Beritaenam.com – Dalam waktu kurang dari 24 jam, dua serangan terpisah menjadikan Lebanon sebagai tanah duka bagi Indonesia. Tiga prajurit TNI Gugur di Lebanon dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL), dan pertanyaan besar kini menggantung di ruang parlemen: apakah Indonesia harus menarik pasukannya?
| DATA & FAKTA TERVERIFIKASI, UPDATE 31 MARET 2026 | |
| Total gugur | 3 prajurit: Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya, Sertu Ikhwan |
| Total luka | 3 prajurit (1 luka berat, 2 luka ringan) |
| Insiden I, 29 Mar | Adchit al-Qusayr: artileri IDF hantam pos INDOBATT UNP 7-1, pukul 20.44 LT |
| Insiden II, 30 Mar | Bani Hayyan: ledakan saat escort konvoi CSSU Spanyol, pukul 11.00 LT |
| Satuan bertugas | Kontingen Garuda XXIII-S / Satgas Yonmek TNI INDOBATT-UNIFIL |
| Total personel RI | 1.090 prajurit TNI aktif di Lebanon per 31 Maret 2026 |
| Posisi DPR | Dave Laksono (Komisi I) desak evaluasi & penarikan pasukan |
| Posisi Pemerintah | Mengutuk keras, minta investigasi UNIFIL, terbuka kaji penarikan |
Minggu malam, 29 Maret 2026 pukul 20.44 waktu Lebanon, proyektil artileri menghantam pos INDOBATT UNP 7-1 di Desa Adchit al-Qusayr, Lebanon Selatan. Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, anggota Yonif 113/JS asal Kulon Progo, Yogyakarta, gugur di tempat. Tiga rekannya mengalami luka berat hingga ringan. Berdasarkan laporan resmi Kementerian Pertahanan RI yang dikonfirmasi melalui ANTARA News, proyektil artileri IDF menghantam langsung area pos pengamatan pasukan Indonesia.
Senin pagi, 30 Maret 2026 pukul 11.00 waktu Lebanon, ledakan dahsyat kembali mengguncang. Task Force Bravo INDOBATT sedang mengawal konvoi pasukan Spanyol di Bani Hayyan ketika kendaraan terdepan mereka dihantam proyektil. Kapten Infanteri Zulmi Aditya, lulusan Akmil 2015, perwira Kopassus Grup 2, dan Sertu Ikhwan dari Kesdam IX/Udayana, gugur. Seperti dilaporkan Kompas.com, keduanya tidak sempat dievakuasi karena intensitas serangan yang masih berlangsung di sekitar lokasi.
“Fungsi kita ini adalah untuk menjaga perdamaian. Tapi jelas di sana ini tidak terjadi perdamaian, justru terjadi pertempuran. Kalau begitu ya tidak bisa melaksanakan misi kita.”
, Dave Laksono, Wakil Ketua Komisi I DPR RI (Fraksi Golkar), Kompleks Parlemen, 30 Maret 2026
DPR Desak Tarik Pasukan: Dave Laksono Pimpin Tekanan ke Pemerintah
Suara paling keras datang dari Senayan. Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono langsung angkat bicara pada Senin (30/3) di kompleks parlemen Jakarta. Ia tidak sekadar menyatakan belasungkawa, ia mempertanyakan legitimasi kehadiran prajurit Indonesia di zona yang telah berubah menjadi medan perang aktif.
“Bilamana kondisinya ini memang tidak bisa dinyatakan aman, ada baiknya untuk pemerintah melakukan penarikan ataupun juga evaluasi terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon,” tegas Dave. Ia menegaskan bahwa misi UNIFIL, menjaga perdamaian, tidak bisa dijalankan ketika kedua belah pihak yang bertikai justru menembaki pos-pos pasukan damai.
Dave turut menyinggung langkah Italia, negara yang juga mengirim pasukan ke UNIFIL dan disebut telah menyatakan kesiapan menarik mundur personelnya. Komisi I DPR masih menunggu laporan resmi dari TNI dan mendesak investigasi mendalam: “Apakah keberadaan pasukan ini berguna untuk menjaga perdamaian atau justru malah menjadi target serangan Israel Defense Forces?”
Respons Pemerintah RI: Kutukan Keras, Investigasi, dan Pintu Terbuka
Sementara DPR bersuara keras, pemerintah bergerak lebih hati-hati. Kementerian Pertahanan RI, melalui Kepala Biro Informasi Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi korban jiwa dan menegaskan bahwa insiden terjadi di tengah saling serang artileri antara IDF dan Hizbullah.
Jubir Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang menyatakan: “Indonesia mengecam sangat keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan.” Berdasarkan laporan CNN Indonesia, Kemlu juga menyerukan semua pihak untuk menghentikan serangan, menghormati kedaulatan Lebanon, dan kembali ke dialog.
Menlu Sugiono, yang sedang mendampingi kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto di Tokyo, menjawab usulan penarikan dengan nada terbuka namun hati-hati: “Tentu saja kalaupun ada langkah-langkah ke arah sana pasti akan dibicarakan lebih lanjut.” Sugiono menegaskan Indonesia memberikan penghormatan tertinggi kepada prajurit yang gugur: “Mereka telah memberikan yang terbaik tidak hanya bagi nama harum bangsa, tetapi juga menjalankan misi kemanusiaan yang sangat penting bagi perdamaian.”
“Indonesia mengecam sangat keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan atas peristiwa tersebut.”
, Yvonne Mewengkang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, 30 Maret 2026
Analisis: Di Persimpangan Komitmen Perdamaian dan Keselamatan Prajurit
Indonesia memiliki tradisi panjang dan membanggakan dalam misi perdamaian PBB. Kontingen Garuda hadir di Lebanon hampir lima dekade, sejak 1978, menjadikan Indonesia salah satu kontributor terbesar UNIFIL. Namun rekam jejak panjang itu kini berhadapan dengan kenyataan pahit: zona penugasan telah berubah dari penyangga perdamaian menjadi medan tempur aktif.
UNIFIL sendiri telah menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional dan Resolusi DK PBB 1701, yang “dapat dianggap sebagai kejahatan perang.” Namun hingga kini, tekanan internasional terhadap Israel atas insiden tersebut belum menghasilkan perubahan perilaku di lapangan.
Bagi Indonesia, dilema ini memiliki dua sisi tajam: menarik pasukan berarti meninggalkan komitmen terhadap piagam perdamaian PBB yang menjadi fondasi politik luar negeri Indonesia sejak era Soekarno. Namun mempertahankan pasukan di zona berbahaya tanpa jaminan keamanan adalah taruhan nyawa yang tidak bisa dianggap enteng.
Sementara para pemimpin berdebat di Jakarta, 1.090 prajurit Indonesia masih berdiri di antara puing-puing perdamaian yang rapuh di Lebanon Selatan, menunggu keputusan yang akan menentukan nasib mereka.
Baca juga: UPDATE PERANG IRAN MARET 2026: Perkembangan Perang Iran vs AS & Israel





