Harga minyak dunia anjlok lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin (15/6/2026) dan menyentuh level terendah sejak Maret 2026, setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai yang membuka jalan bagi normalisasi lalu lintas energi di Selat Hormuz. Koreksi tajam ini menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang selama berpekan-pekan menopang harga minyak di level tinggi.
Brent Turun 4,1%, WTI Anjlok 4,72%
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent merosot US$3,58 atau 4,10 persen ke posisi US$83,75 per barel pada awal perdagangan Asia. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun lebih dalam, yakni 4,72 persen, ke level US$80,87 per barel dari penutupan Jumat di US$84,88 per barel.
Data Refinitiv hingga pukul 08.00 WIB menunjukkan minyak Brent berada di US$83,92 per barel. Penurunan ini memperpanjang koreksi tajam yang sudah berlangsung sejak awal Juni. Brent yang sempat diperdagangkan di level US$97,81 per barel pada 3 Juni kini telah kehilangan hampir 14 persen nilainya dalam waktu kurang dari dua pekan.
“Premi risiko geopolitik yang sebelumnya melambungkan harga minyak mentah kini terkoreksi secara agresif. Pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi pulihnya kembali aliran pasokan minyak global.”
– Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade
Selat Hormuz: Jalur Vital Seperlima Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling strategis bagi distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur ini setiap tahunnya. Penutupan paksa selat tersebut selama lebih dari tiga bulan akibat konflik bersenjata AS-Iran telah menyebabkan pasar global kehilangan jutaan barel pasokan energi.
Sebelum konflik meletus pada Februari 2026, harga minyak Brent berada di kisaran US$70 per barel. Ketegangan militer mendorong harga melonjak hingga US$120 per barel, yakni tertinggi dalam satu dekade, sebelum berangsur turun seiring sinyal perdamaian.
“Masih ada banyak ketidakpastian dalam proses negosiasi selama 60 hari ke depan, terutama terkait program nuklir Iran.”
– Analis Kontan, dalam ulasan harga minyak 15 Juni 2026
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia
Penurunan harga minyak dunia disambut positif oleh pasar saham Asia. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 5,2 persen dan Nikkei 225 Jepang menguat 3 persen, didorong oleh harapan biaya energi yang lebih rendah akan memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi sekaligus meredakan tekanan inflasi.
Di pasar obligasi AS, imbal hasil obligasi tenor dua tahun turun menjadi 4,02 persen. Pelaku pasar mulai mengurangi taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve. Kelompok E4 (Inggris, Prancis, Jerman, Italia) juga menyatakan kesiapan mencabut sanksi terhadap Iran.
Prospek Harga Minyak Setelah Pembukaan Selat Hormuz
Para analis memperkirakan harga minyak dapat kembali stabil di kisaran US$70-75 per barel jika kesepakatan damai AS-Iran berjalan sesuai rencana dan Selat Hormuz dibuka kembali dalam 30 hari ke depan. Namun, pemulihan kapasitas produksi minyak produsen kawasan dan proses pembersihan ranjau laut di selat tersebut tetap menjadi variabel kunci.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor energi, koreksi harga minyak dunia membuka peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi ke depan. Pertamina sebelumnya menaikkan harga Pertamax menjadi Rp17.000 per liter dan produk nonsubsidi lainnya pada 10 Juni 2026, mengacu pada rata-rata harga minyak bulanan yang masih tinggi.
Penandatanganan MoU damai AS-Iran secara resmi dijadwalkan pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss. Negosiasi selama 60 hari sesudahnya akan menentukan kelanjutan pembukaan Selat Hormuz dan arah harga minyak dunia dalam jangka menengah.
Baca juga: AS Iran Resmi Damai, Selat Hormuz Dibuka: Harga Minyak Anjlok 4%

