Catatan Musik: Bisnis Musik, Nggak Instan, Juga Bukan Hits & Run!

335

Beritaenam.com, Jakarta – Diskusi akhir tahun di Papa Ron Pizza TVRI pusat, sabtu (15/12), membahas soal musik di era digital. Saya sebagai salah satu pembicara, dikasih tema pembahasan soal peluang penyanyi pendatang baru di era digital.

Temanya seksi. Pertanyaan sederhana, gimana tips penyanyi pendatang baru bisa eksis? Peluangnya lebih terbuka luas. Era digital, memungkinkan setiap orang bisa jadi penyanyi. Tentu butuh proses, dan proses-proses itu bisa dilalui dengan banyak cara.

Cara yang katanya instan, adalah lewat media digital. Banyak penyanyi membangun eksistensi lewat media digital.

Ada instagram, tweeter, facebook, atau youtube. Makanya ada dikenal seleb gram, facebooker, atau youtuber. Saya banyak direferensi ambil penyanyi yang sudah eksis di social media. Di youtube, misalnya.

Contoh Maulana Ardiansyah, atau dikenal dengan nama Lana, saya kenal dia lewat youtube dengan lagunya ‘Ayah.’

Mantan penyanyi cilik ini sekarang sudah beranjak dewasa, dan saya arahkan membangun eksistensi lewat jaringan komunitas sosmed.

Memang dia jarang muncul di layar televisi konvensional, tapi di sosmed dia sudah heboh, sekali posting lagu, puluhan ribu orang langsung merespon dalam hitungan hari, dan jutaan orang melihat dan mendengar lagunya di cannel youtube. Jadwalnya padat, dan sering ngisi acara yang digagas komunitasnya secara swadaya.

Contoh lain ada Dian Sorowea, dari tanah Meumere, Nusa Tenggara Timur, yg baru-baru ini dikenal lewat lagu Karena Su Sayang. Ada sejumlah pedangdut Jawa Timur yang eksis di panggung, macam Jihan Audy, Nella Kharisma, Via Vallen, yang populer lewat cannel youtube. Dan masih banyak lagi.

Sosmed, begitu luar biasa pengaruhnya dalam tata kelola industri musik. Sosmed bukan sekedar media promo, tapi juga sudah menjadi lahan bisnis secara corporasi maupun personal.

Banyak penyanyi youtuber, yang sudah asyik menikmati bisnisnya, tanpa perlu label perusahaan musik yang menaunginya. Artinya, mereka sudah cukup dengan tata kelola bermusik secara indie.

Mereka menciptakan lagu, diaransemen dan dibawakan sendiri. Lalu mereka apload di cannel youtube. Dari cannel youtube mereka mendapatkan income.

Sosmed memungkinkan setiap orang bisa eksis. Sama halnya penyanyi, memulai membangun eksistensi dari sosmed. Mengelola dan memperluas jaringan follower. Penyanyi yang berada di bawah label perusahaan saya, rata-rata aktif di sosmed.

Ingin jadi penyanyi? Banyak caranya.

Kalau dulu lewat ajang pencarian bakat, dan sekarang juga masih ada. Sosmed, menjadi alternatif. Mereka tiba-tiba dikenal dan viral. Tapi kalau nggak bisa mengelola dengan baik, cepet dikenal, cepet dilupakan!

Akhirnya kembali ke diri kita. Gimana kita memasuki era digital ini sebagai sarana membangun peradaban bisnis musik dengan pijakan kreatifitas dan profesionalisme. Bisnis itu nggak instan, bisnis juga bukan sekedar hits & run!