Kondisi karhutla Kalimantan kembali meluas. BMKG mendeteksi 469 titik api di lima provinsi pada 21 Agustus 2026. Kabut asap mengganggu aktivitas sekolah, lalu lintas jalan, dan penerbangan.
Titik panas tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. BNPB sebelumnya mencatat 1.487 titik panas pada 19 Agustus 2026.
Sebaran Titik Api Karhutla Kalimantan di Lima Provinsi
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi menurut data BNPB. BPBPK Kalimantan Tengah melaporkan 1.543 kejadian dengan luas terbakar 4.115 hektare hingga 19 Agustus 2026. Berita nasional lain di kanal Nasional BeritaEnam.
Luas lahan terbakar akibat karhutla Kalimantan paling besar berada di Kalimantan Barat. BNPB mencatat angkanya sekitar 28.680,47 hektare hingga 9 Agustus 2026.
Kabupaten Kotawaringin Barat memperpanjang status tanggap darurat hingga 4 September 2026. Di kabupaten itu tercatat 859,49 hektare lahan terbakar dari 189 kejadian.
Pemerintah Kota Pontianak juga menetapkan status darurat setelah dampak asap mulai dirasakan warga. Salah satu indikatornya adalah kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut sekitar 5 persen.
Dampak Kabut Asap pada Sekolah dan Kesehatan Warga
Kabut asap menurunkan jarak pandang hingga sekitar dua meter di jalur Banjarbaru-Pelaihari pada 20 Agustus 2026. Kondisi tersebut memicu tiga kecelakaan lalu lintas.
Sejumlah sekolah di Banjarbaru mengundur jam masuk dan menerapkan pembelajaran dari rumah. UIN Antasari menghentikan kegiatan PBAK di Kampus 2 Banjarbaru karena asap pekat di sekitar kampus.
Sebanyak 3.524 sekolah di Kalimantan dilaporkan menerapkan pembelajaran jarak jauh per 23 Agustus 2026. Di Kalimantan Tengah, 2.052 warga tercatat mengalami ISPA dalam satu pekan.
Palangka Raya melaporkan 12.394 kasus ISPA sepanjang periode kabut asap. Dinas kesehatan setempat masih memperbarui data karena laporan warga terus bertambah.
Penyebab Karhutla Kalimantan Menurut BMKG
BMKG menyebut iklim kering akibat El Nino sebagai salah satu pemicu meluasnya karhutla Kalimantan. Lahan yang kering membuat api cepat menjalar dan menghasilkan asap dalam volume besar. Data resmi tersedia di laman resmi BMKG.
“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan dibakar dan banyak asap.” — Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG
Pemantauan BMKG pada dasarian I Agustus 2026 menunjukkan indeks IOD sebesar +0,457. Nilai SSTA di region Nino3.4 tercatat +2,77 yang menandakan El Nino berintensitas sangat kuat.
Kementerian Kehutanan mencatat perkembangan hotspot yang dinamis pada 17-19 Agustus 2026. Pada 17 Agustus pukul 07.00 WIB terdapat 93 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat.
Operasi Terpadu dan Gangguan Penerbangan
Pemerintah memperkuat operasi terpadu pengendalian karhutla Kalimantan pada 20 Agustus 2026. Operasi melibatkan Kementerian Kehutanan, BNPB, BMKG, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api.
BMKG mencatat jarak pandang di Bandara Supadio sekitar 4 kilometer dalam kondisi berasap pada pukul 10.00 WIB. Jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, tercatat sekitar 6 kilometer.
Laporan pada 20 Agustus 2026 menyebut sejumlah penerbangan di Kalimantan terganggu akibat jarak pandang yang menurun. Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.
“Setiap titik api harus diketahui siapa yang bertanggung jawab.” — Puan Maharani, Ketua DPR RI
Penegakan Hukum terhadap Pelaku Pembakaran
Polri menangani 89 laporan dugaan kebakaran hutan dan lahan sejak Januari hingga 21 Agustus 2026. Penyidik menetapkan 72 tersangka perorangan dengan total luas lahan terbakar 1.006,67 hektare.
Perkara tersebut tersebar di sembilan kepolisian daerah. Wilayah itu antara lain Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Tengah.
Penyidik menyita barang bukti berupa korek api dan bahan yang diduga dipakai membakar lahan. Kalimantan Selatan menetapkan tiga tersangka karhutla pada 22 Agustus 2026.
Kondisi karhutla Kalimantan masih berstatus dinamis karena sebaran hotspot berubah setiap hari. Pemerintah pusat dan daerah melanjutkan pemadaman darat, patroli udara, serta operasi modifikasi cuaca di wilayah terdampak.








