Pewarta Foto Indonesia meminta tim SAR gabungan memperluas penyisiran hingga ke daratan Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Permintaan itu disampaikan setelah pencarian lima jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda belum membuahkan hasil.
Alasan PFI meminta penyisiran sampai Pulau Sertung
Ketua Umum PFI Pusat Dwi Pambudo menyatakan pemeriksaan di wilayah daratan penting dilakukan. Menurutnya, langkah itu dapat membuka kemungkinan baru dalam pencarian rekan-rekan mereka, seperti disampaikan kepada Katadata.
“Kami sangat berharap fokus pencarian juga bisa dimaksimalkan untuk menyisir ke pulau-pulau kecil.” — Dwi Pambudo, Ketua Umum PFI Pusat
Ia menyampaikan apresiasi atas kerja tim SAR gabungan yang telah bekerja sejak hari pertama. Permintaan penyisiran daratan disebut sebagai pelengkap operasi yang selama ini terfokus di perairan.
Ketua PFI Jakarta Herman Zakharia menambahkan kondisi cuaca dan arus di Selat Sunda tergolong sangat dinamis. Menurutnya, kemungkinan para penyintas menyelamatkan diri dan terdampar di gugusan pulau cukup besar, sebagaimana dikutip Antara.
“Kami memohon bantuan Tim SAR untuk bisa menyisir area tersebut secara detail.” — Herman Zakharia, Ketua PFI Jakarta
Ketua PFI Tangerang Dery Ridwansah menyebut seluruh anggota organisasi terus memantau perkembangan operasi. Mereka berharap kelima jurnalis segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Pulau Sertung dan Pulau Panjang merupakan bagian dari gugusan pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Keduanya berada tidak jauh dari jalur yang dilalui rombongan sebelum kontak terputus, sebagaimana diuraikan pada laporan awal lima jurnalis hilang kontak di Selat Sunda.
Menurut PFI, karakter arus laut di kawasan tersebut membuat kemungkinan penyintas terbawa ke daratan terdekat tetap terbuka. Karena itu, penyisiran daratan dinilai sama pentingnya dengan pencarian di permukaan laut.
Basarnas belum bisa masuk karena radius bahaya tiga kilometer
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menjelaskan tim telah menyisir Pulau Rakata dan Pulau Panjang di sekitar Gunung Anak Krakatau. Namun satu pulau lain belum dapat dijangkau petugas.
“Memang kalau Pulau Sertung belum ya.” — Al Amrad, Kepala Kantor SAR Banten
Alasannya, pulau tersebut berada dalam radius tiga kilometer dari gunung api yang berstatus Siaga. Kawasan itu masuk kategori area rawan sehingga tidak dapat dimasuki tanpa pertimbangan keselamatan.
Hingga Jumat, 11 September 2026, belum ada tanda keberadaan rombongan berdasarkan pemantauan visual dari sejumlah titik. Pemantauan dilakukan menggunakan teropong dari jarak aman, seperti dilaporkan Liputan6.
Upaya pemantauan menggunakan drone juga sempat terhambat kabut asap yang cukup tebal. Basarnas menyatakan terus berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG terkait kondisi lapangan.
Status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga hingga saat ini. PVMBG juga mencatat aktivitas gempa hybrid yang menandakan proses vulkanik belum sepenuhnya mereda.
Kondisi tersebut membuat petugas harus menimbang risiko sebelum mendekati Pulau Sertung. Keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasi.
Tim sebelumnya telah menyisir Pulau Rakata dan Pulau Panjang pada hari ketiga operasi. Penyisiran dilakukan bersamaan dengan pencarian di jalur perairan menuju kawasan gunung api.
Area pencarian diperluas hingga 2.109 mil laut persegi
Pada hari ketiga operasi, tim SAR gabungan memperluas cakupan pencarian hingga ke tepian Gunung Anak Krakatau. Luas area yang disisir mencapai 2.109 mil laut persegi.
Sebanyak tujuh Search and Rescue Unit dikerahkan untuk memperluas jangkauan operasi. Pencarian melibatkan Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, BPBD, potensi SAR, nelayan, serta masyarakat setempat.
Operasi didukung sejumlah kapal dan perahu karet, drone termal, peralatan SAR air, perlengkapan medis, dan sarana komunikasi. Presiden Prabowo Subianto juga menginstruksikan TNI Angkatan Laut mengerahkan armada sejak Senin malam.
Berdasarkan laporan Kepala Staf Angkatan Laut, sedikitnya 11 kapal gabungan diterjunkan dalam operasi tersebut. Armadanya mencakup kapal perang, kapal SAR, dan kapal patroli.
Helikopter Dauphin AS365 N3+ juga dikerahkan untuk mendukung pemantauan dari udara. Sebelumnya operasi udara sempat tertahan karena pertimbangan zona bahaya erupsi, sebagaimana dijelaskan pada laporan helikopter HR-3604 dikerahkan dalam pencarian jurnalis.
Rombongan yang dicari terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal. Mereka dilaporkan hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026, saat menuju kawasan gunung api untuk meliput.
Anggota DPR RI juga meminta Basarnas, TNI, dan Polri mengerahkan sumber daya secara maksimal. Permintaan itu disampaikan seiring bertambahnya durasi operasi pencarian.
Pencarian di sekitar Pulau Sertung dan perairan Selat Sunda masih berlanjut hingga hari kelima. Basarnas menyatakan strategi operasi terus disesuaikan mengikuti kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik di kawasan tersebut.

