Kasus gagal ginjal usia muda dan anak-anak di Indonesia dilaporkan meningkat drastis. Tren mengkhawatirkan ini, termasuk peningkatan drastis pada Gen Z dan cuci darah pada anak, dipicu gaya hidup tidak sehat, konsumsi minuman kemasan, obat-obatan berlebihan, serta penyakit bawaan.
KASUS VIRAL YANG MENGGEMPARKAN INDONESIA
“Asli syok, di RSCM banyak bocil-bocil. Kirain berobat apaan, ternyata pada cuci darah.”
Kalimat itu ditulis seorang warganet di TikTok pada Juli 2024 setelah mengunjungi
RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Video tersebut ditonton jutaan
kali dan memicu diskusi nasional tentang kesehatan ginjal anak Indonesia.
Warganet yang menulis kalimat itu tidak salah. Unit dialisis anak di RSCM memang dipenuhi pasien berusia sangat muda. Yang paling mengejutkan: pasien termuda yang pernah menjalani cuci darah di sana berusia 6 bulan. Bukan lansia, bukan pula orang dewasa yang sudah lama sakit. Ini adalah bayi dan anak-anak yang belum sempat menikmati masa kecil mereka.
RSCM, sebagai rumah sakit rujukan nasional, memang menjadi tujuan pasien dari seluruh Indonesia. Namun fakta yang tidak bisa diabaikan adalah: tren gagal ginjal pada usia muda terus meningkat di seluruh penjuru negeri, bukan hanya di Jakarta.
Kisah MIR: gagal ginjal di usia 13 tahun
Sebelum video RSCM viral, sebuah video TikTok lain sudah lebih dulu beredar. Diunggah akun @bang_hady15, video itu menampilkan MIR, seorang anak berusia 13 tahun yang sedang menjalani pengobatan di RSCM. Sang ayah bercerita dengan tenang, tapi isi ceritanya mengguncang.
“Kata dokter sih penyebabnya karena banyak minum minuman cup (gelas) yang manis-manis sama makan mi instan dan ciki-ciki. Dulu dia cuci darah, sekarang dia sudah beralih ke CAPD, cuci darah mandiri di rumah.”
— Ayah MIR (inisial), pasien gagal ginjal usia 13 tahun, TikTok @bang_hady15, dikutip Liputan6 (Maret 2024)
MIR harus menjalani cuci darah mandiri (CAPD) lima kali sehari, masing-masing tiga jam, seumur hidup. Bukan karena penyakit bawaan. Bukan karena kelainan genetik langka. Melainkan karena kebiasaan minum minuman manis kemasan dan makan makanan ultraproses sejak kecil.
Kisah MIR bukan satu-satunya. Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani, dalam rapat kerja bersama Kementerian Kesehatan (Maret 2024), mengungkapkan bahwa ia menemukan seorang siswa kelas 5 SD dari Karawang, Jawa Barat, yang sudah menjalani cuci darah akibat gagal ginjal. Ia juga menyebutkan stafnya yang berusia 23 tahun terpaksa cuci darah akibat kebiasaan memesan minuman berpemanis lewat aplikasi online food delivery.
“Anak-anak kita itu paling senang kalau dapat promo bayar pakai aplikasi tertentu, nanti dapat minuman berpemanis. Saya baru saja mengalami keprihatinan: salah satu tenaga ahli saya berusia 23 tahun harus cuci darah karena kebiasaan mengonsumsi makanan yang dibeli secara online.”
— Netty Prasetiyani, Anggota Komisi IX DPR RI, Rapat Kerja DPR-Kemenkes, Maret 2024
Angka yang membuat dokter khawatir
Kasus-kasus viral itu bukan anomali. Mereka adalah puncak gunung es dari krisis kesehatan ginjal yang tengah berkembang diam-diam di Indonesia. Berikut data resmi yang dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan:
DATA RESMI: Pasien Cuci Darah Usia Muda di Indonesia
Usia < 20 tahun : sekitar 800 kasus (IRR 2016-2019)
Usia 20-29 tahun : sekitar 2.400 kasus
Usia 30-39 tahun : sekitar 8.600 kasus
Total klaim hemodialisis : 147.000 kunjungan per 2025 (naik 7%)
Total biaya BPJS 2025 : Rp 13 triliun untuk penanganan gagal ginjal
Survei IDAI Juli 2024 : 1 dari 5 anak usia 12-18 tahun
positif darah/protein dalam urine
Sumber: Indonesian Renal Registry (IRR), BPJS Kesehatan, IDAI, Kemenkes RI
Merespons kasus-kasus viral ini, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, segera melakukan survei pada anak remaja usia 12-18 tahun. Hasilnya mengejutkan: 1 dari 5 anak Indonesia memiliki tanda awal kerusakan ginjal berupa hematuria (darah dalam urine) atau proteinuria (protein dalam urine). Mayoritas penyebabnya adalah gaya hidup tidak sehat, bukan penyakit bawaan.
