Kesepakatan damai Iran AS mulai menunjukkan kemajuan setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman yang membuka pencabutan sanksi ekspor minyak dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Poin Utama Kesepakatan Damai Iran AS
Nota kesepahaman atau memorandum of understanding ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni 2026. Penandatanganan dilakukan dari dua lokasi terpisah dan dimediasi oleh Pakistan serta Qatar.
Menurut pejabat AS, kesepakatan damai Iran AS itu mencakup penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut, pengecualian sanksi untuk ekspor minyak Iran, serta pembukaan akses bertahap terhadap aset Iran yang dibekukan.
Departemen Keuangan AS kemudian mengumumkan pencabutan sementara sanksi ekspor minyak Iran yang berlaku hingga 21 Agustus 2026. Dengan kebijakan itu, Iran kembali diizinkan memproduksi, menjual, dan mengekspor minyak mentah beserta produk turunannya ke pasar internasional.
“Pembatasan terhadap ekspor minyak dan petrokimia dicabut, blokade diakhiri, sebagian aset yang dibekukan dilepaskan, dan program rekonstruksi serta pembangunan besar diluncurkan untuk Iran.” – Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran
Selat Hormuz dan Peta Jalan 60 Hari
Sebagai bagian dari kesepakatan damai Iran AS, kedua negara menyepakati peta jalan selama 60 hari menuju perjanjian final, termasuk pembentukan komite tingkat tinggi untuk mengawasi proses negosiasi. Mereka juga membangun jalur komunikasi khusus guna menghindari insiden di Selat Hormuz.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional.” – Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi global yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk. Normalisasi aktivitas di jalur tersebut diperkirakan membantu menstabilkan pasokan energi dunia dan meredakan tekanan terhadap harga minyak.
Isu Nuklir Masih Jadi Ganjalan
Iran menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir dan menyepakati penyelesaian stok uranium diperkaya di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional. Meski demikian, sejumlah analis menilai isu uranium, pengayaan, dan tingkat inspeksi masih berpotensi menjadi ganjalan menuju perjanjian final.
Pemerintah AS menyatakan pelonggaran sanksi akan bersifat bertahap dan dikaitkan dengan kepatuhan Iran. Mediasi Pakistan dan Qatar disebut menjadi kunci kemajuan negosiasi yang berlangsung di Swiss.
Keuntungan Ekonomi bagi Iran
Kesepakatan damai Iran AS membuka peluang bagi Teheran untuk kembali menjual minyak di pasar dunia secara legal. Sebelumnya, ekspor minyak Iran banyak bergantung pada satu pembeli besar, yaitu China, dan harus melalui jalur pengiriman yang rumit untuk menghindari sanksi.
Nota kesepahaman itu juga memuat rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran bernilai besar, pembentukan mekanisme pemantauan, serta rencana pengesahan perjanjian final melalui resolusi Dewan Keamanan PBB. Sejumlah analis menilai isi nota tersebut banyak menguntungkan Iran.
Pengumuman kesepakatan turut memengaruhi pasar global. Harga emas sempat menguat dan dolar AS melemah, sementara pelaku pasar memperkirakan pasokan energi masih membutuhkan waktu beberapa bulan untuk benar-benar normal.
Latar Belakang Konflik dan Tantangan ke Depan
Kesepakatan damai Iran AS diharapkan menjadi titik awal berakhirnya konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026, ketika serangan AS dan Israel memicu serangan balasan Iran di berbagai wilayah kawasan. Perang tersebut sempat mengganggu jalur pelayaran dan memicu lonjakan harga energi global.
Meski sinyal damai menguat, sebagian analis skeptis kedua negara dapat mencapai penyelesaian final dalam 60 hari. Ketidakpercayaan yang masih membayangi hubungan kedua negara dinilai dapat menjadi ganjalan dalam implementasi perjanjian.
Dampak bagi Kawasan dan Pasar Energi
Normalisasi Selat Hormuz dan kembalinya ekspor minyak Iran diperkirakan berdampak pada stabilitas pasokan energi dunia. Kawasan Teluk merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak global yang selama ini rawan terganggu oleh ketegangan geopolitik.
Bagi Indonesia, perkembangan kesepakatan damai Iran AS turut menjadi perhatian karena berpengaruh pada pergerakan harga minyak dunia. Stabilitas harga energi global berkaitan erat dengan kebijakan bahan bakar dan inflasi di dalam negeri.
Komunitas internasional menyambut sinyal positif dari perundingan tersebut, meski tetap mengingatkan pentingnya kepatuhan kedua pihak terhadap kesepakatan. Pengawasan lembaga internasional dinilai krusial untuk memastikan implementasi berjalan sesuai komitmen.
Baca juga: PM Inggris Keir Starmer Mundur Akibat Tekanan Internal Partai Buruh

