Site icon Beritaenam.com

Update Terbaru Perang Iran: IRGC Bombardir Pangkalan AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait Usai Insiden Apache

update terbaru perang iran
Update terbaru perang Iran: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Bahrain, dan Kuwait pada Rabu (10/6/2026), sebagai balasan atas serangan AS ke Pulau Qeshm.

Update Terbaru Perang Iran: Kronologi Insiden Apache yang Memicu Eskalasi

Eskalasi terbaru konflik Iran dengan Amerika Serikat bermula dari jatuhnya helikopter tempur AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS di kawasan Selat Hormuz pada Selasa (9/6/2026). Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social menyatakan bahwa helikopter tersebut ditembak jatuh oleh Iran saat sedang menjalankan patroli rutin.

Dua kru helikopter berhasil diselamatkan oleh drone laut milik Komando Sentral AS (CENTCOM) dalam kondisi aman dan tidak terluka. Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan insiden tersebut berlalu tanpa tanggapan.

“Bahwa tadi malam Iran menembak jatuh salah satu Helikopter Apache kami yang sangat canggih saat berpatroli di Selat Hormuz. Amerika Serikat harus, karena kebutuhan, menanggapi serangan ini.”  – Presiden AS Donald Trump, Truth Social, 9 Juni 2026 (dikutip AFP)

Merespons pernyataan Trump, pihak Iran melalui Asisten Menteri Luar Negeri Insam Saif membantah keterlibatan langsung Teheran. Saif menyebut suasana di Selat Hormuz sangat tegang sehingga insiden seperti itu bisa terjadi tanpa disengaja.

“Selat Hormuz bukanlah perairan internasional, melainkan jalur perairan bersama antara Iran dan Oman yang berjarak ribuan mil dari pantai Amerika Serikat. Untuk mengurangi risiko, solusi terbaik adalah mereka [pasukan asing] pergi.”  – Asisten Menlu Iran Insam Saif, kepada Al Jazeera, 10 Juni 2026

AS Serang Pulau Qeshm sebagai Serangan Bela Diri

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan serangan ke sejumlah lokasi di sepanjang Teluk Persia pada Rabu (10/6/2026) dini hari. Serangan ini menyasar sistem pertahanan udara dan radar di sekitar Selat Hormuz, termasuk Pulau Qeshm, pulau strategis yang menampung pangkalan militer dan terminal minyak utama Iran.

Dalam pernyataan resminya di platform X, CENTCOM menyebut operasi tersebut sebagai serangan bela diri atas perintah langsung Presiden Trump. Pasukan AS menyatakan operasi telah selesai dan bersifat proporsional terhadap agresi Iran.

“Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak beralasan.”  – CENTCOM, pernyataan resmi, Rabu 10 Juni 2026 (dikutip AFP)

Media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan beberapa proyektil menghantam Pulau Qeshm. Laporan selanjutnya menyebutkan gelombang serangan AS di wilayah selatan Iran mereda setelah operasi awal tersebut.

IRGC Klaim Serang 21 Target AS di Tiga Negara

Sebagai balasan, IRGC dalam pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah Iran pada Rabu (10/6/2026) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap 21 target militer AS yang tersebar di pangkalan udara dan pangkalan angkatan laut di Timur Tengah.

Di Bahrain, IRGC mengerahkan serangan drone terhadap markas Armada Kelima AS. Di Kuwait, sasaran utama adalah Pangkalan Udara Ali Al Salem, lokasi yang diketahui menampung personel militer AS. Sirine peringatan segera berbunyi di kedua negara tersebut, dan pertahanan udara Kuwait mengonfirmasi tengah mencegat target-target udara bermusuhan.

Di Yordania, IRGC mengklaim meluncurkan rudal jarak jauh berbahan bakar padat ke Pangkalan Al-Azraq, yang merupakan basis operasi utama AS dan menampung jet tempur F-35. Militer Yordania menyatakan berhasil mencegat lima rudal Iran yang menargetkan kawasan tersebut.

“Komando Umum Angkatan Darat Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara Kuwait saat ini sedang mencegat target-target udara yang bersifat bermusuhan sesuai dengan prosedur operasional yang telah disetujui.”  – Pernyataan militer Kuwait, dikutip The Guardian, 10 Juni 2026

IRGC mengklaim rudal mereka menghancurkan empat target penting di pangkalan Yordania, termasuk hanggar jet tempur F-35 dan pusat komando. Selain itu, IRGC juga mengklaim menembak jatuh drone MQ-9 AS di wilayah udara Iran di atas kota Jam.

Menlu Iran Ancam Kerahkan Kekuatan Militer Penuh

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak akan tinggal diam atas serangan AS. Melalui platform X, Araghchi menyatakan bahwa kehadiran pasukan asing di dekat wilayah Iran selalu membawa risiko yang tidak terhindarkan.

“Meski mengalami kekalahan di medan perang, AS memilih menguji tekad kami. Pasukan Iran tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan. Tinggalkan wilayah kami jika Anda ingin aman.”  – Menlu Iran Abbas Araghchi, platform X, 10 Juni 2026 (dikutip Kompas.com)

IRGC menyimpulkan pernyataannya dengan peringatan bahwa pasukannya tetap dalam kondisi siaga penuh dan siap memberikan respons yang lebih besar terhadap tindakan militer AS selanjutnya, termasuk kemungkinan penutupan total Selat Hormuz bagi pengiriman minyak dan gas.

Dampak pada Gencatan Senjata dan Jalur Perundingan Nuklir

Insiden Apache ini terjadi di tengah gencatan senjata AS-Iran yang berlangsung sejak 8 April 2026, namun disebut para analis sebagai gencatan senjata yang masih rapuh. Helikopter Apache adalah pesawat berawak kedua yang dikonfirmasi Washington ditembak jatuh oleh Iran selama perang Timur Tengah, setelah hilangnya jet tempur F-15 pada April 2026.

Bersamaan dengan itu, ketegangan juga meningkat antara Iran dan Israel. Sehari sebelum insiden Apache, Iran dan Israel kembali terlibat baku tembak untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diberlakukan. Televisi pemerintah Iran melaporkan sejumlah korban sipil dari serangan Israel tersebut.

Sementara itu, dalam konteks yang lebih luas, Bank Dunia sebelumnya memprediksi harga minyak mentah Brent rata-rata berada di level 86 dolar AS per barel pada 2026, melonjak dari 69 dolar AS pada 2025, sebagai dampak langsung dari gangguan pasokan akibat perang Iran terhadap jalur pengiriman di Selat Hormuz.

Situasi Masih Berkembang

Hingga berita ini diturunkan, CENTCOM menyatakan telah merampungkan operasinya. Namun IRGC menegaskan pasukan Iran tetap dalam kondisi siap tempur penuh. Perkembangan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, terus dipantau ketat oleh komunitas internasional.

Baca juga: IRGC Serang Pangkalan Udara AS sebagai Balasan Serangan di Bandar Abbas

Exit mobile version