Site icon Beritaenam.com

Sowan ke Ponpes di Kudus, PSI Tolak Disebut Partai Anti Islam

Rombongan PSI sowan ke KH Sa'adudin Nasih di Ngembalrejo, Bae, Kudus.

beritaenam.com, Kudus – Beberapa waktu lalu, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sempat disebut partai anti Islam. Setelah sebelumnya ada penolakan PSI terhadap poligami dan perda berbasis agama. Sekjen PSI Raja Juli Antoni menepis hal itu.

Rombongan PSI sowan ke KH Sa’adudin Nasih di Ngembalrejo, Bae, Kudus, yang merupakan pengasuh Ponpes Al Fath, Selasa (26/2).

“Sudah orang Islam. Masak disebut partai anti Islam. Silaturahim datang ke kiai. Semualah guru bangsa. Orang yang memang patut kita kunjungi dan mintai nasihat, kita keliling Jabar, Jateng, Jatim, masak kita orang Islam, anti Islam, aneh aneh saja,” kata Raja Juli.

Dia menjelaskan dalam kunjungannya itu dibeberkan, kesamaan antara KH Sa’adudin dari Aswaja Center dan PSI yakni sama memperjuangkan kesatuan Indonesia, dan NKRI.

“Jangan sampai berbeda pilihan, apalagi mempergunakan agama sebagai politik, ya Insya Allah Kudus aman,” kata dia.

KH Sa’adudin Nasih menyambut baik kunjungan PSI ke pondok pesantren. Sebab itu merupakan bentuk silaturahim untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Saya apresiasi bagaimanapun juga semua dilakukan untuk kebaikan bersama, kebaikan bangsa juga dan kebaikan negara,” kata dia.

Pihaknya berharap PSI bisa menjaga kewajiban bersama seperti menjaga kesatuan dan persatuan, solidaritas sebagaimana jargon PSI. Kemudian bisa menjaga keragaman, kebersamaan demi kesatuan dan persatuan bangsa dan negara.

Dilansir dari detik.com, Raja Juli juga menanggapi soal digugurkannya status tersangka yang membelit Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Ma’arif, dalam kasus dugaan tindak pidana pemilu.

“Saya kira itu proses hukum ya serahkan ke Bawaslu. Dari Bawaslu di Bawaslu ada gakkumdu. Apapun hasil kami dari PSI dan atas nama sekretaris TKN memberikan dukungan,” kata dia.

“Tentu sesuatu yang kami duga pelanggaran diproses. Kalau memang tidak ditemukan ya apa boleh buat. Sekali lagi mungkin ini jadi pelajaran kita bersama untuk berkampanye dengan cara damai dan cara beradab,” ujarnya.

Bahkan dalam kesempatan itu dia juga menanggapi dugaan kampanye hitam yang terjadi di Karawang Jabar terhadap pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Beredar aksi ketiga tersangka sempat viral di akun media sosial twitter @citrawida5. Dua tersangka menyebut jika Jokowi-Ma’ruf menang, maka tidak akan ada suara azan dan pernikahan sejenis akan dilegalkan.

Belakangan diketahui, ketiga ibu yang ditangkap di rumahnya masing-masing, pada Minggu,24 Februari 2019 merupakan anggota dari Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo-Sandiaga (PEPES).

“Lagi-lagi itu proses hukum ya. Saya berharap agar hal ini tidak terjadi di tempat lain. Pak Prabowo dan Pak Sandi sering mengatakan tidak akan menggunakan isu agama dalam kampanye,” ujar Raja Juli.

“Tapi faktanya di lapangan ya itu masih terjadi. Saya mintalah agar Pak Prabowo dan pak Sandi menertibkan, tidak hanya partai atau relawan,” pungkasnya.

Exit mobile version