Jumlah korban kecelakaan kereta api Bekasi Timur akibat tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam terus bertambah. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan jumlah korban jiwa kini mencapai 16 orang, dengan 2 di antaranya masih berjuang dalam kondisi kritis di ICU.
Daftar Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
Korban di Rumah Sakit Polri Kramat Jati
- Tutik Anitasari
- Harum Anjasari
- Nur Alimantun Citra Lestari
- Farida Utami
- Vica Acnia Pratiwi
- Ida Nuraida
- Gita Septia Wardany
- Fatmawati Rahmayani
- Arinjani Novita Sari
- Nur Ainia Eka Rahmadhyna
Korban di RSUD Kota Bekasi
- Nuryati
- Nur Laela
- Engar Retno Krisjayanti
- Mia Citra
Korban di Rumah Sakit Mitra Bekasi
- Adelia Rifani
Korban di Rumah Sakit Bella Bekasi
- Ristuti Kustirahayu
“Pasiennya kalau secara umum sudah membaik, tinggal yang di ICU tiga orang. Dan yang satu sudah meninggal, tinggal dua orang lagi, tapi mudah-mudahan bisa sembuh.” – Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, usai menjenguk korban di RSUD Kota Bekasi, Rabu (29/4/2026)
Seluruh 16 korban meninggal dunia merupakan penumpang perempuan yang berada di gerbong khusus wanita, yang pada saat kejadian berada di posisi paling belakang rangkaian KRL PLB 5568. Kronologi insiden bermula saat KRL relasi Bekasi-Cikarang bertabrakan dengan mobil di perlintasan sebidang JPL 85, memaksa rangkaian berhenti darurat. KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) yang melaju di belakangnya tidak sempat berhenti dan menghantam KRL yang berhenti tersebut.
Menteri PPPA Minta Maaf, Dikecam Dinilai Tidak Sensitif
Di tengah duka nasional, pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi justru memicu kontroversi. Saat menjenguk korban di RSUD Bekasi pada Selasa (28/4), ia mengusulkan agar gerbong khusus wanita dipindahkan ke bagian tengah rangkaian, dengan alasan posisi ujung memiliki risiko lebih tinggi saat terjadi tabrakan.
“Kalau bisa yang perempuan jangan di depan dan belakang. Jadi yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah.” – Arifah Fauzi, Menteri PPPA, saat menjenguk korban di RSUD dr. Chasbullah, Bekasi, Selasa (28/4/2026)
Usulan itu langsung menuai kecaman luas dari masyarakat karena dinilai tidak menyentuh akar masalah keselamatan dan tidak peka terhadap situasi duka. Anggota DPR bahkan secara terbuka mengkritik bahwa memindahkan gerbong wanita tidak akan mengurangi risiko tabrakan.
Merespons gelombang kecaman tersebut, Arifah akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi melalui unggahan video di akun Instagram KemenPPPA pada Rabu (29/4/2026).
“Terkait pernyataan saya pasca insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti.” – Arifah Fauzi, Menteri PPPA, dalam pernyataan resmi, Rabu (29/4/2026)
Arifah menegaskan bahwa keselamatan seluruh masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki, adalah prioritas nomor satu, dan Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis bagi anak-anak dan keluarga korban yang mengalami trauma.
Baca juga: Kronologi Kecelakaan KRL di Bekasi Timur: Diawali Taksi Hijau Mogok di Jalur Kereta



