Beritaenam.com – Israel langgar gencatan senjata AS-Iran hanya sehari setelah kesepakatan itu ditandatangani, dengan melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 warga sipil. Serangan itu memicu kecaman internasional dan ancaman Iran untuk menarik diri dari perjanjian damai yang baru saja tercapai.
Israel Langgar Gencatan Senjata: 100 Target Dihantam dalam 10 Menit
Hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran pada Selasa malam (7/4/2026), militer Israel langsung menggelar operasi militer terbesar yang pernah dilancarkan di Lebanon. Dalam waktu tidak lebih dari 10 menit, lebih dari 100 target dihantam menggunakan 50 jet tempur, menjadikan serangan ini sebagai gelombang pemboman paling intens sejak konflik di kawasan itu dimulai.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan bahwa serangan itu menyasar Beirut, Lembah Bekaa, Gunung Lebanon, Sidon, serta sejumlah desa di Lebanon selatan. Kawasan padat penduduk di pusat kota Beirut, yang kini menampung puluhan ribu pengungsi dari serangan sebelumnya, kembali dihantam tanpa peringatan. Kepulan asap hitam membubung tinggi di atas ibu kota, memicu kepanikan dan pelarian massal warga yang putus asa.
“Pelanggaran gencatan senjata telah dilaporkan di beberapa tempat di zona konflik yang merusak semangat proses perdamaian,” kata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui akun X-nya, seraya mendesak semua pihak menahan diri.
Israel Langgar Janji: Netanyahu Klaim Lebanon di Luar Kesepakatan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran tidak mencakup Lebanon. Menurutnya, konflik Israel dengan Hizbullah berdiri sendiri dan tidak terikat dalam perjanjian yang dimediasi Pakistan tersebut. Klaim ini langsung didukung oleh Trump yang menyebut konflik Israel dengan Hizbullah sebagai hal terpisah dari perjanjian AS-Iran, serta Wakil Presiden AS JD Vance yang menyatakan Iran keliru memahami cakupan kesepakatan.
Namun, posisi Israel dan AS berbeda tajam dengan klaim Pakistan selaku mediator. Sharif menegaskan gencatan senjata seharusnya berlaku di semua wilayah, termasuk Lebanon. Iran pun berpandangan serupa. Perbedaan tafsir yang mendasar ini menjadi celah yang langsung dimanfaatkan Israel untuk terus melancarkan serangan tanpa merasa melanggar ketentuan apapun.
Israel Langgar Gencatan Senjata, Iran Ancam Mundur dari Perjanjian
Merespons pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, Iran langsung bersikap keras. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengangkat isu ini dalam komunikasi langsung dengan pimpinan militer Pakistan Field Marshal Asim Munir. Kantor berita semi-resmi Tasnim mengutip sumber bahwa Tehran mempertimbangkan langkah serius, termasuk menarik diri dari perjanjian jika serangan ke Lebanon tidak dihentikan.
Garda Revolusi Iran (IRGC) lebih jauh bersumpah akan membalas atas segala kekejaman Israel di Lebanon. Situasi semakin panas ketika Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel, padahal pembukaan selat itu merupakan salah satu poin utama dalam kesepakatan gencatan senjata. Gedung Putih langsung bereaksi, menuntut selat segera dibuka dan berupaya menjaga agar pembicaraan damai yang dijadwalkan di Islamabad pada Jumat (10/4/2026) tidak buyar.
“Iran akan menarik diri dari perjanjian jika pelanggaran gencatan senjata oleh rezim Zionis terus berlanjut melalui serangan terhadap Lebanon,” kata sumber senior Iran kepada kantor berita Tasnim.
Korban Sipil dan Krisis Kemanusiaan yang Semakin Parah
Konflik di Lebanon telah mencapai skala kemanusiaan yang mengkhawatirkan. Sejak Israel memperluas operasi militernya ke Lebanon pada 2 Maret 2026, lebih dari 1.739 orang telah tewas dan lebih dari satu juta warga sipil terpaksa mengungsi. Serangan besar pada 8 April 2026 seorang diri menewaskan 254 orang dan melukai 1.165 lainnya, menjadikannya hari paling berdarah dalam konflik ini.
Di antara korban tewas tercatat dua jurnalis, yaitu Suzanne Khalil dari Al-Manar TV dan Ghada Dayekh dari stasiun radio lokal Sawt Al-Farah. Infrastruktur sipil, termasuk Universitas Negeri Lebanon, juga menjadi sasaran serangan. Kepala serikat dokter Lebanon, Elias Chlela, meminta seluruh dokter dari berbagai spesialisasi segera menuju rumah sakit terdekat untuk menangani ledakan jumlah korban yang datang bergelombang.
Perundingan Islamabad di Ujung Tanduk
Meski api perang masih membara, Pakistan tetap bersikeras menyelenggarakan perundingan lanjutan di Islamabad. Delegasi AS dan Iran dijadwalkan tiba pada Jumat (10/4/2026). Namun, prospek keberhasilan perundingan tersebut sangat suram. Ketua parlemen Iran Mohammed Bager Qalibaf menyatakan AS telah melanggar tiga dari sepuluh syarat yang ditetapkan Teheran. Ia juga menuding Israel telah melanggar sejumlah ketentuan gencatan senjata dengan meningkatkan serangan terhadap Hizbullah.
Perbedaan tajam juga muncul soal program nuklir Iran. Trump mengklaim Iran telah setuju menghentikan pengayaan uranium, sementara Qalibaf menyatakan Iran tetap diperbolehkan melanjutkan pengayaan berdasarkan ketentuan gencatan senjata. Dua narasi yang saling bertentangan ini menunjukkan betapa rapuhnya fondasi kesepakatan damai yang baru saja dicapai.
Di tengah semua itu, warga di Teheran yang sempat merayakan gencatan senjata dengan turun ke jalan kini hidup dalam kegelisahan. Pelanggaran gencatan senjata oleh Israel telah mengirimkan pesan keras bahwa jalan menuju perdamaian sejati di Timur Tengah masih panjang dan penuh rintangan. Pertanyaan besarnya kini adalah: apakah perundingan di Islamabad masih bisa menghasilkan sesuatu yang berarti sebelum seluruh kawasan kembali terjungkal ke dalam jurang perang terbuka?






