Site icon Beritaenam.com

Tia Istiana Bersama Syiar Nada Hadirkan Lagu Birul Walidain yang Menyentuh Jiwa

lagu birul walidain tia istiana

Tia Istiana menghadirkan lagu Birul Walidain di channel YouTube Syiar Nada dengan cara yang tidak biasa: bukan sekadar melantunkan syair, melainkan seperti menitipkan sebuah surat yang sudah lama tersimpan di dalam dada, ditujukan kepada seseorang yang paling berjasa dalam hidup kita, namun kerap terlambat kita ungkapkan rasa terima kasihnya. Hasilnya adalah sebuah karya yang berat di hati, dalam artinya, dan panjang gemanya.

Ketika Sebuah Lagu Terasa Seperti Pelukan

Ada momen tertentu dalam sebuah lagu ketika pendengar tidak lagi sekadar mendengar, melainkan merasakan. Lagu Birul Walidain yang dibawakan Tia Istiana di Syiar Nada adalah salah satu momen itu. Begitu nada pertama mengalun, ada sesuatu yang bergerak di sudut hati yang sering kita abaikan, yaitu rasa rindu kepada orang tua, rasa bersalah atas waktu yang lewat tanpa cukup perhatian, dan rasa syukur yang kerap datang terlambat.

Birul Walidain, dalam tradisi Islam, bukan sekadar istilah. Ia adalah konsep yang berakar dalam, tercantum berkali-kali dalam Al-Quran, dan ditempatkan langsung setelah perintah tauhid. Dalam surah Al-Isra ayat 23, Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, tepat setelah perintah untuk menyembah-Nya saja. Posisi perintah ini bukan kebetulan. Berbakti kepada ayah dan ibu adalah amal kedua paling dicintai Allah setelah shalat pada waktunya, mengalahkan jihad fi sabilillah sekalipun, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Syair lagu Birul Walidain bukanlah sesuatu yang lahir kemarin. Ia telah mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari majelis-majelis shalawat yang bersahaja di sudut kampung hingga kini hadir di layar digital. Syiar Nada memilih untuk membawa warisan ini kepada generasi baru, dan pilihan itu bukan tanpa pertimbangan.

“Ridha Allah tergantung ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Habib Syech, Syair Jawa, dan Jejak Dakwah yang Panjang

Salah satu fakta menarik di balik lagu ini adalah akar syairnya yang dalam. Birul Walidain dalam tradisi shalawat Indonesia sangat erat kaitannya dengan syair berbahasa Jawa yang dipopulerkan oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, seorang munsyid yang namanya dikenal luas di kalangan santri dan pecinta shalawat Nusantara. Syair ini menjadi salah satu bagian dari majelis-majelis shalawat yang mengisi ribuan malam di pesantren dan musala seluruh Indonesia.

Di sinilah letak keunikan yang Syiar Nada dan Tia Istiana hadirkan. Mereka tidak sekadar mendaur ulang. Mereka menerjemahkan sebuah tradisi lisan yang hidup di majelis-majelis pesantren ke dalam format audio-visual yang bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja, dari mana saja. Apa yang dulu hanya bisa dirasakan di bawah tenda pengajian kini bisa menyentuh seseorang yang sedang duduk sendirian di kamarnya, ribuan kilometer dari kampung halaman, pada pukul dua dini hari ketika rindu kepada orang tua paling terasa.

Inilah yang menjadikan rilisan ini lebih dari sekadar konten YouTube biasa. Ia adalah jembatan antara kekayaan tradisi pesantren dan jutaan telinga digital yang sedang haus akan sesuatu yang bermakna di tengah lautan konten tanpa arah.

Ketulusan

Dalam musik religi, suara bukan hanya soal teknik. Ia adalah soal kejujuran. Pendengar bisa merasakan perbedaan antara vokalis yang melantunkan syair dengan hafalan dan vokalis yang sungguh-sungguh menghayatinya. Tia Istiana termasuk dalam kategori kedua.

