Site icon Beritaenam.com

Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Tersingkir Semua di 16 Besar, AS Menyusul Kanada dan Meksiko

tuan rumah Piala Dunia 2026 tersingkir

Seluruh tuan rumah Piala Dunia 2026 tersingkir di babak 16 besar setelah Amerika Serikat dikalahkan Belgia 1-4 di Lumen Field, Seattle, Selasa (7/7/2026) pagi WIB. AS menyusul dua tuan rumah lain, Kanada dan Meksiko, yang lebih dulu angkat koper di ronde yang sama. Anomali ini menjadi salah satu catatan sejarah terbesar sejak format tiga negara tuan rumah pertama kali digelar pada Piala Dunia 2026.

Fakta Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Tersingkir Serentak

Piala Dunia 2026 digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ketiga tuan rumah gagal menembus perempat final pada edisi turnamen dengan format 48 tim ini. Fakta ini menjadi sorotan besar publik sepak bola dunia.

Kanada menjadi tuan rumah pertama yang tersingkir setelah dikalahkan Maroko dengan skor telak 0-3. Meksiko menyusul setelah kalah dramatis 2-3 dari Inggris, dengan Jude Bellingham menjadi pembeda lewat dua gol dalam dua menit. AS menjadi tuan rumah terakhir yang bertahan sebelum akhirnya dihentikan Belgia. Rangkaian hasil resmi lengkap bisa dilihat pada FIFA scores.

Kekalahan AS terasa menyakitkan karena terjadi di hadapan pendukung sendiri. Skuad asuhan Mauricio Pochettino dipaksa bertekuk lutut dengan skor telak 1-4 dari Belgia, mengakhiri perjalanan seluruh tuan rumah di turnamen yang mereka gelar.

AS Tumbang di Tengah Kontroversi Balogun

Kekalahan AS berlangsung di tengah kontroversi keputusan FIFA menangguhkan sanksi kartu merah penyerang Folarin Balogun. Meski akhirnya diturunkan sebagai starter oleh Pochettino, Balogun tampil frustrasi dan terisolasi di lini depan. Ia hanya melepaskan tiga tembakan sepanjang laga.

Empat gol Belgia dicetak Charles De Ketelaere pada menit ke-9 dan ke-33, Hans Vanaken pada menit ke-57, dan Romelu Lukaku pada menit ke-90+3. Satu-satunya gol AS dicetak Malik Tillman melalui tendangan bebas pada menit ke-31 yang sempat menyamakan kedudukan.

Gelandang Belgia Nicolas Raskin menyebut kemenangan atas AS sebagai bentuk keadilan, merujuk pada kontroversi penangguhan hukuman Balogun yang menuai kecaman dari UEFA hingga sejumlah pelatih Eropa. Belgia dinilai menjadikan isu tersebut sebagai bahan bakar motivasi.

“Seperti yang saya katakan, saya kira selalu ada keadilan di suatu tempat dalam hidup. Hari ini, saya pikir itu membawa sedikit keberuntungan buat kami.” — Nicolas Raskin, Gelandang Timnas Belgia

Dominasi Eropa dan Kejutan di 16 Besar

Babak 16 besar Piala Dunia 2026 menghadirkan sejumlah kejutan besar. Selain seluruh tuan rumah tersingkir, tidak ada satu pun wakil Asia (AFC) yang tersisa. Zona Eropa (UEFA) mendominasi dengan tujuh wakil, diikuti Amerika Selatan (CONMEBOL) dengan empat wakil. Rangkuman dominasi Eropa juga diulas oleh BBC Sport.

Beberapa hasil mengejutkan lain termasuk Norwegia yang menyingkirkan Brasil, serta Spanyol yang memulangkan Portugal dan Cristiano Ronaldo. Argentina nyaris menyusul tersingkir sebelum comeback dramatis 3-2 atas Mesir untuk memastikan tiket perempat final.

“Ini hukuman yang tidak adil dan kami sudah menyampaikan pesan itu di sepanjang pertandingan. Kami harus menang untuk membuktikannya.” — Nicolas Raskin, Gelandang Timnas Belgia

Bagan Perempat Final Piala Dunia 2026

Dengan seluruh tuan rumah Piala Dunia 2026 tersingkir, delapan tim tersisa akan bersaing di perempat final yang digelar 9-11 Juli 2026. Belgia akan menghadapi Spanyol, sementara Argentina menunggu pemenang laga Swiss kontra Kolombia.

Di jalur lain, Maroko yang menyingkirkan Kanada akan menantang Prancis, sedangkan Norwegia besutan Erling Haaland akan berhadapan dengan Inggris. Turnamen kini memasuki fase yang diprediksi semakin memanas menuju babak semifinal dan final di Stadion MetLife pada 20 Juli 2026. Kejutan lain di babak 16 besar bisa dibaca pada laporan Jerman dan Belanda tersingkir dan penangguhan kartu merah Balogun.

Tersingkirnya seluruh tuan rumah Piala Dunia 2026 di babak 16 besar menjadi anomali sejarah yang jarang terjadi. Fenomena ini menegaskan bahwa keuntungan sebagai tuan rumah tidak selalu menjamin hasil, terutama di tengah persaingan ketat format 48 tim yang membuka peluang lebih besar bagi tim-tim penantang. Perempat final yang tanpa tuan rumah tersebut sekaligus membuktikan bahwa faktor dukungan lokal saja tidak cukup di level knock-out.

Exit mobile version