Site icon Beritaenam.com

Ini Versi Lain Soal Kematian Jamal Khashoggi yang Dibeberkan Pejabat Senior Saudi

Jamal Khashoggi.

Beritaenam.com, Riyadh – Versi lain soal kematian wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi, dibeberkan oleh seorang pejabat pemerintahan senior Saudi. Pejabat senior ini menyebut Khashoggi tewas dicekik saat diintimidasi oleh tim khusus dari Saudi yang ditugaskan menculik dirinya.

Banyak informasi baru yang diungkapkan oleh pejabat senior Saudi yang meminta identitasnya dirahasiakan ini. Informasi-informasi ini dituturkan si pejabat senior Saudi itu terhadap Reuters, seperti dilansir pada Senin (22/10/2018).

Dalam keterangannya, pejabat Saudi ini menuturkan bagaimana tim yang beranggotakan 15 warga Arab Saudi dikirimkan secara khusus ke Istanbul, Turki untuk mengancam Khashoggi (60), seorang jurnalis senior yang kerap mengkritik kebijakan-kebijakan Saudi.

Kepada Reuters, pejabat Saudi ini menunjukkan dokumen yang disebutnya sebagai dokumen intelijen internal Saudi. Dokumen itu menunjukkan inisiatif-inisiatif intelijen Saudi untuk membawa pulang orang-orang yang ‘membangkang’. Dokumen itu secara spesifik menyebut nama Khashoggi.

Pejabat Saudi itu juga menunjukkan beberapa testimoni dari pihak-pihak yang terlibat, yang disebutnya sebagai cover-up dari tim beranggotakan 15 orang itu. Hasil penyelidikan awal secara internal juga ditunjukkannya. Namun tidak ditunjukkan lebih lanjut bukti untuk mendukung penyelidikan itu.

Disebutkan pejabat Saudi ini bahwa pemerintah Saudi sebenarnya ingin meyakinkan Khashoggi, yang bermukim di Amerika Serikat sejak setahun lalu, untuk kembali tinggal di Saudi sebagai bagian dari kampanye mencegah pembangkang Saudi direkrut oleh musuh-musuh Saudi.

Untuk mencapai tujuan itu, sebut pejabat Saudi ini, Wakil Kepala General Intelligence Presidency, Ahmed al-Asiri, mengerahkan sebuah tim beranggotakan 15 orang dari badan intelijen dan keamanan Saudi untuk pergi ke Istanbul.

Tim itu ditugaskan menemui Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul untuk berusaha meyakinkannya kembali ke Saudi.

“Ada perintah penguasa untuk merundingkan kembalinya para pembangkang secara damai; yang memberikan mereka wewenang untuk bertindak tanpa perlu melapor lagi ke pimpinan. Asiri merupakan sosok yang membentuk tim dan meminta seorang pegawai yang bekerja dengan (penasihat senior kerajaan Saud) al-Qahtani dan yang mengenal Jamal saat mereka bekerja di Kedutaan (Saudi) di London,” sebutnya.

Menurut pejabat Saudi ini, Al-Qahtani menandatangani surat penugasan salah satu pegawainya untuk menjalani misi perundingan. Al-Qahtani disebut pernah bekerja untuk putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman.

Jaksa penuntut umum Saudi, pada Sabtu (20/10) lalu, telah mengumumkan bahwa Al-Asiri dan Al-Qahtani telah dipecat dari jabatan mereka terkait kasus Khashoggi ini.

Khashoggi Tewas Dicekik Secara Tak Disengaja

Menurut rencana, sebut pejabat senior Saudi ini, tim khusus dari Saudi akan menyekap Khashoggi di sebuah safe house di pinggiran Istanbul untuk ‘sementara waktu’ dan kemudian membebaskannya jika dia tetap menolak kembali ke Saudi.

Namun pada praktiknya, pelaksanaannya berlangsung di luar rencana. Menurut pejabat senior Saudi ini, tim melanggar perintah yang diberikan dan dengan segera melakukan tindak kekerasan terhadap Khashoggi.

Pada hari kejadian, 2 Oktober lalu, Khashoggi langsung dibawa ke kantor Konsul Jenderal (Konjen) Saudi, Mohammed al-Otaibi, di mana seorang agen bernama Maher Mutreb berbicara kepadanya soal pemulangan ke Saudi. Informasi ini didasarkan dari dokumen pemerintahan Saudi yang ditunjukkan si pejabat senior ini.

Dalam momen itu, Khashoggi menolak dan memberitahu Mutreb bahwa ada seseorang yang menunggunya di luar dan orang itu akan menghubungi otoritas Turki jika dirinya tidak keluar dari Konsulat Saudi dalam waktu satu jam.

Seseorang itu adalah adalah Hatice Cengiz, tunangan Khashoggi asal Turki, yang memang diberi pesan untuk menghubungi penasihat Presiden Turki jika Khashoggi tidak juga keluar.

Di dalam kantor Konjen Saudi, masih menurut dokumen otoritas Saudi, Khashoggi memberitahu Mutreb bahwa dirinya melanggar norma diplomatik.

“Apa yang akan Anda lakukan pada saya? Apakah Anda berniat menculik saya?” ucap Khashoggi kepada Mutreb seperti mengutip dokumen itu.

Mutreb menjawab: “Iya, kami akan membius Anda dan menculik Anda.” Menurut pejabat senior Saudi, ucapan Mutreb itu merupakan bentuk intimidasi yang jelas telah melanggar tujuan utama dari operasi yang ditugaskan kepadanya.

Ketika Khashoggi berbicara dengan nada semakin tinggi, tim khusus dari Saudi itu panik. Menurut keterangan dalam dokumen pemerintah Saudi, anggota tim berusaha melumpuhkan Khashoggi dengan mencengkeramnya di leher dari belakang (chokehold) sambil menutup mulutnya.

“Mereka berusaha mencegahnya (Khashoggi-red) berteriak, tapi dia tewas. Niatnya bukan untuk membunuhnya,” sebut pejabat senior Saudi ini.

Saat ditanya apakah tim Saudi mencekik Khashoggi, pejabat Saudi ini menjawab: “Jika Anda menempatkan seseorang yang sama usianya dengan Jamal dalam posisi ini, dia mungkin akan tewas.”

Untuk menutupi perbuatan mereka, tim Saudi membungkus jenazah Khashoggi di dalam karpet dan membawanya keluar dengan sebuah kendaraan diplomatik. Di luar, sebut pejabat Saudi ini, jenazah Khashoggi diserahkan kepada seorang ‘kooperator lokal’ untuk dibuang.

Ditambahkan pejabat senior Saudi ini bahwa pakar forensik Saudi, Salah Tubaigy, berusaha menghilangkan setiap jejak dari insiden ini.

Belum ada tanggapan resmi dari Kerajaan Saudi terkait keterangan pejabat senior mereka ini. Dalam pernyataan resmi pada Sabtu (20/10) lalu, otoritas Saudi secara resmi mengakui Khashoggi tewas dalam perkelahian di dalam Konsulat Saudi di Istanbul.

Exit mobile version