Negosiasi AS Iran putaran kedua di Islamabad, Pakistan, terancam batal pada Selasa (21/4/2026) setelah kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance menembak dan menyita kapal kargo berbendera Iran, MV Touska, di Teluk Oman pada Minggu (19/4/2026). Iran menyatakan insiden tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April 2026 dan merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin (20/4/2026) menegaskan bahwa Teheran tidak akan duduk di meja perundingan selama kebijakan blokade laut Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran masih berlaku.
“AS telah melanggar gencatan senjata sejak awal pelaksanaannya. Blokade terhadap pelabuhan Iran adalah pelanggaran terhadap kesepakatan dan hukum internasional.”
— Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, 20 April 2026
Kronologi insiden MV Touska
Kapal kargo MV Touska berlayar dengan kecepatan 17 knot menuju pelabuhan Bandar Abbas, Iran, ketika dicegat USS Spruance di bagian utara Laut Arab pada Minggu (19/4/2026). Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan kapal tersebut telah diperingatkan berulang kali selama enam jam, termasuk perintah untuk mengosongkan ruang mesin.
Setelah awak kapal MV Touska tidak mengindahkan seluruh peringatan, USS Spruance menembaki ruang mesin kapal tersebut hingga sistem propulsinya lumpuh dan kapal tidak dapat bergerak. Marinir AS kemudian naik ke kapal dan mengambil alih kendali penuh. CENTCOM menyiarkan video penyerangan tersebut kepada publik.
Presiden Donald Trump mengumumkan insiden itu melalui platform Truth Social. Ia menyebut MV Touska sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Kementerian Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal. Trump juga menyatakan marinir AS sedang memeriksa seluruh muatan kapal tersebut.
“Sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama TOUSKA mencoba melewati blokade angkatan laut kita, dan itu tidak berjalan baik bagi mereka. Kapal angkatan laut kami menghentikan mereka dengan menembaki ruang mesin.”
— Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, melalui Truth Social, 20 April 2026
Iran ancam tidak hadir, Pakistan berupaya mediasi
Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, dan kantor berita Tasnim melaporkan bahwa saat ini tidak ada rencana dari pihak Iran untuk berpartisipasi dalam putaran negosiasi AS Iran berikutnya. Teheran menganggap situasi yang ada tidak memungkinkan terlaksananya negosiasi yang bermanfaat.
Pakistan, sebagai mediator, berupaya keras membujuk Iran agar tetap hadir. Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri Pakistan dilaporkan telah secara langsung menghubungi Presiden dan Menteri Luar Negeri Iran. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga menggelar pertemuan khusus untuk membahas keputusan tersebut.
Menurut sumber yang dekat dengan upaya mediasi ini, pada putaran kedua yang direncanakan, Pakistan bermaksud mendorong kedua pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang secara efektif memperpanjang gencatan senjata hingga 60 hari ke depan. Namun, semua rencana tersebut bergantung pada kehadiran Iran.
“Perkataan dan perbuatan AS selalu bertentangan, sehingga sulit menentukan kelanjutan perundingan. Iran tidak akan mengalah dalam posisi perundingan.”
— Mohammed Bagher Qalibaf, Ketua Delegasi Iran sekaligus Ketua Parlemen Iran
Selat Hormuz dan dampak bagi Indonesia
Eskalasi ini terjadi saat gencatan senjata AS-Iran akan berakhir pada Rabu, 22 April 2026. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia, masih dalam status tertutup oleh Iran sejak blokade AS resmi dimulai pada 13 April 2026. Iran sebelumnya sempat membuka selat tersebut pada Jumat (17/4) sebagai pengakuan atas gencatan senjata, tetapi menutupnya kembali pada Sabtu (18/4) sebagai respons atas blokade laut AS.
Dampak langsung terhadap Indonesia sudah terasa. Pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) menaikkan harga tiga jenis BBM non-subsidi per 18 April 2026, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, yang dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia akibat ketidakpastian di Selat Hormuz. Selain itu, dua kapal tanker milik Pertamina dilaporkan masih tertahan di kawasan Selat Hormuz.
Analis dari Reuters memperkirakan bahwa meski Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya, pemulihan aliran minyak dan gas global ke tingkat sebelum konflik membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Ketidakpastian ini terus menekan pasar energi global dan berimbas pada volatilitas nilai tukar rupiah.
Pokok tuntutan dan status negosiasi
Putaran pertama negosiasi AS Iran berlangsung selama 21 jam di Islamabad pada 11 April 2026 dan berakhir tanpa kesepakatan. Sejak itu, AS dan Iran berkomunikasi secara tidak langsung melalui perantaraan Pakistan. Pokok perundingan mencakup program pengayaan uranium Iran, relasi Iran dengan kelompok bersenjata di kawasan, serta akses dan kontrol atas Selat Hormuz.
Iran juga diketahui menuntut pencabutan sanksi, kompensasi perang, serta hak mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintas Selat Hormuz. Sementara itu, AS menegaskan bahwa blokade laut akan tetap diberlakukan hingga kesepakatan dicapai, dan program pengayaan nuklir Iran harus dihentikan pada level yang tidak memungkinkan produksi senjata nuklir. Iran berulang kali membantah memiliki ambisi tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance beserta delegasi telah tiba di Pakistan, namun kepastian digelarnya pertemuan masih belum ada. Trump menyatakan bahwa kesepakatan bukan hal yang mutlak diperlukan, sembari kembali mengancam akan menyerang infrastruktur Iran jika negosiasi gagal. Gencatan senjata yang saat ini berlaku berakhir pada Rabu, 22 April 2026.
Situasi terkini (21 April 2026): Iran belum mengkonfirmasi kehadiran delegasinya di Islamabad. Selat Hormuz masih tertutup. Gencatan senjata berakhir besok, 22 April 2026.




