Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak rencana damai Gaza berisi 15 poin yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Penolakan itu disampaikan dalam rapat kabinet mingguan pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Netanyahu Tegaskan Menolak Rencana Damai Gaza
Netanyahu menyatakan penolakannya secara eksplisit di hadapan para menteri. Ia bahkan mengulang pernyataan tersebut untuk menegaskan sikap resmi pemerintah Israel terhadap dokumen usulan Washington. Berita internasional lain di kanal Internasional BeritaEnam.
“Israel tidak menerima dokumen 15 poin tersebut.” — Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel
Menurut Netanyahu, militer Israel tidak akan melakukan penarikan pasukan apa pun sebelum Hamas benar-benar dilucuti. Ia menegaskan pelucutan itu mencakup senjata berat maupun senjata ringan, tanpa terkecuali.
Israel telah mengurangi intensitas serangan di Gaza sejak awal pekan, setelah utusan perdamaian menemui Netanyahu. Sumber yang mengetahui posisi Israel menyebut militer hanya bertindak terhadap ancaman langsung.
Isi Rencana Damai Gaza 15 Poin
Rencana damai Gaza 15 poin dikreditkan kepada Board of Peace yang dipimpin AS dan dibentuk pada Februari 2026. Forum ini melibatkan sekitar 40 negara, termasuk Israel dan beberapa negara Arab.
Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada 30 Juli 2026, yang ia sebut mencakup pelucutan penuh Hamas dan seluruh kelompok bersenjata di Gaza. Ia menyebutnya sebagai langkah monumental menuju perdamaian.
Rencana itu menyerukan penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza yang berjalan beriringan dengan pelucutan senjata Hamas. Fokus awal ditujukan pada senjata berat, situs produksi militer, gudang senjata, dan jaringan terowongan.
Respons Hamas dan Sekutu
Seorang pejabat Hamas menyatakan kelompoknya menegaskan kembali komitmen terhadap peta jalan yang disepakati. Hamas menyatakan kesiapan terlibat secara serius dalam pelaksanaan 15 poin tersebut.
Namun, Hamas menyebut penyerahan senjata beratnya bergantung pada Israel yang mengakhiri seluruh bentuk agresi dan menarik pasukan. Tuntutan yang saling bertolak belakang membuat pelaksanaan rencana terganjal soal urutan langkah. Info kawasan tersedia di Al Jazeera.
“Hamas menegaskan penyerahan senjata beratnya bergantung pada penghentian seluruh agresi Israel dan penarikan pasukan dari Gaza.” — Pejabat Hamas
Ketegangan dengan Washington
Penolakan terhadap rencana damai Gaza berpotensi memicu ketegangan dengan Trump, pendukung militer utama Israel. Netanyahu menghadapi tekanan dari menteri sayap kanan sekaligus dari Washington yang menginginkan kemajuan.
Netanyahu tengah berjuang dalam jajak pendapat menjelang pemilihan yang dijadwalkan pada 27 Oktober. Ia menyatakan Israel masih melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat terkait rencana tersebut.
Perbedaan Urutan Langkah Jadi Ganjalan
Inti perselisihan terletak pada urutan langkah yang harus dijalankan lebih dahulu. Israel menuntut Hamas melucuti senjata sebelum penarikan pasukan, sedangkan Hamas mengaitkan pelucutan dengan berakhirnya agresi.
Menurut rencana damai Gaza, fokus awal pelucutan diarahkan pada senjata berat, situs produksi militer, dan jaringan terowongan. Netanyahu menegaskan Israel menginginkan pelucutan menyeluruh, termasuk senjata ringan.
Sikap Koalisi Sayap Kanan
Menteri keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich, menyambut baik pernyataan penolakan Netanyahu. Sikap ini memperlihatkan tekanan koalisi dalam negeri yang dihadapi Netanyahu di tengah negosiasi dengan Washington.
Sejumlah pihak Palestina menilai pengumuman Netanyahu sebagai tantangan terhadap upaya perdamaian yang dipimpin AS. Perbedaan sikap ini memperlihatkan rapuhnya kesepakatan yang sempat diumumkan pada akhir Juli 2026.
Board of Peace dan Peran AS
Board of Peace yang menaungi rencana damai Gaza dibentuk pada Februari 2026 dan beranggotakan sekitar 40 negara. Forum tersebut mencakup Israel dan sejumlah negara Arab, meski tidak menyertakan perwakilan Palestina.
Trump ditempatkan sebagai ketua forum, dan kesepakatan pelucutan Hamas sempat ia umumkan sebagai capaian besar menuju stabilitas kawasan. Sejak awal pekan, militer Israel disebut telah menahan diri dan hanya menindak ancaman yang dianggap langsung di Gaza.
Penolakan rencana damai Gaza 15 poin oleh Netanyahu menambah ketidakpastian upaya mengakhiri konflik. Perbedaan soal urutan pelucutan senjata dan penarikan pasukan masih menjadi ganjalan utama.

