Presiden Amerika Serikat Donald Trump tinggalkan Turki secara diam-diam menggunakan pesawat militer pada Juli lalu, di tengah dugaan ancaman pembunuhan dari Iran terhadap dirinya.
Laporan Ungkap Cara Trump Tinggalkan Turki
Informasi tersebut dilaporkan media Amerika Serikat, The Washington Post, pada Senin, 10 Agustus 2026. Laporan itu mengutip seorang pejabat AS dan sejumlah sumber yang mengetahui operasi tersebut.
Menurut laporan, Trump awalnya terlihat menaiki pesawat kepresidenan Air Force One versi lama di hadapan kamera televisi di Ankara. Namun, beberapa menit kemudian ia dipindahkan secara diam-diam ke pesawat Air Force C-32A yang berukuran lebih kecil. Berita internasional lain di kanal Internasional BeritaEnam.
Pemindahan tersebut dilakukan menggunakan truk katering bandara di Bandara Esenboga, Ankara. Manuver itu disebut dirancang untuk menyembunyikan keberadaan presiden dari publik, wartawan, dan sejumlah staf Gedung Putih.
Pada saat yang sama, Gedung Putih secara terbuka menyatakan bahwa Trump berada di dalam Air Force One. Pesawat kepresidenan tersebut dilaporkan dijadikan pengalih perhatian dalam operasi itu.
Konteks Ancaman Iran dan KTT NATO
Trump berada di Ankara pada 7 hingga 8 Juli 2026 untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi NATO bersama para pemimpin dunia lainnya. Dugaan ancaman terhadap keselamatan presiden disebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengaturan perjalanannya.
Operasi keamanan tersebut berlangsung sehari setelah pasukan Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan itu terjadi menyusul kegagalan negosiasi antara Washington dan Teheran.
Laporan menyebut ancaman pembunuhan tersebut berasal dari jaringan proksi Iran. Manuver pengamanan berlapis kemudian diterapkan sepanjang perjalanan Trump meninggalkan Turki menuju Inggris.
Respons Gedung Putih
Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, membela langkah pengamanan tersebut. Ia menegaskan keselamatan presiden merupakan prioritas utama pemerintah. Info kawasan tersedia di Reuters World.
“Berbagai protokol keamanan digunakan untuk menghadapi ancaman.” — Steven Cheung, Direktur Komunikasi Gedung Putih
Cheung menyinggung pesawat yang merupakan pemberian dari Qatar dan kini digunakan dalam armada kepresidenan. Gedung Putih menyatakan seluruh sarana yang tersedia akan dipakai untuk melindungi keselamatan presiden. Hingga laporan tersebut beredar, Gedung Putih belum mengungkap secara rinci alasan operasional di balik perpindahan pesawat itu.
“Pola perjalanan tersebut mencakup penggunaan pesawat kepresidenan lama, perpindahan melalui kendaraan katering, hingga penggunaan pesawat C-32A.” — Sumber Gedung Putih
Rangkaian Perjalanan Setelah Meninggalkan Ankara
Setelah Trump tinggalkan Turki, perjalanannya dilanjutkan menuju Inggris menggunakan pesawat C-32A. Sesampainya di sana, ia dilaporkan kembali menaiki pesawat yang merupakan pemberian dari Qatar.
Rombongan wartawan kepresidenan disebut tidak menyadari bahwa mereka tidak berada dalam satu pesawat dengan presiden. Kondisi itu memperlihatkan ketatnya kerahasiaan operasi pengamanan yang dijalankan.
Seluruh perubahan pesawat tersebut berlangsung dalam satu rangkaian perjalanan yang relatif singkat. Pola perjalanan yang tidak biasa itu kemudian menjadi sorotan setelah laporan media beredar.
KTT NATO dan Ketegangan AS-Iran
KTT NATO di Ankara dihadiri para pemimpin negara anggota aliansi pertahanan tersebut. Pertemuan berlangsung di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan titik temu.
Sebelum Trump tinggalkan Turki, ia lebih dulu tampil di hadapan kamera televisi menaiki pesawat kepresidenan. Momen tersebut disiarkan seperti prosedur keberangkatan kepala negara pada umumnya.
Pesawat C-32A yang digunakan berukuran lebih kecil dibanding pesawat kepresidenan utama. Jenis pesawat tersebut kerap dipakai untuk perjalanan pejabat tinggi Amerika Serikat dalam kondisi tertentu.
Kerahasiaan Operasi Pengelabuan
Laporan media menyebut manuver itu turut menyembunyikan keberadaan presiden dari sebagian staf Gedung Putih sendiri. Hanya kalangan terbatas yang mengetahui rencana perpindahan tersebut.
Peristiwa Trump tinggalkan Turki dengan cara tidak biasa itu baru terungkap sekitar sebulan setelah kejadian. Publik mengetahuinya setelah laporan media Amerika Serikat diterbitkan pada awal Agustus 2026.
Situasi Timur Tengah dan Sorotan Publik
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut memengaruhi situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Sejumlah jalur strategis di kawasan tersebut menjadi perhatian dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah laporan menyebut operasi pengelabuan semacam ini dipicu adanya ancaman yang dinilai kredibel terhadap keselamatan presiden. Gedung Putih tidak merinci sumber maupun bentuk ancaman tersebut.
Kabar mengenai cara Trump tinggalkan Turki muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut turut menjadi perhatian publik internasional.







