Serangan AS ke Iran menghantam sekitar 140 target militer pada dini hari 12 Juli 2026. Iran membalas dengan menyerang fasilitas AS di lima negara Teluk dan satu pangkalan di Yordania, membuka babak baru eskalasi kawasan.
Serangan AS ke Iran, CENTCOM Klaim Hantam 140 Target
Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command (CENTCOM) mengumumkan operasi udara yang menghantam sekitar 140 target di wilayah Iran. Sasaran mencakup lokasi peluncuran rudal dan drone, aset angkatan laut, jaringan komunikasi militer, serta gudang amunisi. CENTCOM menyebut ini sebagai rangkaian serangan ketiga terhadap Iran dalam kurun waktu satu minggu.
Serangan AS ke Iran kali ini dilakukan pada dini hari waktu setempat dan berlangsung dalam beberapa gelombang berturut-turut. Serangan sebelumnya dalam pekan yang sama menyasar fasilitas nuklir bawah tanah dan pusat pengayaan uranium. Kali ini, fokus operasi bergeser ke aset militer konvensional dan sistem pertahanan udara Iran.
Otoritas Iran belum merilis data korban resmi hingga berita ini disusun. Kantor berita pemerintah Iran hanya menyampaikan telah terjadi ledakan di sejumlah instalasi militer di kota-kota strategis. Presiden Iran menyerukan perlawanan terhadap agresi AS lewat pidato singkat di televisi nasional. Ia menyebut serangan AS ke Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negara. Konteks eskalasi sebelumnya dilaporkan pada artikel konflik AS Iran.
Balasan Iran ke Yordania dan 5 Negara Teluk
Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer AS di lima negara Teluk pada Minggu, 12 Juli 2026. Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas serangan AS ke Iran. Lima negara yang menjadi lokasi target serangan Iran adalah Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Yordania.
IRGC menyatakan tahap awal responsnya menyasar Pangkalan Udara Pangeran Hassan di Yordania menggunakan rudal balistik jarak menengah. Menurut IRGC, serangan di Yordania berhasil menghancurkan fasilitas komando dan kendali. Hanggar yang menyimpan pesawat nirawak (drone) pengintai jenis MQ-9 juga dilaporkan hancur akibat serangan tersebut.
Yordania mengutuk keras eskalasi yang terjadi di wilayahnya. Pemerintah Yordania menekankan bahwa wilayah kedaulatannya tidak seharusnya menjadi medan konflik regional antara AS dan Iran. Sejumlah negara Teluk lain, termasuk Qatar dan Kuwait, juga menyatakan keprihatinan atas eskalasi yang mengancam stabilitas kawasan. Otoritas Bahrain menutup sementara sejumlah rute penerbangan sipil. Pasar minyak dunia bereaksi cepat terhadap eskalasi ini. Harga minyak mentah jenis Brent naik signifikan pada pembukaan perdagangan Senin. Detail dilaporkan Detik edisi 12 Juli 2026.
Respons Dunia Internasional dan Sikap Indonesia
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menjadwalkan pertemuan darurat untuk membahas eskalasi. Sekretaris Jenderal PBB menyerukan de-eskalasi segera dan mendesak penghentian kekerasan. Uni Eropa, Rusia, dan Tiongkok menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan AS ke Iran. Ketiga pihak mendorong dialog diplomatik sebagai satu-satunya jalan keluar krisis yang berkembang cepat.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengeluarkan pernyataan resmi yang menyerukan penghentian aksi militer. Indonesia mengingatkan pentingnya menghormati hukum internasional dan Piagam PBB. Kedutaan Besar RI di Iran, Yordania, dan negara-negara Teluk telah mengaktifkan protokol pengamanan warga negara Indonesia. Data awal Kemenlu mencatat ribuan warga negara Indonesia berada di kawasan tersebut. Berita internasional lainnya tersedia di kanal Internasional BeritaEnam.
Otoritas Bandara Soekarno-Hatta memantau rute penerbangan yang terdampak. Sejumlah maskapai internasional melakukan pengalihan rute untuk menghindari wilayah udara Iran dan sebagian Teluk. Analis geopolitik memperingatkan bahwa serangan AS ke Iran berpotensi memicu efek domino di kawasan Timur Tengah. Aktor regional lain diperkirakan akan menyesuaikan sikap seiring dinamika konflik yang berjalan.
Sejumlah lembaga think tank mendorong dibukanya kembali kanal diplomatik multilateral. Mekanisme ini dinilai sebagai jalan tercepat menurunkan tensi tanpa membuka babak eskalasi baru di kawasan. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab dijadwalkan menggelar pertemuan darurat menteri luar negeri untuk membahas sikap kolektif menghadapi eskalasi serangan AS ke Iran.
Rangkaian serangan AS ke Iran dan balasan yang menyasar lima negara Teluk serta Yordania menandai eskalasi konflik ke skala kawasan yang lebih luas. Sejumlah negara mendesak penghentian eskalasi lewat jalur diplomatik. Perkembangan situasi terus dipantau lembaga internasional.
Kementerian Luar Negeri sejumlah negara mengimbau warga negaranya menunda perjalanan ke kawasan Teluk. Otoritas penerbangan sipil beberapa maskapai melakukan pengalihan rute untuk menghindari wilayah udara berisiko.

