Ada satu fase penting yang terlewatkan oleh sebagian besar orang sebelum diagnosis diabetes ditegakkan. Fase itu disebut prediabetes, kondisi ketika kadar gula darah sudah di atas normal namun belum memenuhi kriteria diabetes. Tahap ini bersifat reversibel, artinya masih ada peluang nyata untuk kembali ke kondisi normal. Artikel ini menjelaskan cara mengenali, memastikan, dan menangani kondisi tersebut sebelum terlambat.
Mengapa Fase Prediabetes Sering Terlewat
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi diabetes nasional sebesar 11,7 persen pada penduduk dewasa. Angka penderita pada tahap sebelumnya diperkirakan jauh lebih besar lagi.
Persoalannya, prediabetes hampir tidak menimbulkan keluhan yang mengganggu aktivitas. Tubuh masih mampu mengompensasi gangguan pengolahan glukosa sehingga penderita merasa baik-baik saja.
Kondisi ini biasanya baru ketahuan saat pemeriksaan kesehatan rutin atau saat berobat untuk keluhan lain. Tanpa skrining, banyak orang baru menyadarinya setelah berkembang menjadi diabetes penuh.
Angka Laboratorium yang Menentukan Prediabetes
Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan kadar gula darah, bukan berdasarkan gejala semata. Gula darah puasa antara 100 sampai 125 mg/dL termasuk dalam kategori glukosa puasa terganggu.
Pada tes toleransi glukosa oral, kadar dua jam setelah minum larutan gula sebesar 140 sampai 199 mg/dL menandakan toleransi glukosa terganggu. Nilai HbA1c antara 5,7 sampai 6,4 persen juga masuk kategori yang sama.
Angka di atas ambang tersebut sudah masuk kriteria diabetes, sedangkan di bawahnya dianggap normal. Karena itu satu kali pemeriksaan darah sederhana sudah cukup memberi gambaran awal.
Tanda Samar yang Perlu Diwaspadai
Sebagian orang dengan prediabetes melaporkan mudah mengantuk setelah makan besar. Rasa lelah yang tidak jelas sebabnya juga kerap muncul meski istirahat sudah cukup.
Tanda fisik yang lebih spesifik adalah akantosis nigrikans, yaitu penggelapan kulit di lipatan leher, ketiak, atau selangkangan. Kondisi ini menandakan tubuh sedang mengalami resistensi insulin.
Perlu ditegaskan bahwa ketiadaan gejala sama sekali tidak berarti kadar gula darah aman. Skrining tetap menjadi satu-satunya cara memastikan.
Siapa yang Perlu Diperiksa
Pemeriksaan dianjurkan bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun, memiliki berat badan berlebih, atau lingkar perut di atas ambang normal. Riwayat diabetes pada orang tua atau saudara kandung juga meningkatkan risiko secara bermakna.
Faktor risiko lain meliputi hipertensi, kadar kolesterol tidak normal, dan riwayat diabetes saat kehamilan. Perempuan dengan sindrom ovarium polikistik termasuk kelompok yang perlu diskrining lebih awal.
Skrining dasar kini tersedia di Puskesmas dan Posbindu PTM di banyak wilayah. Peserta JKN juga dapat memanfaatkan program skrining kesehatan yang disediakan.
Deteksi dini penyakit tidak menular dapat dilakukan di Posbindu PTM. (Kementerian Kesehatan RI, Direktorat P2PTM)
Peluang Pemulihan yang Masih Terbuka
Inilah kabar paling penting mengenai prediabetes: kondisinya masih bisa dikembalikan ke normal. Penelitian besar di berbagai negara menunjukkan program perubahan gaya hidup mampu menurunkan risiko berkembangnya diabetes secara signifikan.
Kunci utamanya adalah penurunan berat badan sebesar lima sampai tujuh persen dari berat awal. Bagi seseorang berbobot 80 kilogram, target ini setara dengan empat hingga lima kilogram saja.
Perubahan sekecil itu terbukti memperbaiki sensitivitas insulin secara terukur. Target yang realistis membuat program lebih mungkin dijalankan sampai tuntas.
Menyusun Pola Makan yang Mendukung
Ganti nasi putih dengan nasi merah, oat, atau ubi yang dicerna lebih lambat oleh tubuh. Panduan lengkap ada pada artikel mengontrol gula darah harian. Isi separuh piring dengan sayuran non-tepung sebagai sumber serat utama.
Kurangi minuman manis yang menurut Riskesdas dikonsumsi oleh lebih dari 90 persen penduduk Indonesia. Batas gula harian yang dianjurkan Kementerian Kesehatan adalah 50 gram atau empat sendok makan.
Sebagian orang melengkapi program ini dengan suplemen pendukung yang tersedia di toko resmi TRUST di Shopee. Produk semacam ini bersifat penunjang dan tidak menggantikan perbaikan pola makan itu sendiri.
Aktivitas Fisik yang Terbukti Efektif
Otot yang aktif menyerap glukosa tanpa banyak memerlukan insulin, sehingga olahraga langsung memperbaiki masalah intinya. Kementerian Kesehatan menganjurkan 150 menit aktivitas fisik per minggu bagi orang dewasa.
Tambahkan latihan kekuatan dua kali sepekan untuk membangun massa otot sebagai penampung glukosa. Berjalan sepuluh menit setelah makan besar juga menurunkan lonjakan gula darah pascamakan.
Pemantauan Setelah Diagnosis Ditegakkan
Pemeriksaan ulang umumnya dianjurkan setiap enam sampai dua belas bulan untuk menilai perkembangan. Dokter dapat menyarankan interval berbeda tergantung faktor risiko masing-masing.
Beberapa pasien dengan risiko sangat tinggi mendapat resep obat tertentu sebagai pencegahan. Keputusan ini sepenuhnya berada di tangan dokter setelah menimbang kondisi keseluruhan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah prediabetes pasti berkembang menjadi diabetes? Tidak, karena sebagian besar kasus dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup yang konsisten.
Berapa lama perbaikan mulai terlihat? Perubahan pada gula darah puasa umumnya terlihat setelah tiga sampai enam bulan program dijalankan.
Apakah perlu minum obat sejak tahap ini? Tidak selalu, sebab gaya hidup menjadi terapi lini pertama kecuali dokter menilai ada indikasi khusus.
Prediabetes sebaiknya dipandang sebagai peringatan dini yang masih menyisakan waktu untuk berbenah. Penurunan berat badan ringan, aktivitas fisik rutin, dan pola makan tertata memberi peluang pemulihan yang nyata.
Bagi yang mempertimbangkan suplemen sebagai pelengkap, ragam pilihannya dapat dilihat di situs resmi TRUST di Shopee. Pemeriksaan gula darah berkala dan konsultasi dokter tetap menjadi langkah utama.

