Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat ke level 7.004 pada perdagangan Selasa (5/5/2026), meskipun nilai tukar rupiah melemah 11 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 17.405 per dolar AS, dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
IHSG Menguat Tipis di Tengah Tekanan Global
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat 0,44 persen ke level 7.004 pada sesi pembukaan perdagangan hari ini. Pada sesi sebelumnya, Senin (4/5/2026), indeks ditutup naik 0,22 persen ke level 6.971,95. Posisi tertinggi IHSG sempat menyentuh 7.069,69 sebelum mengalami konsolidasi.
Kapitalisasi pasar tercatat berada di angka Rp 12.438 triliun. Saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps menjadi penopang utama penguatan indeks, di antaranya BBCA, BBRI, BMRI, BRPT, CTRA, BBNI, dan AMMN. Saham sektor telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turut menguat 2,85 persen ke Rp 2.890 per lembar.
Namun, penguatan indeks tidak diikuti oleh sentimen positif dari investor asing. Total nilai penjualan bersih oleh asing di pasar reguler mencapai Rp 791 miliar, mengindikasikan tekanan keluarnya modal di tengah ketidakpastian nilai tukar.
“Sentimen pasar memiliki peran besar dalam menentukan kinerja IHSG. Kuncinya ada di rupiah, sejauh mana BI melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan nilai tukar.” Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Rupiah Tertekan Akibat Eskalasi Timur Tengah
Nilai tukar rupiah pada Selasa (5/5/2026) pagi bergerak melemah ke posisi Rp 17.405 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg pukul 09.16 WIB. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.394 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan pelemahan rupiah dipicu eskalasi di Timur Tengah yang semakin memanas. Ketegangan terkait Iran dan Selat Hormuz mendorong investor global beralih ke aset aman, sehingga dolar AS menguat 0,13 persen ke level 98.500.
Pengamat valas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.390 sampai Rp 17.440 sepanjang hari ini, dengan faktor geopolitik global masih menjadi penentu arah jangka pendek.
“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng. Pelemahan diperkirakan terbatas dengan investor menantikan data PDB Q1 Indonesia.” Lukman Leong, Analis Mata Uang Doo Financial Futures.
Moody’s dan Dampaknya terhadap Pasar Modal Indonesia
Selain faktor geopolitik, sentimen investor juga dipengaruhi revisi outlook dari lembaga pemeringkat internasional Moody’s, yang memberikan peringkat Baa2 bagi Indonesia namun dengan pandangan negatif. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor global untuk menanamkan modal di pasar ekuitas Indonesia.
Secara historis, pergerakan IHSG sepanjang 2026 menunjukkan volatilitas yang lebar. Mirae Asset Sekuritas menetapkan rentang target IHSG pada kisaran 6.684 dalam skenario negatif, sementara skenario positif memproyeksikan indeks dapat mencapai 8.312. Investor disarankan tetap waspada mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi.
Baaca juga: Update Terbaru Perang Iran AS Mei 2026

