Menkeu Purbaya tegaskan rupiah lemah kali ini berbeda dengan krisis 1998, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi pelemahan rupiah saat ini tidak mengarah ke krisis seperti yang terjadi pada 1998, dan meminta masyarakat tidak panik menghadapi tekanan nilai tukar yang tengah berlangsung.
Rupiah Kembali Tertekan, Turun ke Rp 17.685 per Dolar
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada Selasa (19/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, kurs rupiah melemah 17 poin (0,10%) ke level Rp 17.685 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini melanjutkan tekanan hari sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 71 poin (0,4%) ke level Rp 17.668 per dolar AS pada Senin (18/5/2026).
Analis pasar mencatat bahwa rupiah ikut tertekan meski dolar AS secara global justru melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Penyebabnya antara lain penurunan harga minyak setelah Amerika Serikat menunda serangan ke Iran, serta kekhawatiran pasar terhadap kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS.
“Jelas itu, penurunan harga minyak, adalah pendorongnya pagi ini.” Lou Brien, ahli strategi pasar di DRW Trading, kepada CNBC International
Menkeu Purbaya: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau masyarakat dan investor agar tidak cemas terhadap koreksi nilai tukar rupiah maupun penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena fondasi ekonomi Indonesia dinilai masih kokoh.
“Indonesia tidak mengarah ke krisis 1998. Dasar-dasar ekonomi RI tetap kuat. Kami minta masyarakat untuk tidak panik.” Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Republik Indonesia
Purbaya menjelaskan sejumlah perbedaan mendasar antara kondisi saat ini dengan krisis moneter 1998. Saat itu, Indonesia mengalami kolaps perbankan masif, defisit neraca berjalan yang sangat dalam, serta cadangan devisa yang nyaris habis. Kondisi tersebut berbeda dengan situasi sekarang, di mana sistem perbankan masih dalam kondisi baik dan cadangan devisa berada pada level yang cukup.
Risiko PHK Akibat Pelemahan Rupiah Tetap Diantisipasi
Meski pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa kondisi makro masih terkendali, sejumlah ekonom mengingatkan potensi dampak lanjutan dari pelemahan rupiah terhadap dunia usaha. Lembaga penelitian Center of Economic and Law Studies (Celios) menyatakan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) harus diantisipasi, terutama di sektor yang bergantung pada bahan baku impor.
Efek pelemahan nilai tukar diperkirakan akan terasa pada sektor elektronik, industri otomotif, dan bahkan pertanian yang masih mengandalkan pupuk dan bahan kimia impor. Tekanan pada biaya produksi berpotensi mendorong perusahaan memangkas tenaga kerja apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Langkah Antisipasi Pemerintah
Selain pernyataan publik dari Menkeu Purbaya, Bank Indonesia (BI) juga telah menyiapkan berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar. BI dikabarkan aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga likuiditas rupiah. Pemerintah juga mendorong eksportir untuk merepatriasi devisa hasil ekspor guna menambah pasokan dolar di dalam negeri.
Kondisi rupiah dan IHSG akan terus dipantau ketat oleh otoritas fiskal dan moneter. Masyarakat diimbau tetap tenang dan menghindari pengambilan keputusan finansial yang terburu-buru berdasarkan sentimen jangka pendek.
Baca juga: 36 Negara Resmi Dukung untuk Adili Putin atas Kejahatan Agresi terhadap Ukraina

