Faisal Basri : Ganti Saja Menteri Yang Gandrung Mengimport

oleh

“Bapak Presiden, mereka mau gampangnya saja — lebih mengedepankan value extraction alias percaloan yang menguntungkan  segelintir orang, dibanding value creation dengan kebijakan kreatif dan inovatif yang menaburkan kemaslahatan bagi banyak orang.” 

Ekonom senior Faisal Basri menyoroti rencana pemerintah mengimpor satu juta ton beras pada tahun ini. Ia menilai jumlah beras yang akan didatangkan tersebut cukup besar.

“Tak ada halilintar, tak ada guruh, tiba-tiba pemerintah hendak mengimpor beras dalam jumlah cukup besar tahun ini. Satu juta ton, separuhnya untuk meningkatkan cadangan beras pemerintah (CBP) dan separuh lagi untuk memenuhi kebutuhan Bulog,” ujar ujar Faisal dalam laman pribadinya faisalbasri.com.

Rencana impor beras itu dipaparkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada pekan lalu. Bahkan, tutur dia, Menteri Perdagangan mengakui telah memiliki jadwal untuk mewujudkan rencana impor itu.

Faisal mengingatkan pemerintah agar tidak mengulangi kesalahan pada tahun 2018.

Kala itu, dengan tingkat produksi yang bisa dikatakan tidak buruk, Faisal melihat lonjakan impor sepanjang tahun 2018 mengakibatkan stok yang dikuasai oleh pemerintah untuk PSO/CBP naik hampir 4 juta ton sedangkan penyalurannya anjlok dari 2,7 juta ton menjadi 1,9 juta ton.

Akibatnya, stok beras melonjak lebih dua kali lipat dari 0,9 juta ton pada akhir 2017 menjadi 2 juta ton pada akhir 2018.

Bulog pun, menurut dia, kewalahan mengelola stok sebanyak itu. Bahkan, hingga kini Bulog masih memiliki stok beras impor ratusan ribu ton sisa pengadaan tahun 2018.

“Kualitas beras yang dikelolanya merosot, bahkan ada yang menjadi tidak layak konsumsi. Ongkos ‘uang mati’ pun tentu saja meningkat. Yang lebih mendasar lagi, kemampuan Bulog menyerap beras dari petani menjadi terbatas,” tutur dia.

Meskipun kala itu memang butuh impor beras untuk stabilisasi harga menjelang pemilu, namun Faisal menilai jumlahnya melebihi kebutuhan.

Tak ayal, harga gabah kering di tingkat petani sempat merosot ke titik terendah dalam 9 bulan terakhir.

Ia mengatakan penyebab lain dari penurunan harga adalah waktu pelaksanaan impor yang ganjil, yakni impor relatif tinggi ketika masa panen atau tatkala terjadi surplus dan sangat sedikit ketika sedang mengalami defisit, alias konsumsi lebih besar dari produksi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *