Kebakaran Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat mulai mereda pada Senin, 28 September 2026. Luas area terdampak tercatat 1.098,75 hektare, sementara pemantauan titik api terus dilakukan.
Kebakaran Gunung Rinjani Mulai Mereda Pekan Ini
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menyatakan kondisi api mulai mereda pada hari ketujuh penanganan. Meski demikian, petugas tetap mewaspadai kemungkinan munculnya kembali titik api. Kondisi ini menandai perkembangan dari kebakaran Rinjani yang sempat meluas hingga 1.098 hektare.
Luas area terdampak tidak bertambah dari catatan sebelumnya, yakni 1.098,75 hektare. Angka tersebut masih bersifat sementara sambil menunggu verifikasi batas area di lapangan.
“Cuaca hari ini menunjukkan kondisi cukup merata di lokasi kebakaran. Tim tetap melakukan pemantauan.” — Astekita Ardiaristo, Kepala Subbagian Tata Usaha BTNGR
Personel Gabungan Bertambah Menjadi 103 Orang
Jumlah personel dan tenaga pendukung di lapangan bertambah menjadi 103 orang. Sebelumnya, tim gabungan yang diterjunkan berjumlah 90 orang.
Tim berasal dari BTNGR, Manggala Agni, KPH Rinjani Barat, TNI, Polri termasuk Brimob, serta porter setempat. Mereka bertugas memadamkan api sekaligus memantau area yang sudah padam.
Petugas masih menghadapi angin kencang yang mempercepat rambatan api. Vegetasi kering, dedaunan, dan material organik di lantai hutan juga menjadi bahan bakar.
Medan pegunungan yang sulit menghambat pengangkutan peralatan ke titik api. Perjalanan menuju lokasi kebakaran sebelumnya disebut membutuhkan waktu sekitar delapan jam.
Api Menyebar dari Bukit Setampol ke Kawasan Senaru
Api pertama kali muncul pada Selasa, 22 September 2026, sekitar pukul 18.50 WITA di Bukit Setampol, kawasan Puncak Sangkareang. Lokasi itu masuk wilayah Resor Torean, Kabupaten Lombok Utara.
Dalam sepekan, api menjalar ke sekitar jalur pendakian Senaru, Resor Torean, dan Resor Senaru. Luas terdampak bertambah dari 127 hektare pada laporan awal menjadi 1.098,75 hektare.
Vegetasi yang terbakar meliputi hutan pinus, savana pegunungan, alang-alang, semak, dan serasah kering. Data luas terdampak diperbarui setiap hari oleh BTNGR.
Penyebab Kebakaran Gunung Rinjani Masih Diselidiki
Penyebab kebakaran Gunung Rinjani hingga kini belum diumumkan secara resmi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menyatakan penyebabnya masih dalam penyelidikan.
“Untuk penyebab kejadian masih dalam penyelidikan.” — Sadimin, Kepala Pelaksana BPBD NTB
Penanganan dikoordinasikan dengan TNI dan Polri sejak hari pertama. Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api diterjunkan untuk pemadaman awal dan pengendalian api.
Jalur Senaru dan Torean Masih Ditutup Sementara
Jalur pendakian Torean ditutup sejak 23 September 2026, sedangkan jalur Senaru ditutup mulai 26 September 2026. Penutupan dilakukan demi keselamatan pengunjung dan kelancaran pemadaman.
Pendaki pemegang tiket elektronik jalur Torean diberi opsi menjadwalkan ulang kunjungan. BTNGR menyatakan status kedua jalur akan dievaluasi sebelum dibuka kembali.
Penutupan jalur Torean diumumkan langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani sehari setelah api terdeteksi.
“Menyusul terjadinya kebakaran hutan di Bukit Setampol, Resor Torean, pada Selasa 22 September 2026, kami menetapkan penutupan sementara jalur wisata pendakian Torean.” — Budy Kurniawan, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Luas area terdampak tercatat 589,23 hektare pada 24 September 2026. Angka itu naik menjadi 723,7 hektare pada 25 September, lalu 977,74 hektare, sebelum mencapai 1.098,75 hektare pada 27 September.
BTNGR memastikan jalur pendakian lain tetap dibuka selama penanganan berlangsung. Jalur Sembalun masih melayani pendaki dengan pengawasan petugas.
Kebakaran Gunung Rinjani kali ini bukan yang pertama pada 2026. Pada awal Juni 2026, api menghanguskan 98,28 hektare lahan di kawasan Savana Propok, Kabupaten Lombok Timur.
Saat itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan api berhasil dipadamkan dan kondisi lapangan kondusif. Pernyataan disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.
Titik awal kebakaran Gunung Rinjani tercatat pada koordinat 116 derajat 25 menit Bujur Timur dan 8 derajat 21 menit Lintang Selatan. Kabut dan angin di ketinggian turut menurunkan efektivitas operasi pemadaman. Simak rangkaian berita kebakaran lainnya.
Kepala BTNGR Budy Kurniawan menyatakan penanganan dilakukan bersama TNI, Polri, dan pemangku kepentingan kawasan. Koordinasi itu berjalan sejak jalur Torean ditutup.
Kebakaran Gunung Rinjani kini berada pada fase mereda dengan luas terdampak 1.098,75 hektare. Sebanyak 103 personel masih disiagakan untuk memantau kemungkinan api kembali menyala.

