Pemerintah Iran menyampaikan tujuh syarat kepada Amerika Serikat sebagai prasyarat membuka kembali Selat Hormuz. Informasi tersebut disampaikan sumber yang mengetahui persoalan itu kepada kantor berita Tasnim.
Catatan verifikasi: Rincian isi tujuh syarat tersebut belum diungkapkan ke publik. Informasi berasal dari sumber yang tidak disebutkan identitasnya sehingga perlu dibaca dengan kehati-hatian.
Syarat Teheran dan status penutupan Selat Hormuz
Sumber tersebut menegaskan jalur perairan itu tidak akan dibuka sebelum seluruh syarat terpenuhi. Ketujuh syarat disebut telah disetujui pejabat tinggi Iran, sebagaimana dilaporkan Antara.
“Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai tujuh syarat yang telah disetujui pejabat tinggi Iran.” — Sumber Iran, dikutip kantor berita Tasnim
Sumber itu tidak memerinci isi dari ketujuh syarat tersebut. Ia hanya menekankan bahwa seluruhnya harus dipenuhi sebelum akses pelayaran dipulihkan.
Sejumlah kapal niaga milik Iran maupun negara lain masih berlabuh di kawasan Bandar Abbas. Ketidakpastian mengenai lalu lintas kapal berlanjut di salah satu titik transit energi paling krusial di dunia.
Penutupan Selat Hormuz telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir seiring memanasnya konflik. Kondisi itu membuat sebagian armada memilih menunda pelayaran sambil menunggu kepastian.
Pengumuman Teheran sebelumnya menegaskan jalur tersebut tetap ditutup di tengah ketegangan yang berlanjut. Sikap itu disampaikan meski sejumlah upaya diplomasi terus berjalan di kawasan.
Kesepakatan dengan Oman tidak mencakup pembukaan jalur
Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya mengumumkan rencana pertemuan di Oman pada Senin, 14 September 2026. Pertemuan tersebut melibatkan Irak dan negara-negara Teluk Persia.
Agenda utamanya adalah membahas jalur aman bagi pelayaran komersial di kawasan tersebut. Para menteri luar negeri negara-negara Arab dijadwalkan menandatangani kesepakatan pembentukan jalur bersama, seperti dikutip Liputan6.
Meski demikian, kesepakatan yang dicapai Iran dan Oman disebut tidak mencakup pembukaan jalur perairan. Berdasarkan kesepakatan itu, kedua pihak baru mengoordinasikan rute utama keluar dan masuk kawasan.
Artinya, koordinasi teknis rute berjalan terpisah dari keputusan politik soal pembukaan penuh. Perkembangan itu menegaskan posisi Teheran yang tetap mempertahankan pembatasan di Selat Hormuz.
Keterlibatan negara-negara Teluk dalam pembahasan menunjukkan luasnya dampak persoalan ini. Sejumlah negara di kawasan sangat bergantung pada jalur tersebut untuk ekspor energi.
Latar konflik Iran dan Amerika Serikat sepanjang 2026
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu serangan balasan dari pihak Iran.
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan. Namun kedua pihak kemudian kembali saling serang dan konflik belum terselesaikan hingga kini, seperti dicatat Jawa Pos.
Eskalasi terbaru terjadi awal September 2026 ketika kedua negara dilaporkan saling menyerang kapal di kawasan tersebut. Sebuah kapal kargo Iran juga dilaporkan diserang dengan satu korban meninggal dunia.
Akibat rangkaian peristiwa itu, pelayaran melalui jalur perairan tersebut nyaris terhenti. Lalu lintas kapal komoditas sempat tercatat turun ke titik terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Dampak penutupan terhadap pasokan energi global
Jalur tersebut merupakan rute pasokan utama minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair ke pasar global. Gangguan di kawasan itu berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia.
Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara. Harga minyak dunia sempat melonjak dengan Brent menembus level USD96 per barel pada awal September 2026.
Di Indonesia, dampaknya terasa melalui penyesuaian harga bahan bakar nonsubsidi pada awal bulan. Sejumlah produk mengalami kenaikan mengikuti pergerakan harga minyak mentah global.
Kenaikan tersebut menyentuh produk seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Penyesuaian dilakukan seiring gejolak pasar energi internasional.
Pelaku pasar energi terus mencermati perkembangan diplomasi di kawasan tersebut. Kepastian pembukaan jalur menjadi salah satu faktor penentu arah harga komoditas energi.
Sejumlah analis menilai ketidakpastian yang berkepanjangan berpotensi menahan harga minyak tetap tinggi. Faktor tersebut bercampur dengan sentimen lain seperti arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Nasib pembukaan Selat Hormuz kini bergantung pada respons Washington terhadap syarat yang diajukan Teheran. Belum ada keterangan resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai pesan tersebut hingga artikel ini disusun.

