Site icon Beritaenam.com

Iran Perkuat Koordinasi dengan China di Tengah Perang AS-Iran Jelang KTT Trump-Xi

perang AS-Iran

Perang AS-Iran mendorong Teheran merapatkan koordinasi diplomatik dengan Beijing. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu China Wang Yi di Beijing pada 16 September 2026.

Kunjungan kedua Araghchi sejak perang AS-Iran pecah

Pertemuan tersebut menjadi kunjungan kedua Araghchi ke ibu kota China sejak konflik dimulai. Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pecah pada akhir Februari 2026.

Araghchi sebelumnya mengunjungi Beijing pada Mei 2026. Kunjungan pertama itu juga berlangsung tak lama sebelum Trump melakukan lawatan kenegaraan ke China, sebagaimana dirangkum Tribunnews.

Pola serupa berulang pada kunjungan kali ini. Pertemuan digelar beberapa hari sebelum Presiden China Xi Jinping bertolak ke Washington untuk menemui Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sikap China atas kelanjutan perang AS-Iran

Wang Yi menyatakan situasi Timur Tengah masih bergejolak dan memengaruhi perdamaian internasional. Ia menegaskan China siap memainkan peran konstruktif sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Menurut Wang Yi, berlanjutnya perang AS-Iran tidak sejalan dengan kepentingan bersama pihak-pihak terkait. Beijing mendorong kedua pihak menahan diri dan kembali ke Nota Kesepahaman Islamabad, menurut China.org.cn.

China juga mengusulkan pembangunan kembali mekanisme negosiasi berdasarkan kesepahaman yang telah dicapai. Selama konflik berlangsung, Beijing menempatkan diri sebagai pihak netral dan menyerukan penghentian permusuhan.

Dalam pidatonya pada KTT BRICS di New Delhi, Xi Jinping mendorong negara anggota berperan sebagai pembawa perdamaian. Seruan itu ditujukan khusus untuk konflik di kawasan Timur Tengah.

Posisi Iran soal jalur diplomasi

Araghchi menyampaikan Iran tidak menginginkan konflik terus berlanjut. Ia menyatakan Teheran berharap kembali ke jalur penyelesaian diplomatik sambil menjaga kepentingan nasionalnya.

Iran menilai nota kesepahaman dengan Amerika Serikat masih berlaku. Teheran juga menyebut telah mencapai rencana dengan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz, seperti dibahas pada laporan syarat Iran membuka Selat Hormuz.

Araghchi menegaskan kesiapan Iran berdialog dengan negara-negara kawasan. Tujuannya adalah membangun hubungan bertetangga yang baik dan memulihkan stabilitas regional.

Kepentingan energi China di tengah perang AS-Iran

China merupakan pembeli terbesar minyak Iran dengan porsi lebih dari 80 persen ekspor minyak mentah negara itu. Posisi tersebut membuat Beijing memiliki kepentingan langsung atas kelanjutan konflik.

Washington mendesak China ikut menjaga keamanan Selat Hormuz. Selat itu merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia.

Sejumlah analis menilai Beijing tidak akan sepenuhnya mengikuti pendekatan Washington terhadap Teheran. Perbedaan kepentingan kedua negara dinilai masih lebar, menurut IDNFinancials.

“Bukan China yang dipermalukan di selat itu… Melainkan AS.” — Gregory Poling, Center for Strategic and International Studies

Sanksi baru dan ketegangan menjelang KTT

Amerika Serikat melarang maskapai penerbangan Iran beroperasi di seluruh dunia mulai 23 September. Beijing bereaksi keras dan menolak kebijakan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyebut langkah itu tidak memiliki dasar hukum internasional. Ia juga menilai kebijakan tersebut tidak memperoleh otorisasi Dewan Keamanan PBB.

“China secara konsisten menentang sanksi sepihak ilegal.” — Guo Jiakun, Juru Bicara Kemenlu China

Dampak ekonomi yang dirasakan global

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mencatat biaya perang mencapai 33,4 miliar dolar per 29 Juni 2026. Komando Pusat Amerika Serikat juga melaporkan kerusakan pada ratusan bangunan di pangkalan kawasan Timur Tengah.

Harga minyak dunia diperdagangkan di kisaran 90 dolar Amerika Serikat per barel. Harga melemah seiring meningkatnya sinyal diplomatik antara Washington dan Teheran.

Bank Indonesia menyebut konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak menekan pasar keuangan domestik. Tekanan itu terlihat pada pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang beberapa pekan terakhir.

Perang AS-Iran telah berlangsung sekitar tujuh bulan sejak serangan awal pada akhir Februari. Konflik itu mengganggu jalur pelayaran dan pasokan energi di kawasan Teluk.

Kunjungan Araghchi ke Beijing berlangsung singkat dan berfokus pada koordinasi diplomatik. Kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai isu kawasan yang menjadi perhatian bersama.

Pertemuan itu digelar tak lama setelah KTT BRICS ke-18 di New Delhi. Araghchi sempat bertemu Wang Yi dan Menlu Rusia Sergey Lavrov di sela forum tersebut.

Perkembangan perang AS-Iran menjadi salah satu faktor yang dipantau pelaku pasar. Hasil pembicaraan antara Trump dan Xi Jinping diperkirakan turut memengaruhi arah penyelesaian konflik tersebut.

Exit mobile version