“Ternyata 1 dari 5 anak remaja itu dicek urinenya terdapat hematuria dan proteinuria. Jadi ada darah dan protein dalam urine. Ini salah satu indikator awal kerusakan ginjal.”
— dr. Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Umum IDAI, dikutip detikHealth, Juli 2024
Bagaimana minuman manis bisa merusak ginjal?
Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) tertinggi di Asia Pasifik, menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu. Satu porsi minuman kemasan rata-rata mengandung 20-40 gram gula, padahal batas aman WHO adalah 50 gram per hari. Jika seorang anak meminum 3 kemasan per hari, mereka sudah melebihi dua kali lipat batas aman itu, belum termasuk gula dari makanan lain.
Proses kerusakannya berlangsung perlahan seperti ini: gula berlebihan memaksa pankreas memproduksi insulin terus-menerus. Lama-kelamaan tubuh menjadi resisten terhadap insulin dan berkembang menjadi diabetes tipe 2. Gula darah tinggi yang berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun perlahan-lahan merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal yang disebut glomerulus. Ketika glomerulus rusak, kemampuan ginjal menyaring darah menurun drastis.
Yang berbahaya adalah proses ini tidak menimbulkan gejala apapun pada stadium awal. Seorang anak yang setiap hari minum minuman manis merasa baik-baik saja. Tidak ada rasa sakit, tidak ada tanda peringatan. Baru ketika fungsi ginjal sudah turun di bawah 30 persen, gejala mulai muncul. Dan pada titik itu, kerusakan ginjal sudah tidak bisa dipulihkan.
“Banyak anak sekarang dikasih minum dan makan dengan gula tinggi. Gula itu penyebab segala macam penyakit, mulai dari ginjal, hati, stroke, jantung. Idealnya konsumsi gula per hari maksimal empat sendok teh.”
— Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI, Agustus 2024
Bukan hanya minuman manis: 5 penyebab utama gagal ginjal pada anak muda
- Konsumsi minuman manis dan makanan ultraproses berlebihan. Minuman kopi kekinian dengan sirup, topping boba, dan krim; minuman teh manis kemasan; serta makanan cepat saji tinggi natrium adalah kombinasi yang merusak ginjal secara perlahan. Efeknya tidak terasa dalam seminggu atau sebulan, tetapi menumpuk selama bertahun-tahun.
- Konsumsi obat pereda nyeri tanpa pengawasan dokter. Kasus Eko (33 tahun, bukan nama sebenarnya) dari Malang menjadi pelajaran pahit: ia mengonsumsi jamu diet sejak kuliah pada 2013 demi menurunkan berat badan cepat. Bertahun-tahun kemudian, ia divonis gagal ginjal stadium 4 dan kini harus cuci darah tiga kali sepekan. Obat-obatan anti-nyeri yang dijual bebas (NSAID) dan suplemen tanpa izin BPOM memiliki efek serupa jika dikonsumsi rutin tanpa pengawasan medis.
- Dehidrasi kronis akibat lebih memilih minuman manis daripada air putih. Ginjal membutuhkan air putih untuk membuang limbah dan racun dari tubuh. Ketika tubuh kekurangan air secara kronis, ginjal dipaksa bekerja dengan kapasitas minimal, mempercepat akumulasi kerusakan.
- Gaya hidup sedentari dan kurang tidur. Kurangnya aktivitas fisik memicu obesitas, yang selanjutnya mempercepat diabetes dan hipertensi. Kedua penyakit ini adalah penyebab nomor satu dan dua gagal ginjal di Indonesia, berdasarkan data IRR 2020.
- Tidak menyadari tanda awal kerusakan ginjal. Banyak pasien datang ke dokter saat sudah masuk stadium 4 atau 5, ketika ginjal hanya berfungsi kurang dari 15 persen. Pada titik itu, satu-satunya pilihan adalah cuci darah seumur hidup atau transplantasi ginjal yang antriannya sangat panjang.
