Wabah Ebola Kongo di Republik Demokratik Kongo (DRC) berisiko menewaskan hingga 1.000 orang per hari jika virus menyebar ke kamp-kamp pengungsian padat di Provinsi Ituri. Peringatan tersebut disampaikan pejabat setempat menyusul lonjakan kasus dan kematian dalam beberapa pekan terakhir. Peringatan ini menempatkan Kongo pada peta risiko global yang harus ditangani dengan intervensi cepat.
Data Terkini Wabah Ebola Kongo
Otoritas kesehatan DRC pada Minggu (5/7/2026) merilis laporan terbaru. DRC mencatat 1.561 kasus terkonfirmasi, termasuk 506 kematian. Sebanyak 254 pasien telah dinyatakan sembuh, sementara 628 pasien terkonfirmasi lain saat ini menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit. Data terkini dapat diakses pada situs WHO.
Otoritas setempat juga mengidentifikasi 354 kasus suspek, termasuk 110 kematian tambahan. Wabah sejauh ini telah berdampak pada 36 zona kesehatan di tiga provinsi. Provinsi Ituri menjadi episentrum dengan 1.417 kasus dan 424 kematian di 24 dari 36 zona kesehatan.
Wabah dinyatakan secara resmi pada 15 Mei 2026 oleh Kementerian Kesehatan DRC. Virus yang beredar adalah Bundibugyo, salah satu strain langka Ebola yang berbeda dari virus Zaire. Berdasarkan Wikipedia dan CDC AS, ini adalah wabah Ebola ke-17 di DRC dan telah menjadi wabah Ebola ketiga terbesar dalam sejarah.
Peringatan Risiko 1.000 Kematian per Hari
Peringatan darurat disampaikan Menteri Urusan Sosial, Kemanusiaan, dan Solidaritas Nasional DRC, Eve Bazaiba Masudi, pada Sabtu (4/7/2026). Provinsi Ituri saat ini menjadi pusat penyebaran wabah dengan populasi sekitar 1,15 juta orang yang tersebar di 69 fasilitas penampungan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
“Jika kasus Ebola muncul di situs-situs pengungsian ini, terdapat risiko jumlah infeksi dapat meningkat setidaknya seribu orang per hari.” — Eve Bazaiba Masudi, Menteri Urusan Sosial DRC
Wabah Ebola Kongo kali ini berlangsung dalam konteks yang menantang. Wilayah Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan tengah mengalami krisis kemanusiaan dengan 1,9 juta orang membutuhkan bantuan. Konflik berkepanjangan di kawasan tersebut juga mempersulit upaya pengawasan dan pelacakan kontak.
Tidak Ada Vaksin Khusus untuk Virus Bundibugyo
Salah satu tantangan terbesar wabah Ebola Kongo saat ini adalah tidak adanya vaksin atau pengobatan spesifik untuk virus Bundibugyo. Vaksin Ervebo yang disetujui untuk virus Zaire dinilai WHO tidak memiliki bukti cukup untuk digunakan dalam wabah ini.
Meski demikian, uji klinis telah dimulai di pusat perawatan Ebola CME di zona kesehatan Rwampara, Provinsi Ituri. Uji klinis ini bertujuan mengevaluasi pengobatan potensial bagi penyakit virus Bundibugyo. Data historis menunjukkan tingkat kematian dua wabah Bundibugyo sebelumnya berkisar antara 25 hingga 50 persen.
Respon Global dan Kasus Impor
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) sejak 17 Mei 2026. Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya memperingatkan bahwa wabah kali ini sangat serius karena mencatat peningkatan kasus dan kematian yang sangat pesat dibandingkan wabah Ebola sebelumnya.
“Wabah yang sedang berlangsung ini masih sangat serius, karena mencatat peningkatan yang sangat pesat dalam hal jumlah kasus maupun kematian dibandingkan dengan wabah Ebola sebelumnya.” — Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa CDC
Amerika Serikat sejak 18 Mei 2026 telah membatasi masuk warga yang berkunjung ke DRC, Uganda, atau Sudan Selatan dalam 21 hari sebelumnya. Kasus impor telah dilaporkan di Jerman (warga AS yang dievakuasi medis pada Mei) dan Prancis (dokter yang kembali dari misi kemanusiaan pada 24 Juni). Uganda mencatat 20 kasus terkonfirmasi dengan dua kematian, sebagian besar terkait perjalanan dari DRC. Panduan pencegahan lengkap tersedia di CDC AS.
Bantuan Internasional Mengalir
Sejumlah negara telah mengirimkan bantuan medis ke DRC. China dilaporkan mengirim tim medis tambahan pada awal Juli. WHO juga terus meningkatkan dukungan untuk pemerintah DRC dan Uganda melalui penguatan pengawasan, pelacakan kontak, kesiapan klinis, dan keterlibatan komunitas. Informasi seputar penyakit dan pencegahan lain juga tersedia pada panduan tips menjaga kesehatan di kanal kesehatan.

