Apa itu hantavirus? Pertanyaan ini kembali ramai diperbincangkan setelah wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menyita perhatian dunia pada awal Mei 2026. Hantavirus adalah kelompok virus yang disebarkan oleh hewan pengerat, terutama tikus, dan dapat menyebabkan penyakit serius bahkan kematian pada manusia. Meski tergolong langka, tingkat kematiannya yang tinggi menjadikan virus ini layak untuk diketahui oleh masyarakat umum.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), hantavirus pertama kali teridentifikasi secara ilmiah selama Perang Korea pada tahun 1950-an. Sejak saat itu, berbagai strain hantavirus telah ditemukan di seluruh penjuru dunia, dari Amerika, Eropa, hingga Asia termasuk Indonesia.
Apa Itu Hantavirus dan Apa Saja Jenisnya
Hantavirus adalah virus zoonosis, artinya virus yang berpindah dari hewan ke manusia. Virus ini termasuk dalam genus Orthohantavirus dan secara alami hidup di dalam tubuh hewan pengerat seperti tikus, mencit, celurut, dan tikus tanah, tanpa menyebabkan penyakit pada inangnya.
Terdapat dua sindrom utama akibat infeksi hantavirus pada manusia. Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu infeksi yang menyerang paru-paru dan paling banyak ditemukan di kawasan Amerika. Strain penyebabnya antara lain Sin Nombre virus di Amerika Utara dan Andes virus di Amerika Selatan. Kedua adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu infeksi yang menyerang ginjal dan lebih umum di Eropa serta Asia, dengan strain seperti Puumala dan Seoul virus.
Andes virus, strain yang teridentifikasi dalam wabah MV Hondius, merupakan satu-satunya hantavirus yang memiliki dokumentasi penularan terbatas dari manusia ke manusia, meskipun hal ini sangat jarang terjadi dan umumnya hanya melalui kontak fisik yang sangat dekat.
Bagaimana Cara Penularan Hantavirus ke Manusia
Penularan hantavirus ke manusia terjadi melalui tiga jalur utama. Cara paling umum adalah melalui inhalasi, yaitu menghirup partikel aerosol dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi dan telah mengering. Proses ini kerap terjadi tanpa disadari, misalnya saat membersihkan gudang, kabin, atau ruangan tertutup yang jarang digunakan.
Jalur kedua adalah kontak langsung, yaitu menyentuh urine, sarang, atau kotoran tikus lalu menyentuh area wajah seperti mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Jalur ketiga yang lebih jarang adalah melalui gigitan hewan pengerat yang terinfeksi. Dalam mayoritas kasus, virus tidak menyebar dari satu manusia ke manusia lain.
“Hantavirus pulmonary syndrome adalah penyakit zoonosis dengan penularan utama melalui inhalasi aerosol dari debu urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.” – Dr. Dicky Budiman, Epidemiolog, dikutip dari Antara
Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai
Salah satu tantangan terbesar dari hantavirus adalah gejalanya yang sangat menyerupai flu pada tahap awal. Masa inkubasi berlangsung antara 1 hingga 8 minggu setelah terpapar virus. Pada fase pertama, penderita biasanya mengalami demam tinggi yang muncul tiba-tiba, nyeri otot terutama di paha dan punggung, kelelahan ekstrem, sakit kepala, serta mual dan gangguan pencernaan.
Pada penderita HPS, gejala awal ini akan berkembang menjadi kondisi kritis dalam 4 hingga 10 hari. Paru-paru mulai terisi cairan sehingga muncul batuk parah dan sesak napas berat. Kondisi ini dapat memburuk dengan sangat cepat hingga menyebabkan gagal napas akut yang membutuhkan penanganan ICU segera.
Pada penderita HFRS, gejala berkembang ke arah kerusakan ginjal, ditandai dengan tekanan darah rendah, pendarahan internal, serta gagal ginjal akut. Tingkat kematian HPS berkisar 38 hingga 40 persen, sementara HFRS berkisar antara 5 hingga 15 persen, tergantung strain virus yang menginfeksi.
“Pada tahap awal penyakit, Anda mungkin benar-benar tidak dapat membedakan antara hantavirus dan flu biasa.” – Dr. Sonja Bartolome, Spesialis Paru, UT Southwestern Medical Center, Amerika Serikat
Pengobatan Hantavirus: Apa yang Bisa Dilakukan
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus spesifik maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk mengatasi infeksi hantavirus. Penanganan medis sepenuhnya bersifat suportif, artinya ditujukan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Pasien dengan gejala berat umumnya dirawat di unit perawatan intensif dan mendapatkan terapi oksigen, ventilasi mekanis untuk mendukung pernapasan, serta pemantauan ketat fungsi ginjal dan tekanan darah. Pada kasus HFRS, prosedur dialisis mungkin diperlukan untuk membantu kerja ginjal. Kecepatan penanganan medis menjadi faktor kunci yang menentukan peluang bertahan hidup pasien.
Cara Mencegah Infeksi Hantavirus di Rumah dan Lingkungan
Karena belum ada vaksin, pencegahan menjadi satu-satunya perlindungan efektif terhadap hantavirus. Langkah pertama dan paling penting adalah mengendalikan populasi tikus di lingkungan tempat tinggal dan bekerja. Tutup lubang dan celah masuk tikus sekecil apa pun menggunakan kawat baja atau semen, karena tikus dapat masuk melalui lubang berdiameter hanya 6 milimeter.
Saat membersihkan area yang dicurigai terkontaminasi kotoran tikus, seperti gudang atau ruangan tertutup yang lama tidak digunakan, gunakan sarung tangan karet dan masker pelindung. Hindari menyapu kering atau menggunakan penghisap debu karena tindakan ini justru mengangkat partikel virus ke udara. Semprotkan disinfektan terlebih dahulu, biarkan beberapa menit, baru bersihkan dengan kain lembap.
Simpan bahan makanan dalam wadah kedap udara, jaga kebersihan area dapur dan tempat sampah, serta segera buang sampah organik agar tidak menarik tikus. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 40 detik setelah beraktivitas di luar ruangan atau setelah kontak dengan area yang berpotensi terkontaminasi.
Kapan Harus Segera ke Dokter
Segera cari pertolongan medis apabila Anda mengalami gejala demam tinggi mendadak, nyeri otot, dan kelelahan hebat, terutama jika sebelumnya Anda pernah berada di lingkungan dengan populasi tikus tinggi atau baru saja membersihkan gudang dan ruangan tertutup lama. Waspadai jika gejala mirip flu tersebut disertai sesak napas, karena kondisi ini menandakan kemungkinan infeksi berkembang ke tahap kritis.
Hantavirus tidak menular melalui udara biasa antarmanusia, sehingga tidak perlu panik berlebihan jika seseorang di sekitar Anda sakit flu. Kewaspadaan perlu ditingkatkan khusus bagi mereka yang bekerja di bidang pertanian, konstruksi, pengendalian hama, atau tinggal di daerah dengan kepadatan tikus tinggi.
WHO menegaskan bahwa risiko hantavirus menjadi pandemi global sangat rendah. Dengan memahami cara penularan dan menerapkan kebersihan lingkungan secara konsisten, risiko infeksi dapat diminimalkan secara signifikan.
Baca juga: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius: 3 Tewas, WHO Pantau Ratusan Penumpang dari 23 Negara

