Iran menegaskan situasi di Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti kondisi sebelum perang. Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei.
Baqaei menyampaikan hal tersebut dalam wawancara yang disiarkan televisi pada Minggu, 2 Agustus 2026 malam. Ia menegaskan kesepakatan dengan Oman tidak serta-merta berarti jalur strategis itu akan dibuka kembali. Pernyataan ini muncul di tengah perhatian dunia terhadap keamanan pelayaran di kawasan Teluk. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran terpenting bagi distribusi energi global.
Pernyataan Iran soal Selat Hormuz
Terkait masa depan Selat Hormuz, Baqaei menegaskan sikap tegas pemerintah Iran. Ia menyatakan jalur tersebut tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari. Baqaei mengungkapkan pembicaraan antara Teheran dan Muscat mengenai masa depan selat itu telah berlangsung.
Pembicaraan itu bertujuan menyusun kerangka kerja untuk menjamin keamanan pelayaran di kawasan. Menurut Baqaei, kesepahaman dengan Oman tidak otomatis membuka kembali jalur tersebut. Ia menegaskan pengaturan baru akan tetap diterapkan Iran di selat itu. Berita internasional lain di kanal Internasional BeritaEnam.
“Dalam keadaan apa pun, Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang.” — Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kemenlu Iran
Peringatan Iran terkait Selat Hormuz
Dalam pernyataannya, Baqaei juga menyampaikan peringatan kepada pihak lain. Ia menyebut Iran telah menerima komunikasi diplomatik dari sejumlah negara dalam kurun waktu tertentu. Baqaei memperingatkan negara yang membantu agresi terhadap Iran akan menanggung konsekuensi.
Ia menyebut penyediaan pangkalan militer atau dukungan logistik dapat membuat suatu negara dianggap turut bertanggung jawab. Ia menegaskan sikap Iran didasarkan pada hak membela diri dan prinsip hukum internasional. Pernyataan tersebut menegaskan posisi Iran yang tetap mempertahankan kendali atas jalur strategis itu. Laporan lengkap dipublikasikan Reuters.
Latar Konflik di Balik Selat Hormuz
Ketegangan itu bermula dari konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Iran memperketat kendali atas selat tersebut sejak akhir Februari. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional Kazem Gharibabadi sebelumnya menyampaikan sikap senada.
Ia menegaskan Iran tidak akan membiarkan selat kembali ke statusnya sebelum perang. Menurut Gharibabadi, Iran menempatkan pengelolaan selat sebagai bagian dari keamanan nasional. Ia menyebut pengaturan masa depan jalur itu akan berdampak jangka panjang terhadap keamanan negaranya.
“Jika situasi di selat kembali seperti sebelum perang, kesuksesan kami dalam perang tidak akan lengkap.” — Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran
Ketegangan di Kawasan Teluk
Kawasan Teluk menjadi salah satu titik yang paling disorot dalam dinamika geopolitik. Rangkaian konflik di kawasan itu berdampak pada stabilitas regional. Sejumlah negara di kawasan turut mencermati perkembangan situasi yang berlangsung.
Jalur pelayaran di kawasan tersebut memiliki peran penting bagi perdagangan dunia. Gangguan pada jalur itu dapat berdampak pada distribusi energi global. Berbagai pihak menyerukan pentingnya upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan. Komunitas internasional terus memantau dinamika yang berkembang di kawasan itu.
Dampak Global terkait Selat Hormuz
Ketegangan di Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap kondisi energi global. Pembatasan navigasi di jalur tersebut sebelumnya mengakibatkan lonjakan harga energi dunia. Selat Hormuz dikenal sebagai jalur yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak mentah dunia.
Perkembangan situasi di jalur strategis itu berpengaruh terhadap pasar energi global. Berbagai negara menaruh perhatian pada stabilitas kawasan tersebut. Upaya diplomasi diharapkan dapat menurunkan ketegangan yang berlangsung, dan komunitas internasional menantikan penyelesaian yang menjaga keamanan pelayaran.








