Beritaenam.com – Gencatan senjata perang Iran-AS 2026 resmi disepakati pada Rabu (8/4/2026), setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penangguhan serangan militer selama dua pekan dengan syarat Iran membuka penuh Selat Hormuz. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan ini mengakhiri ketegangan militer paling besar antara Washington dan Teheran sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026.
Kronologi Perang Iran-AS 2026: Dari Serangan 28 Februari hingga Gencatan Senjata
Konflik ini berakar dari serangkaian eskalasi yang berlangsung sepanjang awal 2026. Pada akhir Desember 2025, protes antipemerintah terbesar sejak Revolusi 1979 meletus di Iran, dipicu oleh krisis ekonomi dan anjloknya nilai rial. Pemerintah Iran merespons dengan represi berdarah yang mengakibatkan ribuan korban jiwa. Berbagai pihak melaporkan angka berbeda: aktivis hak asasi manusia mencatat lebih dari 7.000 orang tewas, sementara pemerintah Iran menyebut angka 3.117 jiwa.
Memasuki Februari 2026, Trump memperkuat postur militer AS di Timur Tengah dengan mengerahkan dua kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford. Dalam pidato kenegaraan 24 Februari 2026, Trump menuduh Iran mengembangkan kembali program senjata nuklir. Empat hari kemudian, pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan udara serentak ke berbagai sasaran di Iran. Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, bersama sejumlah pejabat militer senior.
Iran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel, pangkalan militer AS di kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia. Penutupan tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak Brent melonjak ke US$91,8 per barel atau naik 27 persen dalam kurun 27 Februari hingga 9 Maret 2026.
Eskalasi Awal April 2026: Iran Tembak Jatuh Jet AS, Selat Hormuz Memanas
Dalam periode awal April 2026, situasi perang Iran-AS semakin kompleks. Militer Iran mengklaim berhasil menembak jatuh dua jet tempur AS, termasuk pesawat A-10 Thunderbolt II, memaksa operasi penyelamatan besar-besaran oleh AS dengan mengerahkan 176 pesawat dan ratusan pasukan elite di tujuh lokasi di Iran. Operasi penyelamatan dua awak F-15 itu diperkirakan menelan biaya setara Rp8,5 triliun.
Serangan AS dan Israel juga menghantam berbagai infrastruktur strategis Iran, termasuk fasilitas petrokimia di kawasan industri Mahshahr yang menewaskan lima orang, serta pusat minyak Iran di Pulau Kharg. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer AS, termasuk fasilitas petrokimia di Uni Emirat Arab, serta dua pembangkit listrik dan desalinasi air Kuwait. Konflik ini juga berdampak pada Lebanon, di mana pertempuran antara Israel dan Hizbullah menewaskan lebih dari 1.400 orang pada awal April.
“Gencatan senjata berarti jeda untuk membangun kembali kekuatan melancarkan serangan baru. Tidak ada pihak rasional yang akan menerima itu,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, Senin (6/4/2026).
Gencatan Senjata 8 April 2026: Mediasi Pakistan dan Pembukaan Selat Hormuz
Perkembangan dramatis terjadi menjelang tenggat waktu ultimatum Trump pada Selasa malam (7/4/2026) waktu AS. Trump sebelumnya mengancam melalui Truth Social akan menghancurkan seluruh peradaban Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Namun, kurang dari dua jam sebelum batas waktu berakhir, Trump mengumumkan penangguhan serangan selama 14 hari.
“Mereka meminta agar saya menahan penggunaan kekuatan destruktif yang akan dikerahkan malam ini ke Iran, serta dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman Selat Hormuz, saya setuju menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump di Truth Social, Rabu (8/4/2026).
Kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi intensif yang dimediasi Pakistan. Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir meminta Trump memperpanjang tenggat waktu dua pekan. Seluruh negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, mulai Jumat (10/4/2026).
Iran mengonfirmasi kesepakatan gencatan senjata perang Iran-AS ini melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan menyebutnya sebagai ‘kemenangan bagi Iran’. Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang menggantikan Ali Khamenei yang tewas, dilaporkan menyetujui kesepakatan tersebut. Selat Hormuz resmi dibuka dengan jalur aman yang dikoordinasikan bersama Angkatan Bersenjata Iran selama periode gencatan senjata berlangsung.
Proposal 10 Poin Iran sebagai Dasar Negosiasi Gencatan Senjata Perang Iran
Bersamaan dengan kesepakatan gencatan senjata, Iran menyampaikan 10 syarat sebagai dasar perundingan permanen. Trump menyatakan telah menerima proposal tersebut dan menilainya sebagai ‘dasar yang kuat untuk negosiasi’. Syarat utama yang disampaikan Iran meliputi: penghentian total perang di Irak, Lebanon, dan Yaman; penghentian permanen perang di Iran tanpa batas waktu; penghentian menyeluruh seluruh konflik di kawasan; serta jaminan dari AS untuk tidak melakukan agresi lebih lanjut.