Karakter vokal Tia dalam lagu Birul Walidain mengalir dengan naturalisasi yang langka. Ia tidak berusaha terdengar megah atau dramatis. Ia justru memilih untuk terdengar jujur, seperti seseorang yang sedang berbicara dari tempat yang paling tulus di dalam dirinya. Pada bagian-bagian tertentu, suaranya seperti gemetar di tepi rindu, dan di saat itulah lagu ini meraih puncak kekuatannya bukan pada nada tertinggi yang dicapai, melainkan pada kedalaman yang dirasakan.

Diksi dalam lirik dijaga dengan sangat baik, tidak ada kata yang terbuang percuma. Setiap baris mengandung muatan emosi yang terukur: dari ungkapan cinta kepada kedua orang tua, pengakuan atas besarnya jasa mereka, hingga doa yang memancar dari keikhlasan seorang anak. Tia mengantar setiap kalimat itu dengan kepekaan yang membuat pendengar tidak sekadar memahami kata-kata, tetapi juga merasakan beratnya.

“Musik telah bertahun-tahun jadi media syiar yang mudah diterima masyarakat. Lewat syair yang disusun secara apik dalam melodi nada, sebuah lagu religi bisa mengetuk hati jutaan orang.”

Aransemen yang Memberi Ruang untuk Merasakan

Dari sisi musik, aransemen dalam rilisan lagu Birul Walidain di Syiar Nada hadir dengan kesederhanaan yang terukur dan tepat sasaran. Tidak ada ornamen instrumen yang mencoba mendominasi. Justru keheningan yang tersedia di antara melodi itulah yang menjadi ruang bagi pendengar untuk masuk lebih dalam ke dalam perasaan yang sedang dibangun oleh syair.

Produksi audio yang bersih memperlihatkan bahwa Syiar Nada memahami bahwa dalam musik religi, kualitas teknis adalah bentuk penghormatan, baik kepada pendengar maupun kepada pesan yang ingin disampaikan. Setiap frekuensi terdengar jernih, setiap jeda terasa bermakna, dan keseluruhan komposisi berjalan dalam satu nafas yang padu.

Ada sebuah teori sederhana tentang lagu yang bertahan lama: ia adalah lagu yang bisa membuat pendengarnya teringat pada seseorang. Lagu Birul Walidain Tia Istiana di Syiar Nada adalah jenis lagu itu. Ia akan membuat siapapun teringat pada wajah ibu yang menunggu di rumah, pada suara ayah yang terakhir terdengar di ujung telepon, pada tangan yang dulu menggandeng kita berjalan, dan pada semua kata terima kasih yang belum sempat terucap.

5 FAKTA MENARIK SEPUTAR BIRUL WALIDAIN

  1. Perintah birrul walidain tercantum di surah An-Nisa, Al-An’am, dan Al-Isra, selalu setelah perintah tauhid.
  2. Berbakti kepada orang tua adalah amal nomor dua paling dicintai Allah, di atas jihad fi sabilillah. (HR. Bukhari dan Muslim)
  3. Syair Birul Walidain dalam tradisi shalawat Indonesia erat kaitannya dengan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, munsyid legendaris asal Solo.
  4. Birul walidain tidak berakhir saat orang tua wafat. Mendoakan dan menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang mereka kasihi tetap dihitung sebagai bakti. (HR. Muslim)
  5. Berbakti kepada orang tua dapat memanjangkan umur dan melapangkan rezeki seorang anak. (HR. Ahmad)

Tonton official music video lagu birul walidain – Tia Istiana di channell youtube Syiar Nada

Baca juga: “Ku Cinta Padamu” – Rojwa Nahdah: Pesan Menguatkan Serta Mengingatkan Pentingnya Menjaga Cinta & Iman Di Tengah Kehidupan Modern

Exit mobile version