kesepakatan telah membuat harga minyak berada di bawah tekanan. Kini pasar menunggu langkah berikutnya yang akan diambil Presiden Trump.” – Analis UBS, dikutip Kontan, Juni 2026
Dampak bagi Ekonomi Indonesia
Penurunan harga minyak dunia menjadi kabar baik bagi Indonesia. Pemerintah telah memberlakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi Pertamax sejak 10 Juni 2026 yang turut memicu protes mahasiswa hari ini. Jika harga minyak global terus turun seiring perkembangan damai AS-Iran, pemerintah berpotensi melakukan penyesuaian harga BBM lebih lanjut.
Cadangan devisa Indonesia tercatat turun ke level 144,9 miliar dolar AS pada Mei 2026. Penurunan harga minyak global yang berlanjut diperkirakan membantu menekan tekanan inflasi dan memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