Meski demikian, gencatan senjata ini belum berarti akhir dari perang. Dewan Keamanan Nasional Iran menegaskan bahwa jika tuntutan tidak terpenuhi, opsi militer tetap terbuka. Sebelumnya, pada 6 April, AS, Iran, dan sejumlah mediator regional juga membahas skema gencatan senjata 45 hari yang lebih panjang sebagai tahap awal menuju penghentian perang secara permanen.
Dampak Perang Iran terhadap Ekonomi Indonesia: dari Harga Minyak hingga Rupiah
Gencatan senjata perang Iran-AS memberi sedikit napas bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Harga minyak mentah dilaporkan anjlok hingga 16 persen sesaat setelah pengumuman Trump, sementara bursa saham Amerika melonjak tajam. Namun, tekanan ekonomi yang sudah menghantam Indonesia selama perang berlangsung tidak langsung lenyap.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia mencatat bahwa sejak memanasnya konflik pada 18 Februari, arus modal keluar dari pasar obligasi Indonesia mencapai US$0,41 miliar hingga 6 Maret 2026. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS pada 9 Maret, sebelum sedikit menguat. Di sektor riil, harga plastik di beberapa kota seperti Padang naik hingga 50 persen akibat terganggunya pasokan bahan baku petrokimia dari Timur Tengah.
APBN 2026 menggunakan asumsi harga minyak US$70 per barel. Dengan lonjakan harga yang sempat terjadi, Institut Studi Energi dan Sumber Daya (IESR) memperkirakan setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi memperlebar defisit anggaran hingga sekitar Rp6,8 triliun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mendorong perbankan melakukan asesmen risiko lanjutan dan stress test untuk mendeteksi titik rawan memasuki kuartal kedua 2026.
“Jika subsidi terus diberikan untuk meredam inflasi, APBN kita bisa kolaps karena sudah berada di defisit 3 persen,” kata Dion Maulana Prasetya, dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (10/3/2026).
Posisi Diplomatik Indonesia di Tengah Gencatan Senjata Perang Iran-AS
Pemerintah Indonesia menyatakan ‘penyesalan’ atas serangan AS dan Israel ke Iran, namun tidak melontarkan kecaman resmi. Presiden Prabowo Subianto sempat menawarkan diri untuk terbang ke Teheran guna memediasi konflik. Namun, keanggotaan Indonesia di Board of Peace yang digagas AS menjadi hambatan diplomatik tersendiri.
Peneliti UHAMKA dari Global Trust Intelligence (GTI) Emaridial Ulza mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi Indonesia bukan hanya tekanan ekonomi, melainkan kondisi ‘strategic invisibility trap’, yakni kondisi Indonesia yang tidak hadir dalam persepsi global sama sekali di tengah konflik besar ini. Indonesia menangguhkan keanggotaannya di Dewan Perdamaian sebagai respons atas tekanan domestik, meski berbagai pihak menilai langkah itu masih setengah hati.
Pengamat hubungan internasional Suzie Sudarman dari iNews memprediksi perang AS-Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 ini bisa selesai pada 30 April 2026, mengingat Kongres AS membatasi presiden berperang maksimal 60 hari tanpa persetujuan legislatif. Dengan gencatan senjata dua pekan yang berlaku mulai 8 April, negosiasi permanen di Islamabad akan menjadi penentu apakah perdamaian jangka panjang benar-benar bisa tercapai.
Apa Selanjutnya: Negosiasi di Islamabad dan Nasib Gencatan Senjata Perang Iran
Perhatian dunia kini tertuju pada meja perundingan di Islamabad yang akan dimulai Jumat (10/4/2026). Kedua belah pihak, AS dan Iran, sama-sama mengklaim gencatan senjata ini sebagai kemenangan masing-masing. Trump menyatakan Iran telah mengajukan proposal 10 poin yang masuk akal sebagai basis negosiasi permanen, sementara Iran menyebut AS telah ‘menyerah pada kehendak rakyat Iran’. Gencatan senjata perang Iran ini dapat diperpanjang dengan kesepakatan bersama jika negosiasi berjalan produktif.
PBB, Uni Eropa, dan puluhan negara termasuk Indonesia terus memantau perkembangan ini. Oman, yang sebelumnya memfasilitasi negosiasi nuklir Iran-AS, menyatakan kekecewaan atas meletusnya kekerasan meskipun jalur diplomasi sedang berlangsung. Kini, dengan Selat Hormuz yang kembali terbuka dan senjata yang untuk sementara terdiam, dunia menunggu apakah gencatan senjata perang Iran dua pekan ini bisa menjadi jembatan menuju perdamaian yang sesungguhnya, atau hanya jeda singkat sebelum badai kembali.




