Site icon Beritaenam.com

Kapal Migran Djibouti Tujuan Yaman Karam, IOM Catat Sedikitnya 139 Orang Tewas

kapal migran Djibouti

Sebuah kapal migran Djibouti tujuan Yaman terbalik di lepas pantai Djibouti pada malam 8 hingga 9 Oktober 2026. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat sedikitnya 139 orang tewas.

Kapal Migran Djibouti Bawa 305 Orang Menuju Yaman

Kapal tersebut membawa 305 orang dan berangkat dari Djibouti menuju Yaman, menurut IOM. Kapal tenggelam di dekat Guhere, sebelah utara kota pelabuhan Obock.

IOM mengumumkan jumlah korban kapal migran Djibouti itu pada Minggu, 11 Oktober 2026. Selain korban tewas, sedikitnya 84 orang masih hilang dan lebih dari 80 orang selamat.

Seluruh penyintas merupakan warga Ethiopia. Sebanyak 64 penyintas dirawat di Pusat Respons Migran IOM di Obock.

Para penyintas mendapat perawatan medis dan dukungan psikologis. Pihak berwenang Djibouti menjalankan operasi pencarian dan penyelamatan, merawat penyintas, serta mengatur pemakaman.

Data Korban Kapal Migran Djibouti Berubah

Angka korban kapal migran Djibouti berubah sejak laporan awal. IOM semula melaporkan 109 orang tewas, termasuk 15 anak, serta lebih dari 116 orang hilang.

Angka itu kemudian diperbarui menjadi sedikitnya 139 orang tewas dan 84 orang hilang. Angka 139 hanya mencakup jenazah yang telah dimakamkan otoritas Djibouti.

Otoritas setempat menyebut peristiwa ini salah satu bencana laut paling mematikan di lepas pantai Djibouti. Penyebab resmi tenggelamnya kapal belum diumumkan.

Kepala Misi IOM di Djibouti Alexandre Coissac menyebut kapal tenggelam dekat pantai terutama karena kelebihan muatan.

“Yang mengerikan, mereka dimakamkan tanpa nama, di kuburan massal, seperti dalam situasi perang.” (Alexandre Coissac, Kepala Misi IOM di Djibouti, dikutip AP)

Coissac mengunjungi lokasi pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Ia menyebut otoritas setempat sudah berupaya maksimal, tetapi kewalahan menghadapi jenazah yang terdampar bersamaan.

IOM Desak Jalur Migrasi yang Aman dan Legal

Direktur Jenderal IOM Amy Pope menyatakan orang tidak akan menaiki kapal migran seperti yang karam di Djibouti itu kecuali tidak melihat pilihan aman lain. Ia meminta pemerintah dan donor bertindak.

“Kita tidak bisa terus menganggap kematian ini sebagai hal biasa.” (Amy Pope, Direktur Jenderal IOM, dikutip AP)

Pope juga menyatakan jalur migrasi yang aman dan legal dapat menyelamatkan nyawa. Juru bicara pemerintah Ethiopia belum menanggapi permintaan komentar.

Rute Timur Jadi Jalur Migrasi Berbahaya

Djibouti merupakan bagian dari Rute Timur, jalur migrasi dari Tanduk Afrika menuju negara-negara Teluk melalui Yaman. Jalur ini melintasi Selat Bab al-Mandeb, tempat jarak Djibouti dan Yaman sekitar 20 kilometer pada titik tersempit.

Menurut IOM yang dikutip Al Jazeera, pergerakan di Rute Timur mencapai lebih dari 506.000 orang pada 2025, naik 18 persen. Sekitar 922 orang tewas atau hilang di rute ini pada 2025, hampir dua kali lipat dari 558 orang pada 2024.

Kecelakaan kapal migran juga terjadi di perairan yang sama pada 24 Maret 2026. Kapal berpenumpang 320 orang tenggelam di dekat Guehere, menewaskan sedikitnya sembilan orang dan 45 orang hilang.

Lebih dari 20.000 migran Ethiopia masuk ke Djibouti pada September 2026 saja. Tragedi kapal migran Djibouti ini terjadi di tengah konflik yang meningkat di Yaman, sejalan dengan rentetan serangan Houthi ke bandara Arab Saudi yang membuat WNI diminta menjauhi bandara.

Pertempuran antara pasukan pemerintah yang didukung Saudi dan Houthi menjadi yang paling serius sejak gencatan senjata 2022. Eskalasi serupa sebelumnya terlihat saat serangan Houthi ke kapal MV Tihamah di Yaman menewaskan enam orang termasuk satu WNI.

Hingga Selasa, 13 Oktober 2026, sedikitnya 84 penumpang kapal migran Djibouti tersebut masih dinyatakan hilang. Otoritas Djibouti menjalankan pencarian. Simak kabar internasional lainnya di kanal Internasional.

Exit mobile version