Site icon Beritaenam.com

Seide, Selamat Jalan Mas Teguh Esha

Satu lagi sosok legenda di dunia literasi, kepengarangan dan jurnalisme sastra era 1970-’80-an, pergi. Teguh Esha meninggal dunia, di RS Dr. Suyoto, Bintaro, Jakarta Selatan, Senin (17/5), pukul 07.23 WIB.

Namanya melegenda bersama sosok jagoan dalam novel yang melambungkan namanya, “Ali Topan Anak Jalanan”.

Tahun 1977, ia mengangkat cerita “Ali Topan Anak Jalanan” sebagai novel, setelah sebelumnya ditulis sebagai cerita berseri di majalah di tahun 1972.

Penerbitan “Ali Topan Anak Jalanan” pada tahun itu menuai sukses besar. Hanya dalam waktu enam bulan, novel itu telah dicetak sebanyak empat kali.

Popularitas Teguh Esha semakin terdongkrak oleh munculnya film “Ali Topan Anak Jalanan” di tahun yang sama yang dibintangi Junaedi Salat dan Yaty Octavia. Belakangan diserial sinetronkan dengan pemeran Ari Sihasale (1997) dan Amran Joni (2017).

Bersama Djoko dan Kadjat Adrai, sang kakak, dia menerbitkan majalah ‘Sonata’ dan menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi (1971-1973). Kemudian ia menerbitkan majalah ‘Le Laki’, menjabat sebagai pemimpin redaksi (1974-1977). Di majalah inilah ia menulis cerita bersambung ‘Dewi Besser’.

Sebagai remaja di penghujung 1970an saya terbentuk oleh karakter Ali Topan. Tentu saja saya tak sendiri melainkan juga remaja seumuran kami, masa itu. Berani, bandel, hidup di jalan, tapi romantis dan idealis.

Saat itu saya baru datang di Jakarta dari kampung, dan saya sangat ingin segera diakui dan menjadi “anak Jakarta”.

Lewat sosok Ali Topan, Mas Teguh menawarkan bahasa gaul, bahasa prokem, bahasa yang konon berasal dari orang-orang tahanan, yang kemudian menjadi bahasa slang anak muda Jakarta.

Misalnya menyebut ‘sepokat’ (sepatu), ‘bokin’ (bini, pacar), ‘cokin’ (Cina), ‘polkis’ (polisi), ‘gokil’ (gila), ‘doku’ (duit), ‘cabut’ (pamit pergi) dll. Fasih menggunakan istilah itu dalam obrolan pada masa itu – serasa sudah jadi anak metropolitan. Meski aksen medoknya susah hilang.

Selain “Ali Topan Anak Jalanan” (1977) dan “Ali Topan Detektif Partikelir” (1978), Teguh Esha juga menulis novel “Dewi Beser” (1979), “Dari Januari sampai Desember” (1980), “Izinkan Kami Bercinta” (1981), “Anak Gedongan” (1981), dan “Penembak Bintang” (1981) – yang juga mengisahkan dunia wartawan hiburan.

Pada masa produktifnya, satu novel dapat ia selesaikan dalam waktu dua bulan, katanya. Dua novel yang pertama sudah difilmkan.

Perjalanan kewartawanan mempertemukan saya dengan Mas Teguh Esha. Dan dia orang yang asyik buat ngobrol. Selalu memotivasi yang lebih muda. Saya pun kebagian tips proses kreatifnya.

Teguh Esha termasuk bagian dari komunitas Bulungan, Jakarta Selatan, yang namanya menasional, bersama sama Iwan Fals, Noorca Massardi, Alex Komang, Neno Warisman, Radar Panca Dahana, dan seniman lainnya.

Nama sebenarnya Teguh Slamet Hidayat Adrai dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timur, 8 Mei 1947.

Pernah menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Departemen Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Jabatan bergengsi pernah disandangnya yaitu Ketua IMADA (Ikatan Mahasiswa Jakarta) tahun 1973—1975, Wakil Sekretaris Jendral SOMAL (Sekretariat bersama organisasi- organisasi mahasiswa lokal di Indonesia) tahun 1975—1976, Pemimpin Redaksi Majalah Hiburan Khusus “Le Laki”.

Tapi namanya melesat ketika novelnya yang pertama Ali Topan, Anak Jalanan diterbitkan.

Dengan sikapnya yang bebas, gaya bahasanya yang kuat dan orisinil, pembangunan watak yang berhasil dan pengetahuannya tentang kehidupan serta aspirasi golongan muda metropolitan yang otentik, mengakibatkan Teguh Esha dikenal sebagai salah seorang penulis yang menonjol pada tahun 70-an.

Ayahnya, Achmad Adrai, seorang tukang listrik, meninggal ketika Teguh Esha berusia empat tahun. “Sejak itulah Ibu merangkap jadi bapak,” tutur Teguh, anak ketujuh dari delapan bersaudara itu.

Tahun 1959 ibunya, Wilujeng A. Adrai, dengan alasan “demi pendidikan anak-anak,” mengajak Teguh dan saudara-saudaranya pindah dari Bangil, Jawa Timur, ke Jakarta.

Pada usia belasan tahun di Jakarta itu, Teguh merasakan “masa tantangan hidup”. Dia dan kakak atau adiknya harus menjajakan pakaian anak-anak yang dijahit ibunya ke Pasar Tanah Abang, atau menjual kantung kertas ke beberapa toko di situ.

Dalam kehidupan yang sulit dan keras itu, ibunya menetapkan tujuan, yaitu “paling tidak anak-anak harus lulus SMA,” cerita Teguh.

Upaya itu berhasil. Bahkan salah seorang adik perempuan Teguh, yang bungsu, lulus dari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) dan kemudian menjadi dosen di situ.

Teguh mulai menulis novel tahun 1969. Kakaknya, Djoko Prayitno, redaktur majalah Sonata, ikut andil dalam perjalanan karier Teguh sebagai penulis. “Dia yang menganjurkan saya untuk selalu menulis, apa saja,” katanya mengenangkan.

Sukses novel Ali Topan, mendorong Teguh pada tahun 1981 mendirikan Ali Topan Press. Beberapa orang pegawainya adalah bekas orang bui yang dikenal Teguh dan telah memberinya andil dalam penulisan bahasa prokem. Alasan lain bikin usaha adalah ingin berdiri sendiri, tidak terikat dengan suatu badan penerbit milik orang lain. *

Exit mobile version