“Saya sendiri makin sering ketemu pasien usia 34 tahunan. Bahkan lebih muda sudah masuk gagal ginjal. Dan yang paling mahal bukan cuma uang, tapi waktu bersama keluarga yang hilang. Jadi pastikan BPJS kamu aktif. Tapi lebih penting lagi jaga ginjalmu mulai sekarang.”
— dr. Decsa Medika Hertanto, Spesialis Ginjal RSUD Dr. Soetomo Surabaya, April 2026
Kenali tanda bahaya sebelum terlambat
Gagal ginjal kronis berkembang dalam 5 stadium. Pada stadium 1-2, hampir tidak ada gejala yang terasa. Tanda-tanda berikut harus diwaspadai, terutama jika muncul lebih dari satu secara bersamaan:
Tanda awal (perlu waspada): tekanan darah tinggi yang sulit terkontrol walaupun masih muda; urine berbusa terus-menerus (tanda ada protein bocor); urine berwarna gelap, coklat, atau merah; sering buang air kecil di malam hari lebih dari 2 kali; dan kelelahan tidak normal yang tidak membaik dengan istirahat.
Tanda lanjut (segera ke dokter): pembengkakan di kaki, pergelangan, atau wajah yang muncul saat bangun tidur; mual dan kehilangan nafsu makan berkepanjangan; gatal di seluruh tubuh tanpa sebab; sesak napas ringan; dan konsentrasi menurun drastis. Jika mengalami 2 atau lebih tanda ini secara bersamaan, periksakan diri segera.
6 langkah nyata mencegah gagal ginjal sejak sekarang
Kabar baiknya, sebagian besar kasus gagal ginjal pada usia muda sepenuhnya dapat dicegah. Ini bukan soal diet ekstrem atau olahraga berat. Ini soal kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten:
- Ganti satu minuman manis dengan air putih setiap hari. Tidak perlu langsung berhenti total. Mulai dengan mengganti satu gelas minuman manis per hari dengan air putih. Dalam sebulan, kebiasaan ini akan terasa lebih mudah.
- Baca label gizi sebelum membeli minuman kemasan. Cari kolom “Gula” pada tabel informasi nilai gizi. Jika satu kemasan mengandung lebih dari 25 gram gula, itu sudah lebih dari separuh batas aman harian WHO.
- Jangan konsumsi obat pereda nyeri lebih dari 3 hari berturut-turut tanpa resep dokter. Jika nyeri tidak kunjung reda dalam 3 hari, temui dokter. Penggunaan ibuprofen, aspirin, atau obat sejenis secara rutin tanpa pengawasan medis merusak ginjal secara bertahap.
- Lakukan tes urine sederhana setahun sekali. Tes urinalisis biayanya tidak lebih dari Rp30.000 di laboratorium klinik mana pun. Tes ini bisa mendeteksi adanya protein atau darah dalam urine jauh sebelum gejala apapun muncul.
- Kendalikan tekanan darah dan gula darah. Periksa tekanan darah minimal setahun sekali mulai usia 20 tahun. Tekanan darah ideal adalah di bawah 120/80 mmHg. Jika sudah ada riwayat diabetes atau hipertensi dalam keluarga, periksa lebih rutin.
- Manfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pemerintah. Sejak 2026, pemerintah menjalankan program CKG yang mencakup pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan indeks massa tubuh secara gratis. Lebih dari 4,5 juta masyarakat sudah memanfaatkannya. Daftarkan diri melalui aplikasi Mobile JKN atau langsung ke puskesmas terdekat.
Video bocil-bocil cuci darah di RSCM yang viral itu bukan sekedar konten mengharukan di media sosial. Itu adalah sinyal alarm dari sistem kesehatan Indonesia. Kasus MIR yang berusia 13 tahun, siswa SD dari Karawang, hingga ribuan pasien muda yang data statistiknya kini sudah terdokumentasi, semuanya berbicara satu hal: kerusakan ginjal dimulai jauh sebelum gejala pertama terasa. Dan pencegahannya dimulai dari pilihan minuman yang kita buat hari ini.
Baca juga: Tren Wellness 2026: 7 Gaya Hidup Sehat yang Paling Banyak Dicari di Indonesia

