IHSG melesat 3,36 persen ke level 6.209,76 pada pembukaan perdagangan Senin (15/6/2026), merespons positif kesepakatan damai AS-Iran yang diumumkan Presiden Donald Trump. Kenaikan ini menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks dengan penguatan terbesar di Asia pada hari ini.
Seluruh Sektor Hijau, Industri Dasar Pimpin Kenaikan
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat 202,10 poin ke posisi 6.209,76 pada pembukaan sesi I. Menurut data IDX Mobile pukul 09.10 WIB, penguatan lebih lanjut mendorong IHSG ke level 6.221,44, atau naik 3,5 persen. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp3,61 triliun dengan volume perdagangan 5,81 miliar saham.
Sektor industri dasar atau Basic Industry menjadi pemimpin kenaikan dengan penguatan sangat signifikan sebesar 6,33 persen. Sektor lain yang juga mencatatkan kinerja positif di antaranya transportasi yang naik 3,50 persen, sektor industri naik 3,47 persen, serta infrastruktur yang tumbuh 3,41 persen.
“IHSG diprediksi akan melanjutkan penguatannya dengan kisaran support 5.900-5.790 dan resist 6.115-6.225.”
– CGS International Sekuritas Indonesia, dalam ulasan pasar Senin (15/6/2026)
Asing Beli Bersih Rp287,77 Miliar
Aktivitas investor asing terpantau mencatatkan pembelian bersih atau net foreign buy sebesar Rp287,77 miliar di seluruh pasar. Hal ini mengindikasikan aliran modal masuk dari investor mancanegara ke pasar saham domestik. Emiten yang paling ramai ditransaksikan meliputi BBCA, BBRI, BMRI, TPIA, dan BUMI.
Kenaikan IHSG melesat ini didorong oleh rebound saham-saham blue chip berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan yang sejak awal tahun kinerjanya masih tertekan. Saham-saham konglomerat dari Grup Salim, Sinarmas, dan Barito turut menopang kenaikan indeks.
“Sentimen positif dari pasar global mulai meningkat setelah munculnya kabar terkait kesepakatan damai awal antara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan tersebut turut mendorong penurunan harga minyak dunia.”
– Phintraco Sekuritas, dalam riset mingguan edisi 15 Juni 2026
Bursa Asia Ikut Melesat, Rupiah Menguat
Penguatan IHSG melesat ini sejalan dengan reli bursa saham Asia. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak hingga 5,2 persen, sementara Nikkei 225 Jepang menguat 3 persen. Indeks Topix yang mencakup pasar lebih luas di Tokyo juga menguat 2,3 persen, didorong oleh kenaikan saham sektor elektronik dan perbankan.
Nilai tukar rupiah juga terpantau menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Penguatan rupiah dan IHSG melesat bersamaan menjadi sinyal positif setelah berpekan-pekan tertekan oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Analis: Waspadai Aksi Ambil Untung
Meski IHSG melesat kuat, sejumlah analis mengingatkan investor agar tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung atau profit taking sepanjang sesi perdagangan. MNC Sekuritas dalam analisis hariannya memperkirakan posisi IHSG saat ini merupakan bagian dari gelombang ketiga penguatan.
Phintraco Sekuritas menambahkan, perhatian investor domestik pekan ini juga akan tertuju pada hasil Global Market Accessibility Review MSCI dan rebalancing indeks FTSE yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026. Kedua agenda itu berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG lebih lanjut.
Sebagai catatan, IHSG sebelumnya sempat terpuruk ke level 5.941 pada awal Juni 2026 akibat tekanan konflik AS-Iran dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Penguatan hari ini menjadi sinyal pemulihan setelah penurunan lebih dari 30 persen dari rekor tertinggi sepanjang tahun 2026.
Baca juga: Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026








