Site icon Beritaenam.com

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Final, Selat Hormuz Segera Dibuka Kembali

trump klaim kesepakatan damai dengan iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump klaim kesepakatan damai dengan Iran hampir final, sekaligus membangkitkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pernyataan terbaru Trump pada Jumat (12/6/2026) ini langsung menggerakkan pasar global, mendorong reli bursa saham Asia dan menekan harga minyak dunia hampir tiga persen. Konflik AS-Iran yang dimulai dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah mengakibatkan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.

Pernyataan Trump dan Respons Pasar

Trump mengklaim negosiasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir. Pernyataan ini menjadi sinyal terkuat dari Washington dalam beberapa pekan terakhir mengenai kemungkinan berakhirnya konflik lewat jalur diplomasi.

Pasar merespons positif. Bursa saham AS melesat semalam: indeks S&P 500 naik 1,8 persen dan Nasdaq 100 melonjak 3,3 persen. Kontrak berjangka indeks saham untuk Jepang, Australia, dan Hong Kong semuanya menunjukkan indikasi menguat pada pembukaan Jumat pagi.

“Sentimen positif merebak setelah Trump menyatakan AS kian dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, membangkitkan harapan berakhirnya konflik lewat jalur diplomasi yang sempat mengguncang pasar global.”  – Bloomberg Technoz, 12 Juni 2026

Kronologi Konflik AS-Iran dan Blokade Selat Hormuz

Konflik bermula dari serangan gabungan AS dan Israel ke sejumlah fasilitas militer Iran pada 28 Februari 2026. Iran membalas dengan memasang ranjau dan memblokade navigasi di Selat Hormuz, memaksa ratusan kapal tanker tertahan di Teluk Persia.

Dalam kondisi normal, Selat Hormuz dilalui sekitar 130 kapal per hari. Sejak blokade diberlakukan, jumlah kapal yang melintas anjlok drastis, memicu gangguan pasokan minyak global terbesar dalam sejarah modern. Harga minyak Brent sempat melonjak di atas 108 dolar AS per barel pada pertengahan Mei 2026, naik sekitar 30 persen dari sebelum konflik.

AS merespons dengan menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan dan armada kapal milik Iran. Trump juga beberapa kali mengancam serangan militer baru jika Iran tidak menyepakati perdamaian.

Hambatan Menuju Perdamaian

Meski sinyal damai terus bergulir, negosiasi berlangsung alot. Iran menginginkan kesepakatan sementara yang memungkinkan pencabutan sebagian sanksi sehingga negara itu dapat kembali mengakses miliaran dolar pendapatan dari ekspor minyaknya. Sementara AS dan Israel menuntut pembongkaran fasilitas pengayaan nuklir Iran dan pembubaran kelompok proksi yang didukung Teheran.

Analis Kpler, Victoria Grabenwöger, mengingatkan bahwa membuka kembali Selat Hormuz tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses pembersihan ranjau, pemulihan kepercayaan perusahaan pelayaran, dan normalisasi asuransi maritim diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan setelah kesepakatan tercapai.

“Membersihkan hambatan di selat ini akan memakan waktu lama karena kapal tanker bergerak secepat Anda mengendarai sepeda.”  – Victoria Grabenwöger, Analis Senior Kpler, dikutip CNN

Proyeksi Harga Minyak Jika Hormuz Dibuka

JPMorgan memproyeksikan harga minyak mentah Brent akan rata-rata berada di kisaran 97 dolar AS per barel sepanjang sisa 2026 jika Selat Hormuz kembali normal. Sementara Wood Mackenzie memperingatkan harga bisa mendekati 200 dolar AS per barel jika blokade berlanjut hingga akhir tahun.

Bagi Indonesia, perkembangan negosiasi AS-Iran menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan arah harga BBM dalam negeri. Pemerintah telah memberlakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi pada 10 Juni 2026 yang memicu gelombang protes mahasiswa di Jakarta. Normalisasi harga minyak global berpotensi memberi ruang bagi pemerintah untuk merevisi kebijakan harga BBM tersebut.

Baca juga: Update Terbaru Perang Iran: IRGC Bombardir Pangkalan AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait Usai Insiden Apache

Exit mobile version