Demo ricuh di Prancis pecah dalam aksi nasional menentang kenaikan biaya hidup pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di sejumlah kota, termasuk Nice, menurut CNN Indonesia dan Al Jazeera.
Demo Ricuh di Prancis Dipicu Biaya Hidup dan Kondisi Sekolah
Aksi nasional itu menentang kenaikan harga, turunnya standar hidup, dan buruknya kondisi sekolah, menurut Al Jazeera. AP menyebut serikat buruh, kelompok pelajar, dan aktivis yang menghidupkan kembali gerakan rompi kuning ikut menyelenggarakan aksi tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Prancis menghitung sekitar 550.000 orang dalam 110 aksi pawai. Penyelenggara, termasuk serikat CGT dan kelompok pelajar, memperkirakan jumlah massa mendekati 800.000 orang.
Aksi tersebut mengikuti unjuk rasa pelajar selama beberapa pekan, menurut Al Jazeera. Pada 1 Oktober, Kementerian Dalam Negeri melaporkan lebih dari 1.900 penangkapan, menurut iNews yang dimuat RCTI+.
Dalam laporan yang sama, 305 polisi terluka dan 560 sekolah terdampak. Angka sekolah itu disampaikan Kementerian Pendidikan.
Penjarahan di Nice dan Kerusakan di Kota Lain
Rekaman kamera pengawas menunjukkan sebuah toko aksesori ponsel dijarah di Nice saat demo ricuh di Prancis pada Sabtu, 17 Oktober 2026, menurut CNN Indonesia. Artikel itu menyebut pelaku juga masuk ke toko barang mewah, supermarket, dan toko roti.
Al Jazeera memasukkan Nice dan Strasbourg dalam daftar kota yang terdampak kekerasan, tanpa merinci kejadian di kedua kota.
Di Paris, polisi menembakkan gas air mata dan meriam air di Place de la République terhadap demonstran bertopeng yang melempar petasan dan batu, menurut Al Jazeera. Sejumlah stasiun metro di sekitar Champs-Élysées ditutup.
Balai kota Marseille, Lille, dan Limoges menjadi sasaran, menurut Al Jazeera. Pedemo sempat masuk lobi Balai Kota Marseille, dan kebakaran terjadi di kantor informasi wisata di Lyon, menurut AP.
Di Limoges, balai kota berusia sekitar 140 tahun dibakar, menurut CNN Indonesia. Atap dan menara loncengnya runtuh, dan CNN Indonesia menyebut kebakaran terjadi pada 18 Oktober, sehari setelah aksi nasional.
Di Bordeaux, kompleks kepolisian dirusak, menurut Al Jazeera. Kerusakan itu terjadi di tengah penjarahan ratusan usaha di berbagai kota, menurut AP.
Data Penangkapan dan Korban Luka yang Berbeda
Angka penangkapan dalam demo ricuh di Prancis berbeda antar laporan. Al Jazeera melaporkan sekitar 1.200 penangkapan dan 150 polisi terluka, sedangkan AP melaporkan sedikitnya 2.400 orang ditangkap secara nasional, termasuk 855 orang di wilayah Paris.
CNN Indonesia menyebut lebih dari 2.000 orang ditangkap. Selama demo ricuh di Prancis, polisi menembakkan gas air mata dan memukul pedemo, sementara penjarah merusak toko, menurut CNN Indonesia.
Seorang remaja 17 tahun di Saint-Étienne kehilangan tangan kanan setelah terkena granat pengendali massa, menurut Al Jazeera. AP menambahkan seorang remaja perempuan 17 tahun di Mulhouse kehilangan satu mata.
Laporan tentang korban jiwa dalam demo ricuh di Prancis juga berbeda. CNN Indonesia menyebut satu pedemo tewas sejak aksi 17 Oktober, sedangkan AP menyebut satu orang di Paris meninggal karena serangan jantung dan polisi tidak memberikan rincian.
Tanggapan Macron dan Pemerintah Prancis
Presiden Emmanuel Macron berbicara seusai demo ricuh di Prancis pada Minggu, 18 Oktober 2026, menurut AP. Ia menyebut kekerasan tak terkendali dilakukan elemen pemberontak dari kelompok kiri jauh yang radikal, bergabung dengan banyak penjahat.
“Mereka yang menjarah harus membayar kerusakan, dan mereka yang berusaha menjatuhkan Republik akan dimintai pertanggungjawaban.”
Emmanuel Macron, Presiden Prancis, terjemahan dari bahasa Inggris, dikutip AP
Macron menginstruksikan para prefek bekerja sama dengan wali kota untuk melindungi gedung publik dan usaha, termasuk melarang unjuk rasa bila perlu. CNN Indonesia juga menyebut Macron mengecam kerusuhan di Nice dan mengancam tindakan lebih keras.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menuliskan pernyataannya di platform X, menurut AP.
“Hak untuk berunjuk rasa adalah hak fundamental. Sengaja dan bersama-sama menebar kekacauan dengan kekerasan bukanlah hak itu.”
Laurent Nuñez, Menteri Dalam Negeri Prancis, terjemahan dari bahasa Inggris, dikutip AP
Nuñez menyebut para pembuat kerusuhan sebagai kelompok kiri jauh radikal yang sangat keras, dan sebagian besar yang ditangkap adalah orang dewasa, menurut Al Jazeera. Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyebut korban yang tidak lebih besar sebagai hampir sebuah keajaiban.
Politikus kiri jauh Jean-Luc Mélenchon menyebut Lecornu bermain api, menurut AP. Pernyataan itu muncul setelah penangkapan, penjarahan, dan kerusakan gedung publik di berbagai kota.
Demo ricuh di Prancis pada 17 Oktober 2026 meninggalkan ribuan penangkapan, korban luka, dan kerusakan gedung publik di berbagai kota, termasuk Nice. Jumlah penangkapan dan korban berbeda antar laporan, dan perhitungan resmi lengkap belum diumumkan dalam laporan-laporan tersebut. Perkembangan lain dapat diikuti di kanal berita internasional beritaenam.com.







