Site icon Beritaenam.com

Praktisi Debus Ki Grandong Turun ke DPR, Serukan Aksi Tanpa Kericuhan

praktisi debus

Seorang praktisi debus asal Tangerang Selatan menjadi sorotan di tengah aksi massa di depan Gedung DPR/MPR RI, Kamis, 27 Agustus 2026. Ia dikenal dengan nama Ki Grandong, seperti diberitakan Disway.

Kehadirannya menarik perhatian karena penampilan yang berbeda dari peserta aksi lainnya. Pesan yang dibawanya sederhana, yakni menyampaikan aspirasi tanpa kericuhan.

Penampilan Praktisi Debus di Tengah Massa

Ki Grandong tampil berbusana serba hitam saat berada di kerumunan massa. Rambutnya digulung tinggi membentuk sanggul kecil di atas kepala.

Sebuah kacamata hitam turut menutupi sebagian wajahnya. Lehernya dipenuhi untaian kalung dan benda-benda yang tampak seperti perlengkapan khas seni tradisi.

Ia menjelaskan dirinya merupakan praktisi debus sekaligus seniman asal Tangerang Selatan. Kedatangannya ke kawasan parlemen disebut untuk menyampaikan suara masyarakat.

“Saya dari praktisi debus, praktisi dari seniman, kebetulan kita dari Tangsel.” — Ki Grandong, Praktisi Debus asal Tangerang Selatan

Tuntutan yang Dibawa ke Kompleks Parlemen

Ki Grandong bersama rekan-rekannya mendesak DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset. Mereka juga meminta pelaku korupsi dijatuhi hukuman mati.

Tuntutan tersebut sejalan dengan aspirasi yang dibawa mayoritas kelompok massa hari itu. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu membawa dua tuntutan serupa ke depan gerbang utama DPR.

Ia menyebut dirinya mewakili suara para sesepuh dan orang tua. Menurutnya, generasi muda berperan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada wakil rakyat.

Aliansi lain yang turut hadir membawa tuntutan lebih luas, mulai dari isu pendidikan hingga ketenagakerjaan. Meski demikian, isu pemberantasan korupsi tetap menjadi benang merah yang menyatukan aksi pada hari itu.

Seruan agar Massa Tidak Terprovokasi

Ki Grandong menekankan pentingnya menjaga aksi tetap damai. Ia mengingatkan seluruh peserta aksi agar tidak mudah terpancing untuk melakukan tindakan yang anarkis.

“Kita murni ke sini untuk menyampaikan aspirasi masyarakat menuju Indonesia emas.” — Ki Grandong, Praktisi Debus asal Tangerang Selatan

Ia menegaskan dirinya dan tiga rekannya datang secara sukarela. Tidak ada bayaran maupun pihak yang membiayai kedatangan mereka ke Jakarta.

Pernyataan itu disampaikan di sela aksi kepada awak media. Ia berulang kali menekankan bahwa kelompoknya tidak membawa kepentingan lain.

Seruan tersebut muncul di tengah kekhawatiran adanya pihak yang berupaya menunggangi aksi. Polda Metro Jaya pada hari yang sama mengamankan 65 orang yang diduga hendak memicu kericuhan.

Seorang pria bahkan menjadi sasaran amukan massa karena diduga membawa senjata tajam. Petugas mengamankan yang bersangkutan ke pos di dalam kompleks parlemen.

Ia menyebut kedatangannya murni untuk menyalurkan aspirasi masyarakat. Menurutnya, penyampaian pendapat tidak perlu disertai tindakan yang merugikan pihak lain.

Beragam Elemen Warnai Aksi di DPR

Aksi hari itu diikuti empat kelompok besar dengan tuntutan berbeda. Keempatnya adalah AMPB, Aliansi Masyarakat Depok Bersatu, GERAM, dan Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo.

Massa mulai berkumpul di depan Gedung DPR RI sejak pukul 05.40 WIB. Sebagian membawa replika keranda berbalut kain putih bertuliskan tuntutan hukuman mati bagi koruptor.

Suasana di sekitar lokasi juga diwarnai aktivitas pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan. Sejumlah warga bahkan mengirim bantuan logistik untuk peserta aksi.

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu sejak awal memastikan aksinya berlangsung damai. Perwakilan tim advokasi kelompok tersebut menegaskan kedatangan mereka bukan untuk membuat kericuhan.

“Kami tetap konsisten, kami melakukan aksi damai.” — Vander Waruwu, Perwakilan Tim Advokasi AMPB

Massa AMPB akhirnya membubarkan diri secara tertib sejak sekitar pukul 12.30 WIB. Pimpinan DPR RI sempat menerima audiensi perwakilan mereka di ruang Abdul Muis.

Sebanyak 18.504 personel gabungan TNI-Polri dikerahkan mengamankan rangkaian aksi tersebut. Menko Polkam menyebut terdapat 86 titik aksi di wilayah Jakarta.

Meski aksi siang berlangsung relatif tertib, situasi berubah pada malam hari. Aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang masih bertahan di beberapa kawasan.

Kehadiran praktisi debus tersebut menjadi salah satu potret keberagaman peserta aksi. Pesan damai yang dibawanya sejalan dengan imbauan kepolisian agar penyampaian pendapat berjalan tertib.

Exit mobile version