Site icon Beritaenam.com

Rupiah Menguat ke Rp17.700 per Dolar AS pada Senin Pagi 25 Mei 2026

rupiah menguat tipis

Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat ke level Rp17.700 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (25/5/2026), didorong oleh melandainya indeks dolar dan harapan pemulihan situasi geopolitik di Timur Tengah.

Rupiah Dibuka Positif, Dolar AS Melemah

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah menguat sebesar 17 poin atau sekitar 0,10 persen ke posisi Rp17.700 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,24 persen ke level 99,009.

Posisi ini mencerminkan apresiasi dibandingkan penutupan Jumat (22/5/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,18 persen ke level Rp17.716 per dolar AS. Sebelumnya pada Jumat pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup menguat 67,1 poin atau 1,1 persen menuju level 6.162.

“Penguatan terbatas rupiah pagi ini utamanya disokong oleh harapan baru terkait pemulihan stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang memicu koreksi pada harga minyak mentah dunia.”
– Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures

Kurs di Bank-bank Besar Nasional

Sejumlah bank besar nasional telah menyesuaikan kurs jual beli dolar AS pagi ini. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada pukul 09.14 WIB mematok harga beli e-rate Rp17.724 dan harga jual Rp17.744. Untuk TT counter dan bank notes, BCA menetapkan harga beli Rp17.525 dan harga jual Rp17.775.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada pukul 09.17 WIB mematok special rate dengan harga beli Rp17.695 dan harga jual Rp17.725. Proyeksi pergerakan kurs harian diperkirakan bergulir pada kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Faktor Penopang dan Risiko

Analis Lukman Leong dari Doo Financial Futures menjelaskan bahwa sentimen positif dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebutkan proses perundingan dan diplomasi dengan pihak Iran tengah berlangsung. Kondisi ini secara langsung menekan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan kepercayaan investor.

Meski demikian, rupiah dinilai masih memiliki risiko pembalikan arah menjelang penutupan pasar. Pada akhir pekan lalu, rupiah tertekan akibat pelaku pasar merespons memburuknya data neraca transaksi berjalan Indonesia yang tercatat lebih besar dari perkiraan pasar. Pembengkakan defisit neraca transaksi berjalan dan menurunnya kepercayaan investor asing menjadi faktor tekanan yang belum sepenuhnya hilang.

Penguatan Seirama dengan Mata Uang Asia

Penguatan rupiah terjadi seirama dengan tren yang dialami sebagian besar mata uang regional di kawasan Asia. Beberapa mata uang yang juga menguat terhadap dolar AS di antaranya yuan China sebesar 0,11 persen, dolar Taiwan 0,19 persen, dan rupee India 0,28 persen.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai langkah untuk memperkuat pertahanan nilai tukar. BI juga menyiapkan lima strategi menghadapi tantangan ekonomi, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,9 hingga 5,7 persen pada 2026.

Baca juga: Prabowo Tetapkan Target Rupiah di 16.800 hingga 17.500 per Dolar AS dalam Pidato KEM-PPKF di DPR

Exit mobile version