IHSG anjlok tajam pada pembukaan perdagangan Senin, 8 Juni 2026, turun 108,46 poin atau 1,94 persen ke level 5.486,31, sementara rupiah melemah menembus Rp18.107 per dolar AS di tengah tekanan sentimen global dan aksi jual investor asing yang masih berlanjut.
Data Pembukaan Pasar Senin Pagi
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG dibuka di level 5.486,31 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.490,11 sebelum tertekan lebih dalam. Pada pukul 09.20 WIB, indeks kembali merosot 148,97 poin atau 2,66 persen ke level 5.445,79. Indeks LQ45, yang memuat 45 saham unggulan, melemah lebih dalam, yakni 12,06 poin atau 2,16 persen ke posisi 545,69.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari pekan sebelumnya. Pada penutupan Jumat, 5 Juni 2026, IHSG ditutup ambruk 245,02 poin atau 4,2 persen ke level 5.594,76. Secara kumulatif, IHSG telah merosot lebih dari 36 persen dibandingkan posisi puncaknya.
“IHSG berpotensi tes support di 5.450-5.500, dan jika kuat di support tersebut IHSG berpotensi rebound pada perdagangan hari ini.” — Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas
Rupiah Tembus Level Psikologis Rp18.000
Nilai tukar rupiah di pasar spot semakin tersungkur ke level Rp18.107 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi ini, terdepresiasi sekitar 102 poin atau 0,57 persen dibandingkan posisi penutupan pekan lalu. Mata uang Garuda telah bergerak melemah dari kisaran Rp17.878 per dolar AS di awal Juni, kemudian menembus level psikologis Rp18.000 pada Kamis, 4 Juni 2026, sebelum ditutup di Rp18.036 per dolar AS pada akhir pekan lalu.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi geopolitik global, konflik di kawasan Timur Tengah, serta arus keluar modal asing yang masih berlangsung.
Analisis Sentimen Pasar
“Risiko yang paling menjadi perhatian saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi yang melambat, melainkan meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.” — Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal / Founder Republik Investor
Bursa Asia secara keseluruhan kompak melemah mengikuti Wall Street yang tersungkur pada akhir pekan lalu. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,31 persen, sementara indeks Topix turun tipis 0,07 persen. Pelemahan bursa global dipicu data tenaga kerja AS yang melampaui ekspektasi, memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menyebutkan pelemahan IHSG disebabkan oleh investor yang mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dananya ke aset yang lebih aman. Ia menilai kondisi ini merupakan aksi pengurangan risiko jangka pendek, bukan perubahan pandangan fundamental terhadap pasar Indonesia.
Proyeksi dan Potensi Rebound
Para analis memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek karena sentimen global dan pergerakan kurs rupiah masih menjadi faktor dominan. Namun, setelah koreksi yang cukup dalam, peluang rebound teknikal tetap terbuka apabila tekanan jual mulai mereda dan arus dana asing menunjukkan tanda stabilisasi.
Baca juga: Kejagung Resmi Tetapkan 3 Mantan Kepala BGN sebagai Tersangka Korupsi MBG

